Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Sabtu, 21 April 2018

Perubahan Awalan ber-

Perubahan Awalan ber-

Baca sebelumnya!

Selain awalan meng- dan peng-, awalan ber- juga dapat berubah sesuai dengan lingkungan bunyi yang dimasukinya. Dalam hal ini, awalan ber- dapat berubah menjadi be- dan bel- atau tetap menjadi ber-. Awalan ber- berubah menjadi be- jika digabungkan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /r/ atau kata dasar yang suku kata pertamanya mengandung bunyi [er]. Awalan ber- berubah menjadi bel- jika digabungkan dengan kata dasar ajar, dan awalan ber- tetap menjadi ber- jika digabungkan dengan kata dasar selain yang telah disebutkan itu.

Misalnya:

ber- berubah menjadi be-
ber- + roda ==> beroda
ber- + rasa ==> berasa
ber- + kerja ==> bekerja
ber- + ternak ==> beternak

ber- berubah menjadi bel-
ber- + ajar ==> belajar

ber- tetap menjadi ber-
ber- + kabung ==> berkabung
ber- + tanya ==> bertanya


Baca selanjutnya!

Sabtu, 24 Maret 2018

Pembentukan Kata dengan Awalan

disalin dari Drs. Mustakim, M.Hum. Bentuk dan Pilihan Kata. Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta: 2014

Baca artikel sebelumnya

Pembentukan Kata dengan Awalan
Di antara beberapa awalan yang dapat digunakan sebagai pembentuk kata dalam bahasa Indonesia, meng- dan peng- merupakan awalan yang paling banyak menimbulkan masalah. Dikatakan demikian karena awalan itu dapat mengalami perubahan bentuk jika digabungkan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem tertentu. Awalan meng-, misalnya, dapat berubah bentuknya menjadi me-, meny-, men-, mem-, dan menge-. Begitu pula halnya dengan awalah peng-. Seperti awalan meng-, awalan peng- juga dapat berubah menjadi pe-, peny-, pen-, pem-, dan penge-.

Perubahan Awalan Meng- dan Peng-
Secara ringkas, perubahan awalan meng- dan peng- tersebut, baik disertai akhiran maupun tidak, dapat dirangkum dalam ketentuan sebagai berikut.

(1) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi me- dan pe- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal fonem /r, l, m, n, w, y, ng, ny/.

Misalnya:

meng-/peng- + rawat ==> merawat, perawat
meng-/peng- + lamar
==> melamar, pelamar
meng-/peng- + minum
==> meminum, peminum
meng-…-i + nama
==> menamai
peng-…-an + nama
==> penamaan
meng-…-i + waris
==> mewarisi
peng- + waris
==> pewaris
meng-…-kan + yakin
==> meyakinkan
peng-…-an + yakin
==> peyakinan
meng- + nganga
==> menganga
meng-/peng - + nyanyi
==> menyanyi, penyanyi

(2) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi mem- dan pem- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /p, b, f, v/.

Misalnya:
meng-/peng - + pandu ==> memandu, pemandu
meng-/peng - + bawa
==> membawa, pembawa
meng-/peng - + fitnah
==> memfitnah, pemfitnah
meng-/peng - + vonis
==> memvonis, pemvonis

(3) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi men- dan pen- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /t, d, c, j, z, sy/.

Misalnya:
meng-/peng - + tuduh ==> menuduh, penuduh
meng-/peng - + dakwah
==> mendakwah, pendakwah
meng-/peng - + curi
==> mencuri, pencuri
meN-/peN- + jual
==> menjual, penjual
meng-…-i + ziarah
==> menziarahi
peng- + ziarah
==> penziarah
meng-…-i + syukur
==> mensyukuri
peng-…-an + syukur
==> pensyukuran

(4) Awalan meng- dan peng- tetap menjadi meng- dan peng- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /k, g, h, kh, dan vokal/.

Misalnya:
meng-/peng- + karang ==> mengarang, pengarang
meng-/peng- + ganggu
==> mengganggu, penggangu
meng-/peng- + hasut
==> menghasut, penghasut
meng-/peng- + khitan
==> mengkhitan, pengkhitan
meng-/peng- + atur
==> mengatur, pengatur
meng-/peng- + ekor ==> mengekor, pengekor
meng-/peng- + inap
==> menginap, penginap
meng-…-i + obat
==> mengobati
peng-…-an + obat
==> pengobatan
meng-/peng - + ukur
==> mengukur, pengukur

(5) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi meny- dan peny- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /s/.

Misalnya:
meng-/peng- + sayang ==> menyayang,penyayang
meng-/peng- + sapa
==> menyapa, penyapa
meng-/peng- + sulap
==> menyulap, penyulap
meng-/peng- + sikat
==> menyikat, penyikat

(6) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi menge- dan penge- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang hanya terdiri atas satu suku kata.

Misalnya:
meng-/peng- + cat ==> mengecat, pengecat
meng-/peng- + bom
==> mengebom, pengebom
meng-/peng- + las
==> mengelas, pengelas
meng-/peng- + pel
==> mengepel, pengepel
meng-/peng - + cek
==> mengecek, pengecek
meng-/peng- + tes
==> mengetes, pengetes

(7) Fonem /k, p, t, s/ pada awal kata dasar luluh jika mendapat awalan meng- dan peng-.

Misalnya:
meng-/peng- + kikis ==> mengikis, pengikis
meng-/peng- + pukul
==> memukul, pemukul
meng-/peng- + tukar
==> menukar, penukar
meng-/peng- + suntik
==> menyuntik, penyuntik

Perubahan dan peluluhan dalam proses pembentukan kata tersebut terjadi karena fonem-fonem yang bersangkutan, baik fonem nasal maupun fonem lain pada awal kata dasar, mengalami proses nasalisasi, yaitu proses penyesuaian fonem (bunyi) dengan fonem-fonem yang homorgan atau sebunyi. Jadi, proses nasalisasi dan asimilasi bunyi itulah yang menyebabkan timbulnya perubahan dan peluluhan.

Meskipun kaidahnya sudah jelas seperti itu, dalam kenyataan berbahasa masih ditemukan kata-kata bentukan yang bentuknya menyimpang dari kaidah. Beberapa kata bentukan dengan awalan meng- (-kan) dan peng- (-an) yang pembentukannya tidak sesuai dengan kaidah, antara lain, adalah mengetrapkan, mentrapkan, menterapkan, pengetrapan, pentrapan, penglepasan, dan pengrusakan. Bentukan kata tersebut dikatakan tidak tepat karena proses pembentukannya tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Agar dapat membentuk kata dengan benar dan mampu mengecek kebenaran bentukan kata, selain harus memahami proses pengimbuhan, kita juga dituntut untuk lebih “akrab” dengan kamus. Dengan menggunakan sebuah kamus, kita dapat mengecek kata dasar dari bentukan kata itu yang benar. Jika dilihat di dalam kamus, khususnya kamus bahasa Indonesia, kata dasar trap dirujuksilangkan (crossed reference) pada terap. Hal itu berarti bahwa kata dasar yang baku adalah terap, bukan trap. Oleh karena itu, jika ditambah dengan gabungan imbuhan meng-…-kan, bentukannya yang
benar menjadi menerapkan, bukan mengetrapkan, mentrapkan, atau menterapkan karena fonem /t/ pada awal kata dasar itu luluh jika mendapat imbuhan meng-, baik diikuti akhiran maupun tidak.
Begitu juga, jika ditambah dengan gabungan imbuhan peng-…-an, bentukannya yang benar adalah penerapan, bukan pengetrapan, pentrapan, atau penterapan. Dengan demikian, secara singkat, bentukan kata itu dapat dirangkum sebagai berikut.

BakuTidak Baku
menerapkanmengetrapkan,
mentrapkan, menterapkan
penerapanpengetrapan, pentrapan,
penterapan


Kata penglepasan oleh pemakai bahasa sering pula digunakan di samping kata pelepasan, tetapi keduanya diberi arti yang berbeda. Kata penglepasan umumnya diberi makna ‘proses, tindakan, atau hal melepaskan’, sedangkan pelepasan diberi makna ’anus’.

Kalau ditinjau dari segi kata dasarnya, kedua kata tersebut sebenarnya dibentuk dengan imbuhan dan dasar yang sama, yaitu peng-..-an + lepas. Sejalan dengan kaidah, imbuhan peng- berubah menjadi pe- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan /l/. Oleh karena itu, bentukannya yang tepat adalah pelepasan, bukan penglepasan. Masalah kata itu mempunyai dua makna yang berbeda sebenarnya tidak perlu dipersoalkan karena konteks pemakaiannya akan menentukan makna mana yang dimaksud. Jadi, untuk membedakan makna itu, pemakai bahasa tidak perlu membentuk kata itu dengan menyimpangkannya dari kaidah.

Berbeda dengan hal tersebut, kata perusakan dan pengrusakan tidak digunakan untuk menyatakan makna yang berbeda, demikian pula halnya dengan kata perajin dan pengrajin. Kata dasar dari kedua pasang kata tersebut, kita tahu, berawal dengan fonem /r/. Dalam kaitan itu, jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan /r/, awalan peng- berubah menjadi menjadi pe-. Atas dasar itu, bentukan kata-kata tersebut yang tepat adalah perusakan dan perajin, bukan pengrusakan dan pengrajin. Bandingkan dengan kata-kata lain, seperti perawat, perawatan, perumus, dan perumusan. Jadi, bentukan kata-kata tersebut, yang baku dan yang tidak baku, dapat dirangkum seperti berikut.


BakuTidak Baku
pelepasanpenglepasan
perusakpengrusak
perusakanpengrusakan
perajinpengrajin


Masalah berikutnya, kata menterjemahkan, mengkaitkan, menyolok, dan memroduksi bentukannya juga tidak tepat. Kata menterjemahkan, termasuk di dalamnya kata mentaati, dan mengkaitkan bentuk dasarnya masing-masing adalah terjemah, taat, dan kait. Menurut kaidah, fonem /t/ dan /k/, seperti halnya /p/ dan /s/, pada awal kata dasar mengalami peluluhan jika dirangkaikan dengan imbuhan meng- (dan peng), baik disertai akhiran maupun tidak. Oleh karena itu, bentukan kata-kata itu yang tepat adalah menerjemahkan, menaati, dan mengaitkan, bukan, menterjemahkan, mentaati, dan mengkaitkan.

Bandingkan dengan contoh lain di bawah ini.

meN- + tatap ==> menatap 
meN- + tulis ==> menulis
meng- + kupas ==> mengupas
meng- + potong ==> memotong
meng- + silang ==> menyilang
meng- + suluh ==> menyuluh

Bentukan kata menyolok, juga menyontoh, dan menyubit, dalam hal ini juga tidak tepat karena bentuk dasar kata-kata itu adalah colok, contoh, dan cubit, yang masing-masing berawal dengan fonem /c/. Dalam bahasa Indonesia, fonem /c/ pada awal kata dasar tidak luluh jika dirangkaikan dengan awalan meng-. Dengan demikian, bentuk kata-kata tersebut yang tepat adalah mencolok, mencontoh, dan mencubit, bukan menyolok, menyontoh, dan menyubit. Beberapa contoh lain dapat diperhatikan di bawah ini.

meng- + cuci ==> mencuci
meng-…-i + campur ==> mencampuri
meng-…-i + cinta ==> mencintai
meng- + cemooh ==> mencemooh

Gugus konsonan /pr/, /st/, /sk/, /tr/, /sp/, /kr/, dan /kl/pada awal kata dasar juga tidak luluh jika dirangkaikan dengan awalan meng-. Beberapa contohnya dapat diperhatikan di bawah ini.

meng- + produksi ==> memproduksi
meng- + protes ==> memprotes
meng- + proses ==> memproses
meng-…-kan + stabil ==> menstabilkan
meng-…-kan + skema  ==> menskemakan
meng- + tradisi ==> mentradisi
meng-…-i + sponsor ==> mensponsori
meng-... + kritik ==> mengkritik
meng- + klasifikasi ==> mengklasifikasi

Fonem /k/, /p/, /t/, dan /s/ pada gugus konsonan tersebut tidak luluh apabila mendapat imbuhan, baik meng- maupun peng-, kecuali fonem awal /p/ jika mendapat imbuhan peng-. Dalam hal ini, jika mendapat imbuhan meng-, fonem /p/ pada gugus konsonan /pr/ tidak luluh, tetapi jika mendapat imbuhan peng- fonem /p/ itu luluh.

Misalnya:
meng- + proses ==> memproses
meng- + produksi ==> memproduksi
peng- + proses ==> pemroses
peng- + produksi ==> pemroduksi

Peluluhan fonem /p/ pada awal kata yang berupa gugus konsonan didasarkan pada pertimbangan kemudahan dalam pelafalan. Dalam hal ini, kata pemroduksi dan pemroses, misalnya, dipandang lebih mudah dilafalkan daripada pemproduksi dan pemproses. Atas dasar itu, peluluhan fonem /p/ pada gugus konsonan /pr/ yang mendapat imbuhan peng- menjadi pengecualian dari kaidah.

Baca selanajutnya!

Jumat, 23 Maret 2018

Pengimbuhan

disalin dari Drs. Mustakim, M.Hum. Bentuk dan Pilihan Kata. Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta: 2014

Baca artikel sebelumnya


Pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan imbuhan pada kata dasar. Sehubungan dengan itu, imbuhan yang lazim digunakan sebagai unsur pembentuk kata dalam bahasa Indonesia, paling tidak, terdiri atas empat macam, dan masing-masing diberi nama sesuai dengan posisinya pada suatu kata.

Pertama, imbuhan yang terletak pada awal kata lazim disebut awalan (prefiks).
Kedua, imbuhan yang terletak pada akhir kata lazim disebut akhiran (sufiks).
Ketiga, imbuhan yang terletak pada tengah kata lazim disebut sisipan (infiks).
Keempat, imbuhan yang terletak pada awal kata dan akhir kata sekaligus lazim disebut gabungan imbuhan (konfiks).

Beberapa contoh imbuhan itu dapat diperhatikan di bawah ini.

a. Awalan
meng- ==> menulis, melamar, memantau
di- ==> ditulis, dilamar, dipantau
peng- ==> penulis, penyanyi, peramal
ber- ==> berkebun, bermain, bermimpi
ter- ==> terpaksa, terpadu, tersenyum
se- ==> serupa, senada, seiring

b. Akhiran
-an ==> tulisan, tatapan, tantangan
-i ==> temui, sukai, pandangi
-kan ==> tumbuhkan, sampaikan, umumkan

c. Sisipan
-el- ==> geletar, geligi, gelantung
-em- ==> gemuruh, gemetar
-er- ==> gerigi

d. Gabungan Imbuhan
meng-...-kan ==> menemukan, meratakan
meng-...-i ==> memandangi, mengunjungi
peng-...-an ==> pendidikan, pemandian
ke-...-an ==> kehujanan, kemajuan
se-...-nya ==> seandainya, sebaiknya
per-...-an ==> peraturan, persimpangan

Baca artikel berikutnya!

Bentuk Kata

disalin dari Drs. Mustakim, M.Hum. Bentuk dan Pilihan Kata. Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta: 2014


Dalam bahasa Indonesia secara umum bentuk kata itu terdiri atas dua macam, yaitu kata dasar dan kata bentukan. Kata dasar merupakan suatu kata yang utuh dan belum mendapat imbuhan apa pun. Dalam proses pembentukan kata, kata dasar dapat diartikan sebagai kata yang menjadi dasar bagi bentukan kata lain yang lebih luas. Dalam pengertian ini, kata dasar lazim pula disebut sebagai bentuk dasar, kata asal, dan ada pula yang menyebutnya sebagai dasar kata. Terkait dengan itu, untuk menghindari penyebutan yang berbeda-beda, dalam tulisan ini kata yang menjadi dasar bagi bentukan kata lain yang lebih luas disebut kata dasar.

Berbeda dengan itu, kata bentukan merupakan kata yang sudah dibentuk dari kata dasar dengan menambahkan imbuhan tertentu. Kata bentukan seperti ini lazim pula disebut dengan beberapa istilah yang berbeda-beda, misalnya ada  yang menyebutnya sebagai kata turunan, kata berimbuhan, dan ada pula yang menyebutnya kata jadian. Sehubungan dengan itu, untuk menghindari penggunaan istilah yang berbeda-beda, dalam tulisan ini istilah yang digunakan adalah kata bentukan.

Kedua bentuk kata tersebut, baik kata dasar maupun kata bentukan, akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikut.

Kata Dasar
Kata dasar selain dapat digunakan sebagai dasar bagi bentukan kata lain yang lebih luas, dapat pula digunakan tanpa ditambah dengan imbuhan apa pun. Kalimat berikut, misalnya, dibentuk dengan menggunakan kata dasar seluruhnya.

(1) Nanti siang Ratna akan pergi ke kampus.

Kalimat (1) terdiri atas tujuh kata, yaitu
(a) nanti,
(b) siang,
(c) Ratna,
(d) akan,
(e) pergi,
(f) ke, dan
(g) kampus.

Ketujuh kata yang membentuk kalimat (1) di atas seluruhnya berupa kata dasar. Kata-kata seperti itu dan beberapa kata lain yang tergolong sebagai kata dasar sudah diketahui dan sudah tersimpan di dalam memori para pengguna bahasa. Oleh karena itu, jika akan digunakan, kata-kata seperti itu tinggal dikeluarkan dari memori atau ingatan. Dengan demikian, dalam berbahasa tidak ada masalah jika informasi yang disampaikan seluruhnya dinyatakan dalam bentuk kata dasar.

Oleh karena itu, bentuk kata yang berupa kata dasar tidak akan dibahas lagi dalam tulisan ini. Masalah yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikut adalah kata bentukan karena bentuk kata yang berupa kata bentukan ini relatif kompleks dan banyak masalah.

Kata Bentukan
Seperti yang sudah disinggung pada bagian sebelumnya, kata bentukan dalam penggunaan bahasa relatif banyak masalah. Permasalahan yang sering timbul terkait dengan kata bentukan itu adalah masih banyak kata bentukan tidak benar yang selama ini digunakan oleh masyarakat dalam berbahasa, baik tulis maupun lisan. Atas dasar itu, agar kesalahan serupa tidak terulang secara terus-menerus, kata bentukan perlu dibahas lebih lanjut pada bagian berikut.

Kata bentukan yang selama ini sering digunakan dengan tidak benar, terutama, adalah yang dibentuk dengan pengimbuhan, misalnya kata merubah, merobah, mengetrapkan, mentrapkan, menterapkan, perobahan, pengetrapan, pentrapan, penglepasan, dan pengrusakan. Bentukan kata-kata tersebut dikatakan tidak benar karena proses pembentukannya tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Jika dilihat di dalam kamus, khususnya kamus bahasa Indonesia, kata robah dan rubah tidak akan ada, kecuali rubah yang berarti ‘binatang sejenis anjing’ (Canis vulpes). Kata yang akan kita jumpai di dalam kamus adalah ubah, bukan rubah atau robah. Kata dasar ubah jika ditambah dengan awalan meng- bentukannya menjadi mengubah. Dengan demikian, bentukan kata yang baku adalah mengubah, bukan merubah atau merobah. Atas dasar itu, kata dasar ubah jika diberi imbuhan per-
…-an
, bentukannya menjadi perubahan, bukan perobahan. Kemudian, jika kata dasar ubah itu diberi awalan di-, bentukannya menjadi diubah, bukan dirubah atau dirobah. Sejalan dengan itu, bentukan dari kata dasar ubah, yang baku dan yang tidak baku adalah sebagai berikut.

BakuTidak Baku
mengubahmerubah, merobah
diubahdirubah, dirobah perubahan perobahan


Kata bentukan yang dimaksud dalam hal ini adalah kata yang dibentuk dengan menambahkan imbuhan pada kata dasar. Karena dibentuk dengan menambahkan imbuhan, kata bentukan ini lazim pula disebut sebagai kata berimbuhan.

Pembentukan kata adalah proses membentuk kata dengan menambahkan imbuhan atau unsur lain pada kata dasar. Dalam bahasa Indonesia, pembentukan kata dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai cara. Cara yang dimaksud adalah sebagai berikut.
(1) Pengimbuhan
(2) Penggabungan kata dasar dan kata dasar
(3) Penggabungan unsur terikat dan kata dasar
(4) Pengulangan
(5) Pengakroniman\


Baca artikel berikutnya!