Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label tanda baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanda baca. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juli 2016

Tanda Penyingkat atau Apostrof

pemakaian tanda penyingkat atau tanda apostrof ejaan bahasa Indonesia

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.

Misalnya:
Ali ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
1 Januari ’88. (’88 = 1988)
Mereka sudah datang, ‘kan? (‘kan = bukan)


Kaidah tanda penyingkat atau apostrof hanya satu, yaitu bahwa tanda apostrof digunakan untuk menunjukkan bagian kata atau bagian angka tahun yang dihilangkan.

Contohnya sebagai berikut.
1) „Lah lama kulayangkan surat itu.
2) Jadwal mengajarnya Senin, 24-11-‟14.


Perlu dicatat bahwa penggunaan tanda apostrof seperti pada kalimat (1) dan (2) hanya ada dalam bahasa seni atau dalam tulisan yang lebih bersifat internal. Contoh seperti pada kalimat (1) biasa ada dalam pusisi atau syair lagu. Dalam bahasa tulis resmi seperti dalam laporan atau surat dinas tidak akan digunakan kata ‘lah atau ‘kan yang merupakan bentuk pendek dari telah dan akan. Dalam surat resmi pada bagian tanggal surat angka tahun juga tidak boleh ditulis dengan bentuk singkatnya. Namun, untuk penulisan jadwal kegiatan internal kantor penulisan angka tahun dapat digunakan bentuk pendeknya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada kata baku bahasa Indonesia yang ditulis dengan tanda apostrof. Kata-kata seperti doa, maaf, Jumat, atau Quran ditulis tanpa tanda apostrof. Penulisan kata-kata seperti do’a, ma’af, Jum’at, atau Qur’an dengan apostrof memang pernah berlaku, yaitu pada zaman Ejaan van Ophuijsen yang berlaku tahun 1901—1947. Bahkan, kata-kata seperti ‘amal, ‘ilmu, atau ‘akal juga ditulis dengan tanda apostrof. Lalu, bagaimana dengan tulisan salam dalam Islam yang ditulis dengan huruf Latin? Tulisan Assalamu ‘alaikum warrahmatullahi wabarakatuh harus pakai tanda apostrof atau tidak? Jawabnya pakai karena salam itu bukan bahasa Indonesia, melainkan bahasa Arab yang ditulis dengan huruf Latin.

Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Garis Miring (/)

pemakaian tanda garis miring ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Misalnya:
No. 7/PK/1973
Jalan Kramat III/10
tahun anggaran 1985/1986


2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau dan setiap.

Misalnya:
mahasiswa/mahasiswi (maksudnya 'mahasiswa dan mahasiswi’
dikirimkan lewat darat/laut (maksudnya 'dikirim lewat darat atau lewat laut')
buku dan/atau majalah (maksudnya ‘buku dan majalah atau buku atau majalah’
harganya Rp25,00/lembar (maksudnya ‘harganya Rp25,00 tiap lembar’)

3. Tanda garis miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.

Misalnya:
Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa kali.
Asmara/n/dana merupakan salah satu tembang macapat budaya Jawa.

Catatan:
Penggunaan tanda garis miring pada nomor surat hampir tidak ada masalah. Begitu pula pada tahun takwim. Yang kadang-kadang menimbulkan masalah adalah penggunaan tanda garis miring pada nomor alamat. Kadang-kadang penggunaan tanda garis miring pada nomor alamat dianggap tidak lazim atau dianggap salah. Padahal, penggunaan tanda garis miring dalam penomoran alamat tidak
salah. Perhatikan contoh di bawah ini!

1) Alamat terakhirnya adalah Jalan Rawamangun Muka II/21, Jakarta Timur.
2) Alamat Jalan Purnawarman IV/99, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Penulisan nomor alamat seperti di atas benar. Cara lain yang juga benar adalah sebagai berikut.

1a) Alamat terakhirnya adalah Jalan Rawamangun Muka II Nomor 21, Jakarta Timur.
2a) Alamat Jalan Purnawarman IV Nomor 99, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kaidah tanda garis miring lain yang perlu diingat adalah bahwa tanda garis miring digunakan sebagai kata dan, atau, serta setiap. Masing-masing contohnya adalah sebagai berikut.

3) Bapak/Ibu/Saudara yang saya hormati.
4) Paket itu dapat dikirim lewat darat/laut.
5) Rumah itu dipasarkan Rp950 juta/unit.

Pada kalimat (3) garis miring sama dengan dan, pada kalimat (4) garis miring sama dengan atau, dan pada kalimat (4) garis miring sama dengan setiap. Tidak tepat kalau tanda garis miring pada kalimat (3) dimaknai sama dengan atau karena yang disapa semua, bukan Bapak saja, Ibu saja, atau Saudara saja.


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Petik Tunggal (‘…’)

tanda baca ejaan bahasa Indonesia Tanda Petik Tunggal (‘…’)

1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.


Misalnya:
Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
“Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.

“Kita bangga karena lagu ‘Indonesia Raya’ berkumandang di arena olimpiade itu,” kata Ketua KONI.

2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. 

Misalnya: 
feed-back ‘balikan’
policy ‘kebijakan’
wisdom ‘kebijaksanaan’
money politics ‘politik uang’

tergugat ‘yang digugat’
retina ‘dinding mata sebelah dalam’
noken ‘tas khas Papua’
tadulako ‘panglima’
marsiadap ari ‘saling bantu’
tuah sakato ‘sepakat demi manfaat bersama’


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Petik (“…”)

pemakaian tanda petik ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Misalnya:
(1) “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
(2) Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”

(3) “Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.
(4) “Kerjakan tugas ini sekarang!” perintah atasannya. “Besok akan dibahas dalam rapat.”
(5) Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan.”


2. Tanda petik mengapit judul sajak, syair, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:
(6) Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat.
(7) Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
(8) Perhatikan “Pemakaian Tanda Baca” dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
(9) Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” dimuat dalam majalah Tempo.

(10) Makalah “Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif” menarikperhatian peserta seminar.
(11) Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
(12) Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.
(13) Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!
(14) Film “Ainun dan Habibie” merupakan kisah nyata yang diangkat dari sebuah novel.


3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:
(15) Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
(16) Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.

(17) “Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.
(18) Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!


4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya:
(19) Kata Tono, “Saya juga minta satu.”

5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Misalnya:
(20) Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.
(21) Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.


Catatan:
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

Kesalahan yang sering ditemukan di lapangan adalah penggunaan tanda petik untuk mengapit kata bahasa asing atau bahasa daerah seperti pada kalimat berikut.

(22) Istilah “deadline”* dan “ballroom”* dipadankan dengan tenggat* dan balai riung.*
(23) Dalam menyikapi masalah itu diperlukan sikap “legawa”.*


Penggunaan tanda petik seperti pada kalimat (22) dan (23) tidak benar. Kata bahasa asing atau kata bahasa daerah tidak diapit dengan tanda petik, tetapi ditulis dengan huruf miring. Di samping itu, untuk menuliskan terjemahan tidak digunakan huruf tebal, tetapi diapit dengan tanda petik tunggal. Dengan demikian, penulisan kalimat (22) dan (23) dapat diperbaiki menjadi seperti berikut.

22a) Istilah deadline dan ballroom dipadankan dengan 'tenggat' dan 'balai riung'.
23a) Dalam menyikapi masalah itu diperlukan sikap legawa.


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Kurung Siku ([…])




pemakaian tanda kurung siku ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di naskah asli.

Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah bahasa Indonesia.
Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia dirayakan secara khidmat.


2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.


Misalnya:
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35-38]) perlu dibentangkan.



Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Kamis, 30 Juni 2016

Tanda Kurung ((…))

pemakaian tanda kurung ejaan bahasa Indonesia
1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya:
Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.
Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).
Warga baru itu belum memiliki KTP (kartu tanda penduduk).
Lokakarya (workshop) itu diadakan di Manado.

Mereka itu siswa sekolah menengah pertama (SMP) di DKI Jakarta.

2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.

Misalnya:
Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.


3. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.


Misalnya:
Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.
Dia berangkat ke kantor selalu menaiki (bus) Transjakarta.
Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.


4. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.


Misalnya:
Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.
Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan
(1) akta kelahiran,
(2) ijazah terakhir, dan
(3) surat keterangan kesehatan.



Catatan:
Contoh di atas memang merupakan hal yang biasa atau hampir tidak menimbulkan masalah. Namun, hal itu bukan berarti bahwa tidak ada masalah dalam penulisan yang berkaitan dengan tanda kurung. Perhatikan contoh berikut!

Sekurang-kurangnya ada empat kaidah bahasaIndonesia: 1.*tata bunyi atau fonologi, 2.* tata bentuk kata atau morfologi, 3.* tata kalimat atau sintaksis, dan 4.* tata tulis atau ejaan.

Pada contoh itu terlihat bahwa penomoran perincian dalam teks digunakan tanda titik. Penomoran sepertin itu salah. Seharusnya, angka dalam penomoran seperti itu diapit tanda kurung sehingga perbaikannya menjadi seperti berikut.

Sekurang-kurangnya ada empat kaidah bahasa Indonesia: (1) tata bunyi atau fonologi, (2) tata bentuk kata atau morfologi, (3) tata kalimat atau sintaksis, dan (4) tata tulis atau ejaan.


Barangkali timbul pertanyaan bagaimana kalau perincian itu ditulis menurun, bukan menyamping. Apakah tetap digunakan tanda kurung atau tanda titik. Jawabnya sama, yaitu tetap dengan tanda kurung seperti berikut.

Sekurang-kurangnya ada empat kaidah bahasa Indonesia:
(1) tata bunyi atau fonologi,

(2) tata bentuk kata atau morfologi,
(3) tata kalimat atau sintaksis, dan
(4) tata tulis atau ejaan.


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Seru (!)

pemakaian tanda seru ejaan bahasa Indonesia

Tanda seru dipakai sesuda ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

Misalnya:
Alangkah seramnya peristiwa itu!
Alangkah indahnya taman laut di Bunaken!
Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
Bayarlah pajak tepat pada waktunya!
Bersihkan kamar itu sekarang juga!
Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya.

Masa! Dia bersikap seperti itu?
Merdeka!


CATATAN:
Tanda seru digunakan untuk ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat. Namun, dalam praktik berbahasa masih sering ditemukan kesalahan penulisan kalimat seru. Berikut contoh kesalahan itu.

1) Perhatikan contoh berikut.*
2) Alangkah segarnya udara pagi di penungan ini.*
3) Yang benar saja.*
4) Semangat terus.*


Kalimat (1) termasuk kalimat perintah. Kata perhatikan merupakan tanda bahwa kalimat itu kalimat perintah. Oleh karena itu, penggunaan tanda titik pada akhir kalimat perintah tersebut salah. Seharusnya, kalimat (1) diakhiri dengan tanda seru.
Kalimat (2) juga merupakan pernyataan kekaguman yang sungguh-sungguh tentang udara pagi di pegunungan. Kalimat yang menggambar kesungguhan seperti itu harus diakhiri dengan tanda seru juga, bukan tanda titik.
Kalimat (3) merupakan pernyataan yang menggambarkan ketidakpercayaan terhadap sesuatu. Kalimat seperti itu juga harus diakhiri dengan tanda seru, bukan tanda titik atau tanda tanya.
Kalimat (4) dapat diakhiri dengan tanda titik, tetapi pernyataan seperti itu hanya merupakan pernyataan biasa yang tidak menggambarkan semangat yang besar. Jika ingin menggambarkan semangat yang bergelora, kalimat (4) harus diakhiri dengan tanda seru. Dengan demikian, keempat kalimat di atas dapa

1a) Perhatikan contoh berikut!
2a) Alangkah segarnya udara pagi di penungan ini!
3a) Yang benar saja!
4a) Semangat terus!



Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Tanya (?)

pemakaian tanda tanya ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Misalnya:
Kapan ia berangkat?
Saudara tahu, bukan?


2. Tanda tanya dipakai dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat membuktikan kebenarannya.


Misalnya:
Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?).
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.


Kaidah tanda tanya hanya dua, yaitu (1) digunakan pada akhir kalimat tanya dan (2) digunakan untuk menandai bagian kalimat yang diragukan. Penerapan tanda tanya untuk kalimat tanya biasa hampir tidak menimbulkan masalah. Masalah kadang-kadang muncul jika kalimat tanya itu dalam kutipan langsung. Berikut ini contohnya.

1) Ayah berkata, “Kapan kita harus datang di pesta itu, Nak”?*
2) Siapa pencipta lagu “Satu Nusa Satu Bangsa?”*

Penulisan seperti pada kalimat (1) dan (2) itu contoh penulisan tanda tanya yang salah. Pada kalimat tanya yang ditulis dalam kutipan, tanda tanya ditulis sebelum tanda petik. Jadi, urutannya tanda tanya dulu lalu diikuti tanda petik. Namun, berbeda halnya dengan kalimat (2). Pada kalimat itu yang dikutip adalah judul lagu. Oleh karena itu, tanda tanya diletakkan sesudah tanda petik. Dengan demikian, penggunaan tanda tanya pada kedua kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi seperti berikut.

1a) Ayah berkata, “Kapan kita harus datang di pesta itu, Nak?”
2a) Siapa pencipta lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”?



Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Elipsis (…)

pemakaian Tanda Elipsis (...) ejaan bahasa indonesia

1. Tanda elipsis dipakai untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.

Misalnya:
“Menurut saya … seperti … bagaimana, Bu?”
“Jadi, simpulannya … oh, sudah saatnya istirahat.”


2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam satu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya:
Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah ….
..., lain lubuk lain ikannya.


Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah titik untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.

Misalnya:
Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ….

CATATAN:
Yang sering salah adalah penggunaan jumlah tanda titik pada tanda ellipsis tersebut. Jika ditanya berapa tanda titik yang digunakan, jawabannya pada umumnya bebeda-beda. Padahal, jumlah titik pada tanda elipsis sebanyak tiga titik. Jika tanda elipsis terletak pada posisi akhir kalimat, harus digunakan 4 tanda titik: 3 titik merupakan tanda elipsis dan 1 titik sebagai tanda akhir kalimat.
Berikut ini disajikan beberapa contoh penggunaan tanda elipsis yang salah.

1) Satu ….., dua ……., tiga!
2) Kita harus ……. mengantre untuk mendapatkan tiket.
3) Semua warga negara harus mau membayar ……
4) Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan mulai berlaku pada tahun ……
a. 1928 c. 1965
b. 1945 d. 1972


Tanda titik pada kalimat (1) yang merupakan tanda elipsis tidak sama jumlahnya. Pada tanda elipsis bagian pertama digunakan 5 tanda titik yang diikuti tanda koma dan pada bagian kedua digunakan 7 tanda titik yang diikuti tanda koma juga. Tanda titik yang digunakan pada kalimat (2) tujuh. Lalu, pada kalimat (3) digunakan enam tanda titik. Dalam pembuatan soal yang berbentuk pilihan ganda sering juga digunakan tanda elipsis. Akan tetapi, pada umumnya juga salah dalam penggunan tanda titiknya. Pada contoh kalimat (4) digunakan enam tanda titik. Penggunaan tanda titik pada keempat kalimat di atas harus diperbaiki menjadi seperti berikut.

1a) Satu …, dua …, tiga!
2a) Kita harus … mengantre untuk mendapatkan tiket.
3a) Semua warga negara harus mau membayar ….
4a) Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan mulai berlaku pada tahun ….
c. 1928 c. 1965
d. 1945 d. 1972


Sumber: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia,Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016



Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Rabu, 29 Juni 2016

Tanda Pisah (―)

pemakaian tanda pisah ejaan bahasa Indonesia
1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu―saya yakin akan tercapai―diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat dicapai jika kita mau berusaha keras.

2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan oposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya:
Rangkaian temuan ini―evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom―telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan RI—diabadikan menjadi nama bandar udara internasional.
Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah Pemuda—harus terus digelorakan.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua dilangan atau tanggal dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.

Misalnya:
1910―1945
Tanggal 5―10 April 1970
Jakarta―Bandung


4. Untuk menunjukkan dipotongnya suatu ujaran dalam kalimat langsung.

"Sudah kukatakan, sebaiknya kamu teliti dulu―"
"Sudah! Sudah kuteliti berulang―"
"Lah, kenapa masih salah kirim?"  

Catatan:
Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

Catatan Sriyanto dalam Ejaan Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 2014 halaman 92—93:

Pengalaman saya di lapangan menunjukkan bahwa tanda hubung masih jarang diterapkan dalam praktik berbahasa sehari-hari. Yang lebih mengherankan lagi adalah bahwa pada umumnya orang tidak tahu bahwa ada tanda hubung dalam kaidah Ejaan Bahasa Indonesia. Padahal, tanda hubung dicantumkan dalam Ejaan Bahasa Indonesia bersamaan dengan tanda baca yang lain. Hal [ini] terjadi mungkin karena tanda yang digunakan hampir sama. Tanda hubung lebih pendek daripada tanda pisah.
Berikut contoh penerapan kaidah tanda hubung yang salah.

1) Peperangan itu terjadi tahun 1928-1930.*
2) Rapat akan dilaksanakan pukul 08.00-12.00.*


Pada umumnya orang menulis sampai dengan hubung seperti pada contoh (1) dan (2). Penulisan seperti itu salah. Seharusnya, tanda baca yang digunakan adalah tanda pisah, bukan tanda hubung sehingga pebaikannya menjadi seperti berikut.

1a) Peperangan itu terjadi tahun 1928—1930.
2a) Rapat akan dilaksanakan pukul 08.00—12.00.


Ada cara lain untuk menulis frasa atau kelompok kata sampai dengan. Pertama, frasa itu tidak
disingkat. Kedua, frasa sampai dengan disingkat menjadi s.d. Perhatikan contoh berikut!

1b) Peperangan itu terjadi tahun 1928 sampai dengan 1930.
2b) Rapat akan dilaksanakan pukul 08.00 sampai dengan 12.00.
1c) Peperangan itu terjadi tahun 1928 s.d. 1930.
2c) Rapat akan dilaksanakan pukul 08.00 s.d. 12.00.


Perlu dicatat bahwa singkatan sampai dengan yang disingkat dengan s/d seperti yang ada di spanduk-spanduk di pusat-pusat perbelanjaan merupakan contoh kesalahan yang diperagakan oleh para pengelola pusat perbelanjaan tersebut.

Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Senin, 27 Juni 2016

Tanda Hubung (-)

pemakaian tanda hubung ejaan bahasa Indonesia
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.

Misalnya:
Di samping cara-cara lama itu ju-
ga cara yang baru

suku kata yang berupa satu vocal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.

Misalnya:
Beberapa pendapat mengenai masalah itu
telah disampaikan ….
Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau
beranjak …
.

Atau

Beberapa pendapat mengenai masalah
itu telah disampaikan ….
Walaupun sakit, mereka tetap tidak
mau beranjak …
.

Bukan:
Beberapa pendapat mengenai masalah i-
tu telah disamapaikan ….
Walaupun sakit, mereka tetap tidak ma-

u beranjak ….

2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.

Misalnya:
Kini ada acara baru untuk meng-
ukur panas.
Kukuran baru ini memudahkan kita me-

ngukur kelapa.
Senjata merupakan alat pertahan-

an yang canggih.

Akhiran i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

3. Tanda hubung meyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya:
Anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan

Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.

4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

Misalnya:
p-a-n-i-t-i-a
8-4-1973


5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas 
(i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan 
(ii) penghilangan baian kelompok kata.

Misalnya:
ber-evolusi, dua puluh lima-ribuan (20 x 5.000), tanggung jawab dan kesetiakawanan-sosial

Bandingkan dengan:
Be-revolusi, dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25.000), tanggung jawab dan
kesetiakawanan sosial


6. Tanda hubung dipakai untuk merangkai 
(i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, 
(ii) ke- dengan angka, 
(iii) angka dengan -an, 
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan 
(v) nama jabatan rangkap.
(vi) kata dengan kata ganti Tuhan
(vii) huruf dan angka; dan 

(viii) kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan singkatan yang berupa huruf kapital

Misalnya:
se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X; Menteri-Sekretaris Negara, ciptaan-Nya, atas rahmat-Mu, D-3, S-1, S-2, KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku

Catatan:
Tanda hubung tidak dipakai di antara huruf dan angka jika angka tersebut melambangkan jumlah huruf.

 
Misalnya:
BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia)
LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia)
P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)



7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.

Misalnya:
di-smash, pen-tackle-an
di-sowan-i (bahasa Jawa, ‘didatangi’)
ber-pariban (bahasa Batak, ‘bersaudara sepupu’)
di-back up

8. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan.

Misalnya:
Kata pasca- berasal dari bahasa Sanskerta.
Akhiran -isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan.



Ada sejumlah jenis kesalahan penggunaan tanda hubung, antara lain, penggunaan tanda hubung untuk menulis kata ulang; untuk memisahkan tanggal, bulan, dan tahun; untuk memisahkan huruf kecil dengan huruf besar dalam sebuah kata; atau untuk memisahkan angka dan huruf dalam satu kata. Perhatikan contoh di bawah ini!

1) Undang-Undang Nomor 43 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
2) Rapat akan dilaksanakan tanggal 12-9-2014 di Jakarta.
3) Pertandingan itu diikuti peserta se-Jawa dan Bali.
4) Dia dikenal sebagai penulis sastra angkatan 70-an.
5) Kegiatan itu di-back up oleh pejabat setempat.


Menurut kaidah semua kata ulang ditulis dengan tanda hubung, baik kata ulang dasar maupun kata ulang berimbuhan. Ketentuan itu berlaku dalam penulisan judul karangan atau judul dokumen resmi. Dalam praktiknya penulisan kata ulang seperti makan-makan, pagi-pagi, besar-besar, atau baik-baik hampir tidak masalah. Masalah kadang-kadang muncul dalam penulisan kata ulang berimbuhan. Kadang-kadang orang menulis kata ulang berimbuhan sacara salah, misalnya, menyia nyiakan,
memata matai, atau kepura puraannya. Penulisan yang benar adalah menyia-nyiakan, memata-matai, atau kepura-puraan.

Kesalahan lain yang kadang-kadang muncul adalah penulisan judul karangan atau dokumen seperti pada kalimat (1). Contoh penulisan kata ulang pada kalimat (1) sudah benar. Namun, penulisannya sering salah menjadi kata Undang-undang dan Pokok-pokok.

Penggunaan tanda seperti pada kalimat (2) sudah benar. Akan tetapi, dalam praktiknya kadang-kadang salah, misalnya, tanggal 12-September-2014. Jika nama bulan ditulis lengkap, tanda hubung tidak lagi digunakan. Penulisan yang benar adalah tanggal 12 September 2014.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa meskipun tanggal, bulan, dan tahun yang ditulis dengan angka itu benar, untuk surat dinas digunakan nama bulan, bukan dengan angka. Alasannya adalah bahwa nama bulan lebih mencerminkan keresmian. Di samping itu, untuk jenis surat tertentu pencantuman nama bulan lebih aman.

Pengaturan kaidah tanda hubung selanjutnya adalah penggunaan tanda hubung pada pertemuan huruf kecil dengan huruf kapital atau huruf dengan angka dalam sebuah kata. Contoh pada kalimat (3) dan (4) sudah benar. Dalam praktiknya penerapan kaidah tanda hubung jenis ini juga kadang-kadang salah. Penulisan seperti HUT ke 67 RI, se DKI Jakarta, atau tahun 50an merupakan contoh penulisan yang salah. Seharusnya, yang benar adalah HUT ke-67 RI, se-DKI Jakarta, atau tahun 50-an.

Ada satu kaidah tanda hubung lagi, yaitu tanda hubung di antara imbuhan bahasa Indonesia yang diikuti kata asing atau kata daerah. Contoh penulisan pada kalimat (5) merupakan contoh penulisan yang benar. Sejalan dengan itu, penulisan yang benar adalah

di-peusijuk (Aceh/‟ditepungtawari‟), 
di-sowan-i (Jawa/‟didatangi‟),
ber-pariban (Batak/‟bersaudara sepupu‟)


adalah contoh penulisan yang juga benar.

Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Dua Titik (:)

pemakaian tanda titik dua ejaan bahasa Indonesia
1a. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.

Misalnya:
Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.


1b. Tanda titk dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengkahiri pernyataan.

Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.


3. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya:
a.
Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris : S. Handayani
Bendahara : B. Hartawan


b.
Tempat Sidang : Ruang 104
Pengantar Acara : Bambang S.
Hari : Senin
Waktu : 09.30


4. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:
Ibu : (meletakkan beberapa kopor) “Bawa kopor ini, Mir!”
Amir : “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)
Ibu : “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!” (duduk di kursi besar)


5. Tanda titik dua dipakai 
(i) di antara jilid atau nomor dan halaman, 
(ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, 
(iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan , serta 
(iv) di antara nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

Misalnya:
Tempo, I (34), 1971: 7
Surah Yasin: 9

Karangan Ali Hakim, Pedidikan Seumur Hidup: sebuah Studi, sudah terbit.
Tjokronegoro, Sutomo, Tjukuplah Saudara Membina Bahasa Persatuan Kita? Djakarta: Eresco, 1968.


Hingga saat ini kesalahan penggunaan tanda titik dua banyak dijumpai dalam laporan kegiatan, surat dinas, atau laporan penelitian dalam kasus seperti berikut.

1) Kegiatan penataran bagi para calon penyuluh bahasa Indonesia merupakan kegiatan yang sangat dinanti-nanti oleh para pegawai di lingkungan Badan dan Pengembangan Bahasa. Hal itu wajar karena jumlah pegawai yang dapat mengikuti penataran sangat terbatas. Karena peminatnya begitu besar, kegiatan penataran ini perlu terus diadakan dan ditingkatan. Sehubungan dengan itu, kami perlu melaporkan hal-hal sebagai berikut:
1. Persiapan
….
2. Pelaksanaan
….
3. Hambatan
….

4. Solusi
….
5. Penutup


Contoh laporan di atas kalau ditulis lengkap dapat mencapai tiga puluh halaman atau lebih. Perhatikan kalimat yang terakhir! Kalimat terakhir itu diakhiri tanda titik dua. Pertanyaan yang muncul adalah kapan kalimat tersebut berhenti. Jawabannya tidak pernah berhenti karena setelah kalimat itu merupakan sub-subjudul baru yang masing-masing diikuti uraian yang terdiri atas sejumlah paragraf. Kesalahan seperti itu sudah lazim dalam penulisan laporan kegiatan di kantor-kantor pemerintah atau swasta.

Bagaimana yang benar menurut kaidahnya? Kaidahnya berbunyi begini. “Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.” Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami kaidah itu, yaitu (1) kata dapat, (2), pernyataan lengkap, dan (3) rangkaian atau pemerian. Pertama, yang tertera dalam kaidah itu adalah kata dapat. Hal itu berati bahwa pemakaian tanda titik itu tidak harus atau tidak wajib. Kedua, pernyataan lengkap sama pengertiannya dengan kalimat lengkap. Artinya, pernyataan tersebut sekurang-kurangnya mengandung unsur subjek dan predikat. Ketiga, rangkaian atau pemerian sama pengertiannya dengan perincian penguraian unsur-unsurnya.

Mari kita lihat kalimat Sehubungan dengan itu, kami perlu melaporkan hal-hal sebagai berikut. Kalimat itu merupakan pernyataan lengkap atau kalimat lengkap karena sekurang-kurangnya mengandung subjek dan predikat. Jika diuraikan atas unsur-unsurnya, kalimat itu terdiri atas kata penghubung (sehubungan dengan itu), subjek (kami), predikat (perlu melaporkan), dan objek
(hal-hal sebagai berikut). Jadi, pernyataan tersebut termasuk pernyataan lengkap.

Pertanyaan berikutnya adalah pernyataan tersebut diikuti perincian atau uraian atau tidak. Pernyataan lengkap tersebut diikuti perincian atau uraian. Namun, perincian atau uraiannya tidak tidak dalam satu kalimat dengan pernyataannya, tetapi ada pada sub-subjudul baru dengan uraiannya yang dapat mencapai puluhan halaman. Dengan kata lain, perincian atau uraian kalimat di atas bukan bagian pernyataan. Hal itu penting karena terkait dengan penentuan tanda baca yang digunakan, dalam hal ini tanda titik dua atau tanda titik.

Kapan tanda titik dua digunakan sesudah pernyataan lengkap? Tanda titik dua digunakan sesudah pernyataan yang diikuti perincian apabila perincian itu merupakan bagian dari penyataan lengkap tersebut. Perhatikan contoh berikut!

2) Mahasiswa yang akan mengadakan penelitian harus melakukan hal-hal berikut:
a) mengadakan survei awal,
b) menyusun proposal penelitian,
c) mengumpulkan data,
d) mengolah data, dan
e) menyusun laporan penelitian.


Pernyataan pada contoh (2) termasuk pernyataan lengkap. Pernyataan itu terdiri atas subjek (mahasiswa yang akan mengadakan penelitian), predikat (harus melakukan), dan objek (hal-hal berikut). Kemudian, pernyataan lengkap tersebut diikuti perincian, yaitu (a)—(e). Yang perlu dicatat di sini adalah bahwa perincian tersebut merupakan bagian pernyataan karena semua unsur perincian itu bukan merupakan kalimat yang dapat berdiri sendiri. Konsekuensinya adalah bahwa setiap awal perincian dimulai dengan huruf kecil dan setiap akhir perincian diakhiri tanda titik koma, kecuali perincian yang terakhir dengan tanda titik. Agar masalahnya lebih jelas, contoh di bawah ini dapat dijadikan bandingannya.

3) Mahasiswa yang akan mengadakan penelitian harus melakukan hal-hal berikut.
a) Sebagai persiapan penelitian, mahasiswa perlu mengadakan survei awal.
b) Setelah persiapan cukup, mahasiswa harus menyusun proposal penelitian.
c) Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan data.
d) Setelah data terkumpul, tahap berikutnya adalah mengolah data.
e) Langkah terakhir dalam penelitian adalah menyusun laporan penelitian.


Pada contoh (3) pernyataannya termasuk pernyataan lengkap dan diikuti perincian. Akan tetapi, perinciannya berupa kalimat-kalimat lengkap. Berbeda halnya dengan contoh (2) yang perinciannya bukan merupakan kalimat lengkap. Oleh karena itu, tanda baca yang mengikuti pernyataan berbeda. Pada contoh (2) pernyataan diikuti tanda titik dua, sedangkan pada contoh (3) pernyataan diikuti tanda titik. Setiap awal perincian pada contoh (2) diawali dengan huruf kecil dan diakhiri dengan tanda koma, sedangkan setiap perincian pada contoh (3) setiap perincian diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.

Masih ada pertanyaan lagi sehubungan dengan penggunaan tanda baca setelah pernyataan yang diikuti perincian di atas. Pertanyaannya adalah bagaimana jika pernyataannya bukan merupakan pernyataan lengkap, tetapi juga diikuti perincian. Jika pernyataannya bukan merupakan pernyataan lengkap, tetapi diikuti perincian, setelah pernyataan tersebut tidak diikuti tanda baca apa pun. Perhatikan contoh berikut!

4) Laporan kegiatan ini meliputi
a) persiapan,
b) pelaksanaan,
c) hambatan di lapangan,
d) cara mengatasinya, dan
e) penutup.


Contoh (4) juga terdiri atas pernyataan dan perincian. Namun, pernyataannya bukan merupakan pernyataan lengkap. Pernyataan pada contoh (4) terdiri atas subjek (laporan kegiatan ini) dan predikat (meliputi). Agar pernyataan itu lengkap, harus ada objek. Ternyata objeknya berupa perincian (a)—(e). Hal itu berarti bahwa perincian merupakan bagian dari pernyataan. Oleh karena itu, setelah pernyataan tidak digunakan tanda baca apa pun.

Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Kamis, 07 April 2016

Tanda Titik Koma (;)

pemakaian tanda titik koma ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Misalnya:
Malam semakin larut; pekerjaan belum juga selesai.


2. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk.

Misalnya:
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghafal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran “Pilihan Pendengar”.
Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca cerita pendek.  

2. Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.

Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.


3. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.


Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.
Agenda rapat ini meliputi
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; dan
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.


Sumber: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia,Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016
 
Tambahan catatan Sriyanto dalam Ejaan Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 2014 halaman 92—93:

Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan kaidah pemakaian tanda titik koma, yaitu (1) untuk menggantikan kata penghubung yang memisahkan kalimat satu dengan kalimat lain dalam kalimat majemuk setara dan (2) untuk memisahkan bagain-bagian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma. Perhatikan contoh di bawah ini!

1) Sore itu cuaca di pinggir Pantai Losari sangat cerah; sejumlah keluarga tampak sedang bersantai; para pedagang kaki lima baru saja menggelar dagangannya.
2) Untuk kegiatan perkemahan itu semua peserta harus membawa peralatan mandi seperti sabun, sikat gigi, dan odol; peralatan makan dan masak-memasak seperti kompor, panci, piring, dan cangkir; dan peralatan pemasangan tenda seperti tenda, tali-temali, paku pancang, pisau, atau gunting.


Pada kalimat (1) tanda titik koma digunakan untuk memisahkan kalimat satu dengan kalimat yang lain dalam kalimat mejemuk setara. Kalimat (1) terdiri atas tiga kalimat tunggal. Antarkalimat itu dipisahkan dengan tanda titik koma yang sebenarnya tanda titik koma itu dapat digantikan dengan kata penghubung seperti kalimat berikut.


1a) Sore itu cuaca di pinggir Pantai Losari sangat cerah dan sejumlah keluarga tampak sedang bersantai serta para pedagang kaki lima baru saja menggelar dagangannya.


Kalimat (1) merupakan kalimat majemuk setara, sedangkan kalimat (2) merupakan kalimat tunggal. Tanda titik koma pada kalimat (1) digunakan antarkalimat tunggal yang menjadi bagian dari kalimat majemuk setara tersebut. Namun, tanda titik koma pada kalimat (2) tidak digunakan antarkalimat tunggal, tetapi untuk memisahkan antarperincian yang dalam setiap perinciannya sudah menggunakan tanda koma. Sebenarnya untuk memisahkan bagian-bagian dalam perincian digunakan tanda koma. Jika itu yang diikuti, tidak jelas perbedaan antarperincian dan antarbagian dalam perincian. Bandingkan kalimat (2) dengan (2a) berikut!


2a) Untuk kegiatan perkemahan itu semua peserta harus membawa peralatan mandi seperti sabun, sikat gigi, dan odol, peralatan makan dan masak-memasak seperti kompor, panci, piring, dan cangkir, dan peralatan pemasangan tenda seperti tenda, tali-temali, paku pancang, pisau, atau gunting.


Ada satu hal lagi sehubungan dengan penggunaan tanda koma di atas, yaitu penggunaan tanda titik koma untuk akhir perincian yang biasanya ditulis menurun. Ketentuan itu hanya berlaku dalam rumusan peraturan perundang-undangan. Dalam hubungan itu, penggunaan tanda titik koma tidak mempertimbangkan apakah perincian tersebut berupa kalimat-kalimat tunggal atau bukan. Penggunaan tanda titik koma dalam undang-undang itu juga tidak mempertimbangkan apakah dalam setiap perincian itu sudah digunakan tanda koma atau belum. Ketentuan itu merupakan ketentuan khusus yang hanya berlaku dalam ragam bahasa peraturan perundangan-undangan seperti yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Berikut adalah contohnya.


(1) Administrasi Umum Pemerintahan yang Baik dalam undang-undang ini meliputi asas:
a. kepastian hukum;
b. kemanfaatan;
c. ketidakberpihakan;
d. kecermatan;
e. tidak menyalahgunakan kewenangan;
f. keterbukaan;
g. kepentingan umum; dan
h. pelayanan yang baik.


(2) Penggunaan Diskresi dikategorikan sebagai tindakan yang melampaui Wewenang apabila:
a. bertindak melampaui batas waktu berlakunya Wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan;
b. bertindak melampaui batas wilayah berlakunya Wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan; dan/atau
c. menggunakan prosedur yang tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 26 sampai dengan Pasal 28. 


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Senin, 28 Maret 2016

Pemakaian Tanda Koma (,)

pemakaian tanda koma ejaan bahasa Indonesia


1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

Misalnya:
Saya membeli kertas, pena, dan tinta. [Catatan: dengan koma sebelum "dan"]
Surat biasa, surat kilat, maupun surat khusus memerlukan prangko.

Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing lagi.
Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
Satu, dua, ... tiga!

Contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan. [Catatan: tanpa koma sebelum "dan"]

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan atau sedangkan

Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).

Misalnya:
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama. 

Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.

2a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. 

Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Misalnya:
Kalau hari hujan, saya tidak datang.
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

Kalau diundang, saya akan datang.
Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.

2b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak kalimat.
Misalnya:
Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
Dia tahu bahwa soal itu penting.

Saya akan datang kalau diundang.
Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.
Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.


3. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.

Misalnya:
…. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
…. Jadi, soalnya tidak semudah itu.

Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya berhasil menjadi sarjana. 

Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.
Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi bintang pelajar

4. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, hai, kasihan dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.

Misalnya:
O, begitu?
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, jalannya licin!

Nak, kapan selesai kuliahmu?
Siapa namamu, Dik?
Dia baik sekali, Bu.


5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Misalnya:
Kata ibu, “Saya gembira sekali.”
“Saya gembira sekali,” kata ibu, “karena kamu lulus.”

Kata nenek saya, "Kita harus berbagi dalam hidup ini."
"Kita harus berbagi dalam hidup ini," kata nenek saya, "karena manusia adalah makhluk sosial."


Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.


Misalnya:
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Pak Lurah.
“Masuk ke dalam kelas sekarang!” perintahnya.
“Wow, indahnya pantai ini!” seru wisatawan itu.
 

6. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Matraman, Jakarta 13130
Kuala Lumpur, Malaysia.

Medan, 18 Juni 1984
Medan, Indonesia.
Tokyo, Jepang


7. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: Pustaka Rakjat.
Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.
Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.
Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.
Tulalessy, D. dkk. 2005. Pengembangan Potensi Wisata Bahari di Wilayah Indonesia Timur. Ambon: Mutiara Beta.


8. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

Misalnya:
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm. 22.
Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.


9. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
Bambang Irawan, M.Hum.
Siti Aminah, S.H., M.H.


Catatan:
Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A. (Siti Khadijah Mas Agung).


10. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:
12,5 m
27,3 kg
Rp12,50


11. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi (keterangan aposisi). 

Misalnya:
Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.
Semua siswa, baik yang laki-laki maupun perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Soekarno, Presiden I RI, merupakan salah seorang pendiri Gerakan Nonblok.
Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib menindaklanjuti laporan dalam waktu paling lama tujuh hari.


Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:
Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
Siswa yang lulus dengan nilai tinggi akan diterima di perguruan tinggi itu tanpa melalui tes.


12.Tanda koma dapat dipakai―untuk menghindari salah baca―di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:
Dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang sungguh-sungguh.
Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.


Bandingkan dengan:
Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam upaya pembinaan dan pengembanagan bahasa.
Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.
Dalam pengembangan bahasa kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih.



Dalam praktik berbahasa sering ditemukan kesalahan pemakaian tanda koma. Kesalahan yang cukup mencolok adalah pemakaian tanda koma untuk memisahkan induk kalimat dan anak kalimat dalam kalimat majemuk yang anak kalimatnya mengiringi induk kalimat.

Perhatikan contoh berikut.
1) Masyarakat yang datang ke tempat pembagian sembako itu terlalu banyak,* sehingga panitian
kewalahan.
2) Era teknologi seperti sekarang ini akses informasi sangat bebas,* sehingga diperlukan bimbingan
orang tua bagi anak-anaknya.


Salah satu kaidah tanda koma menyatakan bahwa tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan induk kalimat dengan anak kalimat jika induk kalimat mendahului anak kalimat atau anak kalimat mengiringi induk kalimat. Kalimat (1) di atas merupakan kalimat majemuk bertingkat. Begitu pula kalaimat (2). Kalimat (1) terdiri atas 1 induk kalimat dan 1 anak kalimat. Bagian yang pertama, yaitu masyarakat yang datang ke tempat pembagian sembako itu terlalu banyak, merupakan induk kalimat, sedangkan bagian kedua, yaitu sehingga panitia kewalahan, merupakan anak kalimat. Kalimat (2) juga terdiri atas 1 induk kalimat dan 1 anak kalimat. Bagian yang pertama, yaitu era teknologi seperti sekarang ini akses informasi sangat bebas, merupakan induk kalimat, sedangkan bagian kedua, yaitu sehingga diperlukan bimbingan orang tua bagi anak-anknya, merupakan anak kalimat. Hal itu berarti bahwa pada kalimat (1) dan (2) induk kalimat mendahului anak kalimat atau anak kalimat mengiringi induk kalimat. Oleh karena itu, di antara induk dan anak kalimat (1) dan (2) tidak digunakan tanda koma seperti perbaikannya berikut.

1a) Masyarakat yang datang ke tempat pembagian sembako itu terlalu banyak sehingga panitian
kewalahan.
2a) Era teknologi seperti sekarang ini akses informasi sangat bebas sehingga diperlukan bimbingan
orang tua bagi anak-anaknya.


Banyak orang yang menggunakan tanda koma yang tampaknya atas dasar atau pertimbangan jeda dalam pembacaannya. Padahal, aturan yang benar tidak seperti itu. Jika penggunaan tanda koma atas pertimbangan jeda, contoh kalimat berikut sama-sama menggunakan tanda koma.

3) Mereka ditegur pimpinan,* karena laporan kegiatannya terlambat.
4) Karena laporan kegiatannya terlambat, mereka ditegur pimpinan.

Jika hanya dirasa-rasa, penggunaan tanda koma seperti pada kalimat (3) dan (4) sama-sama benar. Seharusnya, penggunaan tanda koma dalam kedua kalimat tersebut harus dilihat anak dan induk kalimatnya. Kaidahnya mengatur bahwa anak kalimat yang mendahului induk kalimat dipisahkan dengan tanda koma. Jika kita cermati, kalimat (3) terdiri atas induk kalimat dan anak kalimat. Bagian kalimat mereka ditegur pimpinan merupakan induk kalimat, sedangkan bagian kalaimat karena laporan kegiatannya terlambat merupakan anak kalimat. Oleh karena itu, tidak koma digunakan. Sebaliknya, kalimat (4) sudah benar. Kalimat (4) anak kalimat mendahului induk kalimat. Oleh karena itu, setelah anak kalimat digunakan tanda koma.

Barangkali pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menentukan anak kalimat dan induk kalimat. Yang harus diingat lebih dahulu adalah bahwa anak kalimat hanya ada dalam kalimat majemuk bertingkat. Lalu, kalimat majemuk bertingkat sekurang-kurang terdiri atas 2 subjek dan 2 predikat. Namun, jika subjeknya sama, yang muncul hanya satu subjek.Adapun anak kalimat dapat dikenali lewat (1) kata penghubung yang mengawalinya, (2) ketidakmandiriannya sebagai sebuah kalimat, dan (3) keberadaan unsur predikat sekurang-kurangnya. Perhatikan baik-baik contoh berikut!

a) Karena tidak punya uang yang cukup, dia mengurungkan niatnya untuk membeli mobil.
b) Mereka terlambat sehingga tidak dapat mengikuti acara yang pertama.


Bagian kalimat yang dicetak miring pada kalimat (a) dan (b) di atas merupakan anak kalimat, sedangkan bagian yang lainnya merupakan induk kalimat. Anak kalimat pada kalimat (a) diawali kata penghubung karena, sedang kan anak kalimat (b) diawali kata penghubung sehingga. Setiap anak kalimat itu tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat lengkap. Jadi, bagian kalimat karena tidak punya uang yang cukup bukan merupakan kalimat lengkap. Begitu juga bagian kalimat sehingga tidak dapat mengikuti acara yang pertama. Di samping itu, dalam setiap anak kalimat di atas terdapat predikat. Predikat pada anak kalimat yang pertama adalah tidak punya, sedangkan predikat pada anak kalimat yang kedua adalah tidak dapat mengikuti. Dengan demikian, kedua bagian kalimat itu termasuk anak kalimat. Anak kalimat pada kalimat (a) ikuti tanda koma karena anak kalimat mendahului induk kalimat. Sebaliknya, anak kalimat pada kalimat (b) tidak diikuti koma karena anak kalimat mengiringi induk kalimat.

Di atas sudah dibahas kaidah pemakaian tanda koma untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat. Itu baru salah satu kaidah tanda koma. Namun, penerapan kaidah itu memang sangat sering salah. Masih ada sejumlah kaidah tanda koma yang juga masih sering salah dalam penerapannya seperti dalam kalimat berikut.

5) Mereka membeli kertas, buku, dan laptop.
6) Dia tidak ingin memiliki lukisan itu, tetapi hanya ingin melihatnya.
7) Oleh karena itu, persoalan itu kita anggap selesai.
8) Kantornya beralamat di Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur.
9) Sekarang nama lengkapnya adalah Dr. Siti Nur Azizah, S.H.
10) Semua karyawan, baik laki-laki maupun perempuan, besok pagi harus ikut kerja bakti di halaman kantor.

Seperti pada kalimat (5) tanda koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian dalam perincian. Namun, dalam praktiknya banyak orang yang tidak menggunakan tanda koma sebelum perincian terakhir. Tentu saja hal itu tidak sesuai dengan kaidah. Pada kalimat (6) terlihat bahwa tanda koma digunakan sebelum kata seperti tetapi, sedangkan, dan melainkan dalam sebuah kalimat. Akan tetapi, banyak juga ditemukan kalimat yang tidak menggunakan tanda koma seperti pada kalimat (6). Tanda koma juga digunakan setelah kata penghubung antarkalimat seperti pada kalimat (7). Dalam sebuah kalimat kata penghubung seperti jadi, oleh karena itu, dengan demikian, atau meskipun begitu harus diikuti tanda koma. Contoh kalimat (8) memperlihatkan penggunaan tanda koma untuk memisahkan bagian-bagian alamat yang ditulis menyamping. Sayangnya, masih banyak tulisan yang mencantumkan bagian-bagian alamat yang tidak dipisahkan dengan tanda koma. Selanjutnya, tanda koma digunakan untuk memisahkan antara nama dan singkatan gelar akademik seperti pada kalimat (9). Pada Kenyataannya cara penulisan seperti itu masih banyak salah. Kaidah tanda koma selanjutnya adalah tanda koma yang digunakan untuk mengapit keterangan tambahan seperti pada kalimat (10). Cara penulisan seperti itu juga sering salah.



Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')
Huruf Kapital atau Huruf Besar

Di mana, yang mana
... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)