Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Minggu, 03 Juli 2016

Ki-lo-gram ataukah ki-log-ram?




Pertanyaan di atas berkaitan dengan kaidah ejaan tentang pemenggalan kata yang dinyatakan dengan tanda hubung di antara suku kata yang dipenggal. Jika ada dua konsonan yang berurutan di lengah kata, pemenggalannya dilakukan setelah konsonan pertama. Misalnya, April dipenggal menjadi Ap-ril, janji menjadi jan-ji, dan runding menjadi run-ding. Jika di tengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih, pemenggalannya juga dilakukan setelah konsonan yang pertama. 

Contohnya,  
instansi dipenggal menjadi in-stan-si 
instruksi menjadi in-struk-si

Pemenggalan kata yang mengandung bentuk trans- dilakukan dengan memperhatikan ketentuan berikut.

a. Jika trans- diikuti bentuk bebas, pemenggalannya dilakukan dengan memisahkan trans- sebagai bentuk utuh dan bagian lainnya dipenggal sebagai kata dasar, 


misalnya 
transmigrasi dipenggal menjadi trans-mig-ra-si
transfusi menjadi trans-fu-si
transaksi menjadi trans-ak-si

b. Jika trans- merupakan bagian dari kata dasar, pemenggalannya dilakukan dengan mengikuti pola pemenggalan kata dasar. 


Misalnya,  
transenden dipenggal menjadi tran-sen-den,  
transisi menjadi tran-si-si
transit menjadi tran-sit

Pemenggalan kata yang mengandung bentuk eks- dilakukan sebagai berikut.

a. Jika eks- terdapat pada kata yang pemakaiannya dapat disejajarkan dengan in- atau im-, pemenggalannya dilakukan di antara eks- dan unsur berikutnya.

Contoh:
ekstra dipenggal menjadi eks-tra
ekspor dipenggal menjadi eks-por
eksplisit dipenggal menjadi eks-pli-sit
ekstenal dipenggal menjadi eks-ter-nal
eksklusif dipenggal menjadi eks-klu-sif

b. Bentuk eks- yang tidak dapat disejajarkan dengan in- atau im-, pemenggalannya dilakukan di antara ek- dan bagian kata yang mungikutinya. 


Misalnya:
ekses dipenggal menjadi ek-ses
ekstrem menjadi ek-strem
eksistensi menjadi ek-sis-ten-si

Kata-kata lain yang terdiri atas dua unsur atau lebih yang salah satu unsurnya dapat bergabung dengan unsur lain pemenggalannya juga melalui dua tahap. Mula-mula unsur itu dipisahkan, kemudian dipenggal dengan mengikuti pola pemenggalan kata dasar.
 

Contohnya:
kilogram dipenggal menjadi kilo dan gram, kemudian kilo-gram
biografi dipenggal menjadi bio dan grafi, kemudian bi-o-gra-fi
biologi dipenggal menjadi bio dan logi, kemudian bi-o-lo-gi 



Baca juga:
Apa pula yang dimaksud dengan kata jihad?
Apa yang dimaksud dengan kata aktivis?
Manakah yang benar kotip atau kotif?
Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?
Bagaimanakah penggunaan kata siang, malam, pagi, dan sore dalam sapaan?
Bagaimanakah pemakaian ini, itu dan begini, begitu?
Penulisan Artikel "pun"
Angka dan Lambang
Singkatan dan Akronim
Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Kata Ulang dan Gabungan Kata
Penulisan Kata Turunan


Apa pula yang dimaksud dengan kata jihad?


Kata jihad berasal dari bahasa Arab, yaitu aljihad, yang berarti 'perjuangan'. Dalam bahasa indonesia. kata, jihad digunakan dengan pengertian sebagai berikut.

Jihad ialah usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kebaikan manusia secara keseluruhan. Contoh kalimat yang menggunakan kata jihad dengan makna seperti itu adalah sebagai berikut.

(1) Kita berjihad melawan kemiskinan.
(2) Demi ketenteraman batin Anda, berjihadlah melawan hawa nafsu.

Makna jihad yang lain ialah perjuangan membela agama dengan cara mengorbankan harta benda, jiwa. dan raga. Contoh kalimat yang mengandung kata jihad dengan pengertian itu adalah sebagai berikut

(3) Orang yang berjihad di jalan Allah adalah orang yang berjiwa mulia.




Baca juga:
Apa yang dimaksud dengan kata aktivis?
Manakah yang benar kotip atau kotif?
Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?
Bagaimanakah penggunaan kata siang, malam, pagi, dan sore dalam sapaan?
Bagaimanakah pemakaian ini, itu dan begini, begitu?
Penulisan Artikel "pun"
Angka dan Lambang
Singkatan dan Akronim
Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Kata Ulang dan Gabungan Kata
Penulisan Kata Turunan

Apa yang dimaksud dengan kata aktivis?

Aktivis adalah orang yang giat bekerja untuk kepentingan suatu organisasi politik atau organisasi massa lain. Dia mengabdikan tenaga dan pikirannya. bahkan seringkali mengorbankan harta bendanya untuk mewujudkan cita-cita organisasi.

Contoh kalimat yang mengunakan kata aktivis adalah sebagai berikut.

(1) Beberapa aktivis lembaga sosial masyarakat mengingatkan pentingnya lingkungan hidup yang sehat.

(2) Organisasi kita memerlukan seorang aktivis yang rela menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk kelangsungan hidup organisasi.



Baca juga:
Manakah yang benar kotip atau kotif?
Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?
Bagaimanakah penggunaan kata siang, malam, pagi, dan sore dalam sapaan?
Bagaimanakah pemakaian ini, itu dan begini, begitu?
Penulisan Artikel "pun"
Angka dan Lambang
Singkatan dan Akronim
Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Kata Ulang dan Gabungan Kata
Penulisan Kata Turunan

Manakah yang benar kotip atau kotif?


Kota seperti Depok kadang-kadang disebut dengan singkatan kotif dan kadang-kadang pula kotip. Manakah bentuk yang benar?

Kedua bentuk itu merupakan kependekan dari kota administif. Kata administrative kita indonesiakan menjadi administratif, bukan administratip. Bandingkan pula dengan passive yang menjadi pasif, active menjadi aktif, dan communicative menjadi komunikatif. Pemendekan kota administratif menjadi kotip jelas salah sekalipun kadang-kadang bentuk itu dipakai. Bentuk yang benar adalah kotif.




Baca juga:
Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?
Bagaimanakah penggunaan kata siang, malam, pagi, dan sore dalam sapaan?
Bagaimanakah pemakaian ini, itu dan begini, begitu?
Penulisan Artikel "pun"
Angka dan Lambang
Singkatan dan Akronim
Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Kata Ulang dan Gabungan Kata
Penulisan Kata Turunan

Bagaimanakah pemakaian ini, itu dan begini, begitu?


Kata ini dan itu biasa digunakan sebagai kata penunjuk. Dalam pemakaian yang umum, ini menunjuk sesuatu yang dekat dengan pembicara, sedangkan itu menunjuk sesuatu yang jauh dari pembicara. Dalam bahasa tulis terdapat konvensi yang lazim diikuti. Kata ini digunakan untuk mengacu ke bagian yang akan disebutkan. Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan contoh berikut.

(1) Saya sangat tertarik pada perkumpulan yang Saudara pimpin. Saya ingin memperoleh jawaban dari Saudara atas beberapa pertanyaan saya ini. Pertama, di manakah saya dapat mendaftarkan diri? Kedua, berapakah uang iuran setiap bulan?

Pada contoh (1) di atas, kata ini mengacu ke dua pertanyaan yang disebutkan kemudian. Jika pertanyaan itu disebutkan terlebih dahulu, kata pengacu yang digunakan adalah itu.

Perhatikan perubahan susunannya berikut ini.

(2) Saya sangat tertarik pada perkumpulan yang Saudara pimpin. Di manakah saya dapat mendaftarkan diri? Berapakah uang iuran setiap bulan? Saya ingin memperoleh jawaban dari Saudara atas beberapa pertanyaan saya itu.

Pada contoh (2), kata itu mengacu balik ke bagian yang telah disebutkan, yakni dua kalimat tanya di depannya.

Contoh berikut ini memperlihatkan pemakaian kata ini dan itu secara bersama-sama.

(3) Karena petunjuk pelaksanaan yang telah disiapkan dipandang tidak praktis, disusunlah petunjuk baru. Selain alasan itu, ada pula alasan lain yang dapat disebutkan berikut ini. (a) Landasan hukum
tidak lengkap. (b) Penanggung jawab kegiatan tidak ditegaskan. (c) Sanksi atas kelalaian pelaksanaan tidak dinyatakan.


Di samping kata ini dan itu, ada pula kata begini dan begitu yang mempunyai aturan pemakaian yang sama. Menurut asal-usulnya kata begini berasal dari bagai ini dan begitu berasal dari bagai itu. Kata begini mengacu ke bagian yang akan disebutkan, sedangkan begitu mengacu ke bagian yang telah disebutkan. Marilah kita perhatikan contoh berikut ini.

(4) Beginilah cara menggiring bola yang baik. Tendanglah bola sesuai dengan kecepatan berlari. Setiap kali bola ditendang, kaki Anda yang lain harus masih dapat menjangkaunya. Semakin keras tendangan Anda, semakin cepat Anda harus berlari.

Pada contoh di atas, kata begini mengacu ke bagian berikut dari paragraf itu yang menjelaskan cara menggiring bola. Kini kita perhatikan pemakaian kata begitu.

(5) Jika bola ditendang terlalu keras, sedangkan Anda tidak cepat berlari, kemungkinan besar yang terjadi adalah bahwa kaki Anda yang lain tidak dapat menjangkaunya. Jika lawan Anda mengawal
secara ketat, bola yang di luar jangkauan kaki Anda dapat diserobotnya. Dengan begitu Anda akan kehilangan bola.


Pada contoh di atas, kata begitu mengacu ke pernyataan yang telah disebutkan, yakni hal lepasnya bola ke kaki lawan.

Tentu saja, kata begitu yang dibicarakan di sini bukanlah yang semakna dengan demikian, seperti yang terdapat pada kalimat:
Ia begitu berwibawa.
Begitu datang, ia marah-marah.


Baca juga:
Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?
Bagaimanakah penggunaan kata siang, malam, pagi, dan sore dalam sapaan?
Penulisan Artikel "pun"
Angka dan Lambang
Singkatan dan Akronim
Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Kata Ulang dan Gabungan Kata
Penulisan Kata Turunan

Bagaimanakah penggunaan kata siang, malam, pagi, dan sore dalam sapaan?


Dalam bahasa Indonesia kita mengenal beberapa kata yang mengacu ke saat tertentu yang merupakan bagian hari: siang, malam, pagi, dan sore. Persepsi orang berbeda-beda terhadap pengertian yang diacu oleh kata itu. Hal itu terlihat pada keberagaman batasan yang diberikan oleh beberapa kamus.

Kata siang bermakna saat matahari terbit sampai matahari terbenam atau dari pukul 06.00 sampai dengan pukul 18.00. Kata siang biasa dipakai sebagai pasangan kontras malam. Kata malam bermakna saat matahari terbenam sampai matahari terbit atau dari pukul 18.00 sampai dengan pukul 06.00.

Kata pagi bermakna waktu menjelang matahari terbit atau saat mulainya hari. Rumusan lain yang dapat ditemukan adalah saat matahari terbit sampai dengan pukul 09.00 atau pukul 10.00. Dari beberapa rumusan itu dapat dikatakan, pagi adalah bagian akhir dari malam dan bagian awal dari siang.

Di samping kata itu, kita juga mengenal subuh dan dini (hari). Kata subuh mengacu ke saat menjelang terbitnya fajar. Sedangkan dini hari mengacu ke awal hari. Dengan kata lain, subuh dan dini hari adalah bagian akhir dari malam dan bagian awal dari pagi. Orang juga menyebutnya pagi-pagi benar atau pagi buta.

Kata sore bermakna saat sesudah tengah hari sampai saat matahari terbenam atau dari pukul 14.00 sampai dengan pukul 18.00. Khusus saat menjelang matahari terbenam atau dari pukul 16.00 sampai dengan pukul 18.00. kita menyebutnya petang. Dengan demikian, petang adalah bagian akhir dari sore dan sore adalah bagian akhir dari siang.

Dari uraian di atas tampak bahwa pengertian kata-kata yang mengacu ke bagian hari itu dikaitkan dengan dua hal, yaitu
(1) keadaan alam; ada tidaknya matahari atau keadaan terang dan gelap, dan
(2) jam yang menjadi penunjuk waktu.

Dua tolok ukur itulah yang menyebabkan perbedaan persepsi. Di Banyuwangi, ujung timur Pulau Jawa, pada pukul 06.00 matahari sudah kelihatan dan tidak dapat lagi disebut subuh. Bagi penduduk di tempat itu sinar matahari pada pukul 14.00 sudah tidak sedemikian panas sehingga mereka menganggap saat itu sudah sore.

Sementara itu. di Banda Aceh, ujung utara Sumatra, pada pukul 06.00 matahari belum muncul; saat itu dikatakan masih subuh. Pada pukul 14.00 sinar matahari masih terasa panas dan orang di sana menganggap saat itu masih siang. Di daerah yang dekat kutub, misalnya Negeri Belanda, pada bulan tertentu matahari masih kelihatan pada pukul 21.00. Meskipun demikian, orang sepakat menyebut saat itu sudah malam.

Perbedaan persepsi itu juga memengaruhi sapaan salam yang berkaitan dengan saat kita menyapa. Batas pagi dan siang, misalnya, tidak dapat ditentukan secara tegas. Meskipun demikian, kita lazim
mengucapkan selamat siang antara pukul 10.00 dan pukul 14.00. Selamat sore lazim diucapkan antara pukul 14.00 dan pukul 18.30. Pada pukul 16.30 sampai pukul 18.30, pada situasi yang formal. lazim diucapkan selamat petang. Selamat malam lazim diucapkan antara pukul 18.30 dan 04.00. Kita tidak lazim mengucapkan selamat subuh atau selamat dini hari. Antara pukul 04.00 dan pukul 10.00 lazim diucapkan selamat pagi.

Ada kebiasaan baru yang menarik. Jika kata pagi dapat diartikan 'awal hari'. Penyiar yang muncul di layar televisi pada pukul 00.01menganggap wajar mengucapkan selamat pagi.

Fungsi sapaan memang bukan untuk menginformasikan makna yang terkandung pada kata-kata yang dipakai, melainkan untuk menciptakan kontak awal yang akrab antara pembicara dan kawan bicara yang memungkinkan komunikasi selanjutnya berjalan lancar. Sapaan kadang-kadang juga digunakan untuk maksud tertentu. Pada pukul 08.00 seorang atasan dapat mengucapkan "selamat siang" kepada bawahannya yang baru datang ke kantor yang menurut aturan karyawan itu seharusnya masuk pukul 07.00. Dalam hal itu, sapaan digunakan untuk menegur dan mengingatkan karyawan bahwa ia datang terlambat. Jadi, jika penyiar televisi mengucapkan "selamat pagi" pada pukul 01.00, tampaknya ia juga bermaksud mengingatkan penonton bahwa saat itu sudah mulai hari yang baru.


Baca juga:
Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?
Penulisan Artikel "pun"
Angka dan Lambang
Singkatan dan Akronim
Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Kata Ulang dan Gabungan Kata
Penulisan Kata Turunan

Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?


Dalam pemakaian bahasa sehari-hari, dijumpai bentuk penulisan atau pengungkapan kata mempercayai (p tidak luluh) dan memercayai (p luluh). Keadaan semacam itu menunjukkan belum ada keseragaman antara pemakai bahasa.


Luluh tidaknya bunyi seperti ditunjukkan pada kasus di atas disebabkan, terutama, oleh dua hal.

Pertama, sangkaan orang bahwa suku pertama pada kata itu sama dengan imbuhan atau tidak. Jika per disangka sama dengan imbuhan, bunyi p tidak diluluhkan sehingga dipakai bentuk seperti mempercayai, memperkarakan, memperkosa. Sebaliknya, jika per itu dipandang tidak sama dengan imbuhan, bunyi p diluluhkan sehingga digunakan bentuk memercayai, memergoki, memerlukan.

Kedua, anggapan orang bahwa bentuk dasarnya masih asing atau tidak. Jika bentuk dasar itu dianggap asing, bunyi p cenderung tidak diluluhkan sehingga muncul bentuk seperti mempermutasi, mempersentasekan, mempermanenkan. Dapat ditambahkan, jika bentukan yang dihasilkan akan terasa mengaburkan bentuk dasar, orang juga cenderung tidak meluluhkan bunyi p itu, seperti pada mempascasarjanakan, mempanglimakan.

Bunyi p pada imbuhan per seperti pada pertemukan dan pertandingkan memang tidak luluh pada bentukan mempertemukan dan mempertandingkan. Namun, perlu diketahui bahwa per pada percayai, perkarakan, perkosa bukantah imbunan. Jika bentukan yang akan dihasilkan itu disesuaikan dengan kaidah penggabungan bunyi, seharusnyalah bentukan itu menjadi memercayai, memerkarakan, memerkosa.Demikian juga, masalah asing tidaknya bentuk dasar, ataupun bentukan yang dihasilkan, dapat dikesampingkan jika kaidah itu akan diikuti. Pada praktiknya, batas asing tidaknya suatu kata sulit ditentukan, kecuali jika kata itu baru diperkenalkan untuk pertama kali. Jika hal itu diduga dapat membingungkan pembaca, pada pemakaian yang pertama dalam tulisan ilmiah dapat ditambahkan bentukan yang hendak dijauhi, misalnya memercayai (mempercayai), memersentasekan (mempersentasekan), memanglimakan (mempanglimakan).

Disalin dari Buku Praktis Bahasa Indonesia 1 (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: 2011) halaman 9-10.

Baca juga:
Penulisan Artikel "pun"
Angka dan Lambang
Singkatan dan Akronim
Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Kata Ulang dan Gabungan Kata
Penulisan Kata Turunan