Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label partikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label partikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2016

Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per

penulisan partikel lah dan kata seru lah
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik.
Apakah yang tersirat dalam dalam surat itu?
Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia.
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?


Catatan:
"Lah" sebagai kata seru untuk penekanan ditulis terpisah.

Misalnya:
Lah, itu dia!
Bukan saya, lah!


2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.

(1) Mereka pun turut mendukung pembangunan pasar tradisinal itu.
(2) Parkir kendaraan pun sulit karena banyaknya mobil yang dibawa para tamu.


Catatan:
Partikel pun yang ditulis serangkai adalah partikel pun yang merupakan kata penghubung. Jadi, kata-kata seperti meskipun, walaupun, sunggguhpun, biarpun, kendatipun, dan bagaimanapun ditulis serangkai. Contoh pemakaiannya adalah sebagai berikut.

(3) Walaupun hari masih pagi, para pegawai kantor itu sudah banyak yang datang.
(4) Kendaraan di jalan bebas hambatan itu selalu macet walaupun hari sudah malam.


Bagaimana dengan kata sekalipun? Apakah kata itu tetap ditulis serangkai atau terpisah? Kata sekalipun dibedakan menjadi dua. Ada yang ditulis serangkai dan ada pula yang ditulis terpisah. Kata sekalipun yang ditulis serangkai adalah kata penghubung, sedangkan yang ditulis terpisah bukan merupakan kata penghubung. Bagaimana cara membedakannya? Perhatikan kalimat di bawah ini!

(5) Sekalipun dengan susah payah, mereka berhasil mendaki gunung itu.
(6) Jangankan dua kali sekali pun dia belum pernah datang ke rumahku.


Kata sekalipun pada kalimat (5) merupakan kata penghubung, sedangkan pada kalimat (6) bukan kata penghubung. Kata sekalipun yang merupakan kata penghubung dapat diganti dengan kata penghubung yang lain, sedangkan kata sekali pun yang bukan merupakan kata penghubung tidak dapat diganti dengan kata penghubung yang lain. Perhatikan kalimat di bawah ini!

(7) Sekalipun permintaan beras terus meningkat saat menjelang Lebaran, sediaannya masih tetap aman.
(7a) Meskipun permintaan beras terus meningkat saat menjelang Lebaran, sediaannya masih tetap aman.
(7b) Walaupun permintaan beras terus meningkat saat menjelang Lebaran, sediaannya masih tetap aman.


Kata sekalipun pada kalimat (7) dapat diganti dengan meskipun atau walaupun. Hal itu berarti bahwa kata sekalipun seperti pada kalimat (7) adalah kata penghubung. Oleh karena itu, penulisannya diserangkaikan.

Namun, kata sekali pun pada kalimat di bawah ini tidak dapat diganti dengan kata meskipun atau walaupun.

(8) Jangankan dua kali, sekali pun dia belum pernah berkunjung ke rumahku.
(8a) Jangankan daua kali, meskipun dia belum pernah berkunjung ke rumahku.
(tidak bisa)
(8b) Jangankan daua kali, walaupun dia belum pernah berkunjung ke rumahku. (tidak bisa)


Partikel "per"

Kesalahan penulisan partikel per sering muncul karena tidak semua per ditulis terpisah. Per yang ditulis terpisah adalah per yang mempunyai arti (1) tiap-tiap atau setiap, (2) demi, dan (3) mulai.

Berikut contoh pemakaiannya dalam kalimat.
 
(1) Harga kain itu Rp200.000,00 per meter.
(2) Mahasiswa diminta keluar ruang kuliah satu per satu secara tertib.
(3) Surat keputusan itu berlaku per Januari 2015.
 

Selain per yang mengandung arti di atas, ada juga per yang mempunyai arti (1) dibagi dan (2) dengan (menggunakan). Per yang mengandung dua arti itu ditulis serangkai.

Berikut contoh pemakaiannya dalam kalimat.

(4) Dua pertiga penduduk kampung itu masih tergolong miskin.
(5) Dia menghubungi saudaranya yang di kota pertelepon.

Ada pula per- yang bukan partikel, melainkan awalan. Karena merupakan awalan, per- ini ditulis serangkai. Contohnya adalah sebagai berikut.

(6) Perlebar gelaran tikarnya agar dapat memuat banyak tamu!
(7) Sudah sepantasnya kalau kita pertuan kepada orang asing itu.


Imbuhan per- pada kalimat (6) berarti membuat jadi lebih lebar dan pada kalimat (7) berarti memanggil.



Baca juga:
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Penulisan Kata Turunan
Pemakaian Huruf Miring
Huruf Kapital atau Huruf Besar

Jumat, 07 November 2014

Penulisan judul: huruf kecil dan besar

Bagaimana aturan menulis judul yang benar dan baku menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan? Apakah semua kata mesti diawali dengan huruf besar? Kata-kata apa saja yang harus ditulis dengan huruf kecil? Bagaimana dengan penulisan kata ulang pada judul artikel dan buku?

Secara umum, menurut saya, jawaban yang paling mudah diingat: gunakan huruf kecil hanya untuk kata-kata yang bersifat partikel, termasuk konjungsi (kata penghubung), preposisi (kata depan), dan interjeksi (seruan perasaan).

Namun, perhatikan, ada kata partikel tertentu yang bisa ditulis dalam judul karangan dengan huruf kecil dan bisa juga dengan huruf kapital.

Kaidah penulisan judul menurut Pedoman Umum EYD: huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Kata tugas adalah kata yang menyatakan hubungan gramatikal yang tidak dapat bergabung dengan afiks (imbuhan), dan tidak mengandung makna leksikal.

Contoh penulisan judul yang baku menurut kaidah EYD:
Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma


Saya berikan contoh lain:
Kita Tidak Akan ke Mana pun

Kata Tidak dan Akan ditulis dengan huruf pertama kapital, bukan huruf kecil.


Kata ulang dalam judul artikel
Bagaimana dengan penulisan kata ulang dalam judul karangan? Apakah semua unsurnya mesti dimulai dengan huruf besar?

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, hanya kata ulang sempurna yang semua unsurnya diawali dengan huruf kapital. Jadi, tidak termasuk kata ulang berubah bunyi dan kata ulang berimbuhan.


Contoh kata ulang sempurna (dwilingga)
Dwilingga disebut juga sebagai kata ulang utuh, sempurna, atau penuh. Misalnya murid-murid, jalan-jalan, partai-partai, samar-samar, masalah-masalah, bukit-bukit, surat kabar-surat kabar, dan buku-buku.

Dengan demikian, judul artikel "Pengesahan Undang-Undang yang Baru" adalah benar, dan bukan dengan Undang-undang.


Contoh kata ulang berubah bunyi
kocar-kacir; gerak-gerik; sayur-mayur; lauk-pauk; kacau-balau; pernak-pernik

Contoh penulisan judul yang benar dengan kata ulang tersebut:

Harga Sayur-mayur di Pasar Naik
Ditulis dengan satu huruf kapital, Sayur-mayur, bukan Sayur-Mayur.


Contoh kata ulang berimbuhan
berjam-jam; berkali-kali; sayur-sayuran; memasak-masak; berguling-guling; tergopoh-gopoh; pukul-memukul; berkejar-kejaran

Contoh penulisan judul dengan kata ulang berimbuhan:

Puluhan Siswa Kejar-mengejar dalam Tawuran
Ditulis dengan satu huruf besar pada Kejar-mengejar, bukan Kejar-Mengejar.


Huruf kecil di judul: partikel, konjungsi, preposisi, interjeksi
Kata-kata yang tergolong sebagai partikel, yaitu konjungsi (kata penghubung), preposisi (kata depan), dan interjeksi (seruan perasaan), ditulis dengan huruf kecil pada judul karangan, kecuali ia terletak di awal judul:

pun; per; demi; si; ala; dari; daripada; di; ke; pada; kepada; terhadap; dan; atau; untuk; yang; dalam; dengan; jika; maka; tapi; meskipun; kendati; walau; kalau; karena; bila; tentang; sebagai; secara; seperti; ialah; agar; supaya; hingga; sejak; ah; oh; deh; dong; kok

akan, soal, dalam, kok
Hati-hati dengan kata-kata bermakna ganda, misalnya kata akan, yang bisa ditulis pada judul dengan huruf kecil dan juga dengan huruf kapital, tergantung artinya.


Bupati Belum Akan Melantik Camat (huruf besar Akan)

Artis yang Lupa akan Orang Tuanya (huruf kecil akan)

Pada contoh kedua itu, kata akan berfungsi sebagai preposisi (kata depan), dengan arti "kepada" atau "terhadap".

Begitu juga halnya dengan kata soal, yang bisa berarti "perkara" dan "naskah ujian" (sehingga ditulis pada judul dengan huruf kapital: Soal) serta "tentang" (sehingga ditulis dengan huruf kecil:soal).

Kata dalam pun demikian, bisa sebagai kata depan dan bisa sebagai kata sifat.

Kata kok sama halnya: sebagai partikel dan sebagai kata tanya "mengapa".


Format penulisan judul berita: huruf kecil
Saya sendiri beberapa tahun terakhir mengubah gaya penulisan judul artikel menjadi berbeda dari yang diatur dalam Ejaan yang Disempurnakan. Saya tidak lagi memakai format "semua kapital" baik pada judul berita di koran maupun judul artikel opini di situs blog. Saya menulis huruf besar hanya untuk kata pertama dan kata-kata yang wajib dikapitalkan, seperti nama orang, nama daerah, nama instansi, kitab suci agama, dsb.

Sebagian media pers nasional dan mancanegara juga menganut aliran penjudulan artikel seperti itu. Memang menjadi lancung, tidak baku, tak menurut aturan main, tapi itulah bahasa jurnalistik—khas dan "sah untuk melanggar aturan".


Tanda baca dalam judul
Pada kesempatan lain saya akan menulis artikel tentang penggunaan tanda-tanda baca dalam judul, seperti tanda tanya, tanda seru, tanda koma, tanda titik, tanda kutip, tanda titik dua, tanda dan (&), tanda kurung, dan juga penulisan huruf miring.



copas dari: http://benar.org/juDul


Baca juga:
Huruf Kapital atau Huruf Besar
Penggunaan Huruf Kapital untuk Nama Geografi
Huruf Kapital untuk Nama Gelar dan Jabatan
Penulisan judul: huruf kecil dan besar
Pemakaian Huruf Kapital untuk Nama Jenis dan Bedanya dengan Nama Geografi
Pemakaian Huruf Kapital untuk Nama Diri
Huruf Kapital dan Kata yang Menyatakan Hubungan Kekerabatan