Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label preposisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label preposisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2015

... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)





Awalan di- di dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai pembentuk kata kerja (verba) pasif dan berkaitan dengan bentuk aktifnya yang dibentuk dengan awalan me-, misalnya "dipukul" dan "memukul". Awalan di- tidak pernah mengalami perubahan bentuk.

Kesalahan yang sering terjadi adalah kekeliruan penulisan di- sebagai awalan yang harus ditulis serangkai dan penulisan di sebagai kata depan (preposisi) penunjuk tempat yang harus ditulis terpisah. Contohnya "dijual" bukan "di jual" dan "di mana" bukan "dimana". Cara mudah untuk memisahkan fungsi keduanya adalah dengan melihat jenis kata yang terbentuk: Jika menjadi kata kerja pasif, itu berarti harus ditulis serangkai dan jika menjadi penunjuk tempat atau lokasi, itu berarti harus ditulis terpisah.

Sebagai kata depan kata "di" harus ditulis terpisah:
di antara
di akhir
di atas
di awal
di bagian
di bawah
di belakang
di dalam
di dekat
di depan
di hadapan
di jalan
di kanan
di kiri
di luar
di mana
di muka
di pusat
di rumah
di samping
di saat
di sana
di sebelah
di seberang
di sekeliling
di sekitar
di seluruh
di sini
di sisi
di situ
di tanah
di tempat
di tengah
di tengah-tengah
di tepi
di tiap
di tiap-tiap
Beberapa kata yang memiliki arti beda jika ditulis terpisah. Kata-kata ini khusus untuk kata dasar yang dapat berfungsi sebagai kata benda (penunjuk tempat) sekaligus kata kerja. Beberapa contohnya
  • Dibalik = bentuk pasif dari membalik
  • Di balik = di bagian sebaliknya
  • Dipenjara = bentuk pasif dari memenjarakan (dikarantina, dibui, disel, dll.)
  • Di penjara = di (dalam) penjara (di karantina, di bui, di sel, dll.)
  • Disalib = bentuk pasif dari menyalib
  • Di salib = di (atas) salib
  • Digambar = bentuk pasif dari menggambar (disketsa, dipigura, difoto, dll.)
  • Di gambar = pada gambar (di sketsa, di pigura, di foto, dll.)
  • dan lain-lain,
Beberapa kata dapat diberi konfiks "di-kan", misalnya "diseberangkan", atau konfiks "di-i", misalnya "diawali"

Sebagai awalan, harus menyatu dengan kata kerjanya:
diakui, dikenai, dipukuli, ditampar, diberi, dicuri, dikerjakan, dll


Jumat, 07 November 2014

Penulisan judul: huruf kecil dan besar

Bagaimana aturan menulis judul yang benar dan baku menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan? Apakah semua kata mesti diawali dengan huruf besar? Kata-kata apa saja yang harus ditulis dengan huruf kecil? Bagaimana dengan penulisan kata ulang pada judul artikel dan buku?

Secara umum, menurut saya, jawaban yang paling mudah diingat: gunakan huruf kecil hanya untuk kata-kata yang bersifat partikel, termasuk konjungsi (kata penghubung), preposisi (kata depan), dan interjeksi (seruan perasaan).

Namun, perhatikan, ada kata partikel tertentu yang bisa ditulis dalam judul karangan dengan huruf kecil dan bisa juga dengan huruf kapital.

Kaidah penulisan judul menurut Pedoman Umum EYD: huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Kata tugas adalah kata yang menyatakan hubungan gramatikal yang tidak dapat bergabung dengan afiks (imbuhan), dan tidak mengandung makna leksikal.

Contoh penulisan judul yang baku menurut kaidah EYD:
Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma


Saya berikan contoh lain:
Kita Tidak Akan ke Mana pun

Kata Tidak dan Akan ditulis dengan huruf pertama kapital, bukan huruf kecil.


Kata ulang dalam judul artikel
Bagaimana dengan penulisan kata ulang dalam judul karangan? Apakah semua unsurnya mesti dimulai dengan huruf besar?

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, hanya kata ulang sempurna yang semua unsurnya diawali dengan huruf kapital. Jadi, tidak termasuk kata ulang berubah bunyi dan kata ulang berimbuhan.


Contoh kata ulang sempurna (dwilingga)
Dwilingga disebut juga sebagai kata ulang utuh, sempurna, atau penuh. Misalnya murid-murid, jalan-jalan, partai-partai, samar-samar, masalah-masalah, bukit-bukit, surat kabar-surat kabar, dan buku-buku.

Dengan demikian, judul artikel "Pengesahan Undang-Undang yang Baru" adalah benar, dan bukan dengan Undang-undang.


Contoh kata ulang berubah bunyi
kocar-kacir; gerak-gerik; sayur-mayur; lauk-pauk; kacau-balau; pernak-pernik

Contoh penulisan judul yang benar dengan kata ulang tersebut:

Harga Sayur-mayur di Pasar Naik
Ditulis dengan satu huruf kapital, Sayur-mayur, bukan Sayur-Mayur.


Contoh kata ulang berimbuhan
berjam-jam; berkali-kali; sayur-sayuran; memasak-masak; berguling-guling; tergopoh-gopoh; pukul-memukul; berkejar-kejaran

Contoh penulisan judul dengan kata ulang berimbuhan:

Puluhan Siswa Kejar-mengejar dalam Tawuran
Ditulis dengan satu huruf besar pada Kejar-mengejar, bukan Kejar-Mengejar.


Huruf kecil di judul: partikel, konjungsi, preposisi, interjeksi
Kata-kata yang tergolong sebagai partikel, yaitu konjungsi (kata penghubung), preposisi (kata depan), dan interjeksi (seruan perasaan), ditulis dengan huruf kecil pada judul karangan, kecuali ia terletak di awal judul:

pun; per; demi; si; ala; dari; daripada; di; ke; pada; kepada; terhadap; dan; atau; untuk; yang; dalam; dengan; jika; maka; tapi; meskipun; kendati; walau; kalau; karena; bila; tentang; sebagai; secara; seperti; ialah; agar; supaya; hingga; sejak; ah; oh; deh; dong; kok

akan, soal, dalam, kok
Hati-hati dengan kata-kata bermakna ganda, misalnya kata akan, yang bisa ditulis pada judul dengan huruf kecil dan juga dengan huruf kapital, tergantung artinya.


Bupati Belum Akan Melantik Camat (huruf besar Akan)

Artis yang Lupa akan Orang Tuanya (huruf kecil akan)

Pada contoh kedua itu, kata akan berfungsi sebagai preposisi (kata depan), dengan arti "kepada" atau "terhadap".

Begitu juga halnya dengan kata soal, yang bisa berarti "perkara" dan "naskah ujian" (sehingga ditulis pada judul dengan huruf kapital: Soal) serta "tentang" (sehingga ditulis dengan huruf kecil:soal).

Kata dalam pun demikian, bisa sebagai kata depan dan bisa sebagai kata sifat.

Kata kok sama halnya: sebagai partikel dan sebagai kata tanya "mengapa".


Format penulisan judul berita: huruf kecil
Saya sendiri beberapa tahun terakhir mengubah gaya penulisan judul artikel menjadi berbeda dari yang diatur dalam Ejaan yang Disempurnakan. Saya tidak lagi memakai format "semua kapital" baik pada judul berita di koran maupun judul artikel opini di situs blog. Saya menulis huruf besar hanya untuk kata pertama dan kata-kata yang wajib dikapitalkan, seperti nama orang, nama daerah, nama instansi, kitab suci agama, dsb.

Sebagian media pers nasional dan mancanegara juga menganut aliran penjudulan artikel seperti itu. Memang menjadi lancung, tidak baku, tak menurut aturan main, tapi itulah bahasa jurnalistik—khas dan "sah untuk melanggar aturan".


Tanda baca dalam judul
Pada kesempatan lain saya akan menulis artikel tentang penggunaan tanda-tanda baca dalam judul, seperti tanda tanya, tanda seru, tanda koma, tanda titik, tanda kutip, tanda titik dua, tanda dan (&), tanda kurung, dan juga penulisan huruf miring.



copas dari: http://benar.org/juDul


Baca juga:
Huruf Kapital atau Huruf Besar
Penggunaan Huruf Kapital untuk Nama Geografi
Huruf Kapital untuk Nama Gelar dan Jabatan
Penulisan judul: huruf kecil dan besar
Pemakaian Huruf Kapital untuk Nama Jenis dan Bedanya dengan Nama Geografi
Pemakaian Huruf Kapital untuk Nama Diri
Huruf Kapital dan Kata yang Menyatakan Hubungan Kekerabatan