Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Jumat, 05 April 2019

Ragam penulisan kata bentuk terikat

Ivan Lanin 05:38 WIB - Senin, 05 Desember 2016

Kata bentuk terikat memang harus digabung, tapi ada pengecualian.


Dalam kaidah bahasa Indonesia, dikenal apa yang dinamakan dengan kata bentuk terikat. Jenis kata ini, penulisannya selalu digabungkan dengan kata berikutnya, misalnya kata antar- yang ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; antardaerah.

Ada banyak contoh kata bentuk terikat, di antaranya adipati, dwiwarna, paripurna, aerodinamika, ekapaksi, poligami, ekstrakurikuler, atau pramuniaga. Bentuk terikat antar- ini lazim digunakan sebagai terjemahan bentuk terikat inter- dalam bahasa Inggris, seperti dalam interracial = antar-ras.

Tanda hubung (-) dapat diberikan jika dianggap perlu untuk menegaskan pertalian, misalnya antar-daerah. Tanda hubung ini juga digunakan jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf kapital. Misalnya: non-Indonesia; pan-Afrikanisme; pro-Barat.

Terdapat beberapa catatan dalam bentuk terikat. Misalnya pada kata maha, bila merujuk kepada Tuhan yang diikuti oleh kata berimbuhan, gabungan itu ditulis terpisah dan unsur-unsurnya dimulai dengan huruf kapital. Misalnya kata maha yang diikuti pengasih (kata dasar: kasih), begitu pula bila diikuti kata pengampun (kata dasar: ampun).
  • Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
  • Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.
Namun bila kata maha--sebagai unsur gabungan--merujuk kepada Tuhan tetapi diikuti oleh kata dasar, gabungan itu ditulis serangkai. Misalnya kata maha yang diikuti kata kuasa (kata dasar: kuasa). Karena kata maha diikuti dengan kata dasar, penulisannya tetap serangkai. Aturan ini dikecualikan untuk kata esa.
  • Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
  • Mudah mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
Ada kalanya kata yang berbentuk terikat bisa berdiri sendiri, dan dapat digunakan sebagai bentuk dasar. Terutama serapan dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, seperti pro, kontra, dan anti. Misalnya:
  • Sikap masyarakat yang pro lebih banyak daripada yang kontra.
  • Mereka memperlihatkan sikap anti terhadap kejahatan.
Catatan lain, kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan. Penulisannya serangkai dengan bentuk dasar yang mengikutinya, misalnya: taklaik terbang; taktembus cahaya. Namun ditulis terpisah jika diikuti bentuk berimbuhan; tak bersuara; tak terpisahkan. Begitu pula apabila tidak membentuk peristilahan, misalnya tak bisa, tak lagi.

Bentuk terikat menurut KBBI:

Proklitik "ku" dan "kau"

Kau harus kusambung


Kata "ku" dan "kau" merupakan bentuk ringkas dari kata ganti (pronomina) "aku" dan "engkau". Bentuk ringkas ini disebut "klitik" yang selalu ditulis serangkai dengan kata lain yang mengikuti atau mendahuluinya.

Klitik "ku" dapat diletakkan di depan (misalnya kubuka) atau di belakang suatu kata (misalnya bukuku), sedangkan klitik "kau" hanya dapat diletakkan di depan suatu kata (misalnya kaubuka).

Bentuk klitik orang kedua yang kita pakai di belakang suatu kata bukanlah "-kau", melainkan "-mu" (bentuk ringkas dari "kamu").

Klitik yang diletakkan di depan suatu kata disebut "proklitik". Proklitik "ku-" dan "kau-" hanya dapat dilekatkan dengan kata kerja (verba) pasif dan berfungsi sebagai penunjuk pelaku. Berikut arti kata yang dibentuk oleh kedua proklitik ini.

(1) kubaca = dibaca oleh aku
(2) kausambung = disambung oleh engkau

Proklitik "ku-" dan "kau-" tidak dapat diikuti oleh kata kerja aktif, misalnya kumembaca atau kaumenyambung. Untuk keperluan ini, gunakan bentuk panjang "aku" dan "engkau" (atau "kamu").

Klitik yang diletakkan di belakang suatu kata disebut "enklitik". Enklitik "-ku" dan "-mu" (bukan "-kau") berfungsi sebagai penunjuk pemilik atau tujuan.

(3) bukuku = buku milik aku
(4) mengirimimu = mengirim kepada kamu

Selain sebagai klitik, "kau" dapat dipakai sebagai kata yang berdiri sendiri sebagai sinonim "engkau", tetapi "ku" tidak dapat berdiri sendiri. Contoh #5 dan #6 berikut benar, sedangkan #7 dan #8 salah.

(5) Kau ikut, tidak? = Engkau ikut atau tidak?
(6) Kau harus ikut = Engkau harus ikut
(7) Ku ikut, dong (seharusnya "Aku ikut, dong")
(8) Ku ikuti kamu (seharusnya "aku ikuti kamu" atau "kuikuti kamu")

Perlu diingat, baik "aku", "engkau", maupun "kamu" adalah kata ganti yang dipakai dalam ragam tidak formal yang menunjukkan keakraban. Demikian pula klitik "ku-", "-ku", "kau-", dan "-mu". Jangan pakai kata-kata ini kepada orang yang lebih tua atau lebih dihormati, kecuali dalam situasi akrab yang diizinkan.

Simpulan:

1. "ku" selalu dilekatkan dengan kata yang mengikuti atau mendahuluinya;
2. "kau" dapat dilekatkan atau dipisahkan dengan kata yang mengikutinya;
3. "mu" selalu dilekatkan dengan kata yang mendahuluinya;
4. Proklitik "ku-" dan "kau-" hanya dapat dilekatkan dengan kata kerja pasif.

Info Penting Kebahasaan dari Ivan Lanin di Twitter

Perangkaian kata kerja dengan "ku-" menghasilkan kata kerja pasif. Contoh: kulihat = dilihat olehku. Oleh karena itu, struktur "kumelihat" itu tidak ada dan harus ditulis lengkap "aku melihat".

"takkan" tidak baku. Umumnya dipakai dlm ragam sastra. Gunakan "tidak akan" dlm ragam formal.

Warganet yang kritis, tolong perhatikan perbedaan arti "padanan" dan "sinonim" ketika mengajukan pertanyaan:
- padanan = kata dalam BAHASA LAIN yang maknanya mirip
- sinonim = kata dalam BAHASA YANG SAMA yang maknanya mirip

Simbol derajat (°) digunakan untuk sudut dan suhu. Yang pertama tanpa spasi di antara angka dan simbol, sedangkan yang kedua dengan spasi. Contoh:
- Sudut: 30° 12′ 5″
- Suhu: 30 °C
#PUEBI belum mengatur secara khusus penulisan simbol ini. Rujukan:

"Legalisir" adalah bentuk tidak baku dari "legalisasi". Artinya sama saja. Yang pertama diserap dari bahasa Belanda "legaliseren", sedangkan yang kedua dari bahasa Inggris "legalization". Orang tua kita cenderung memakai bentuk yang pertama.



Tengtang Kalimat Pembuka dan Penutup Surat

dari twitter Ivan Lanin


Pasal 96 Perka ANRI 7/2018 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan ANRI mengatur paragraf pembuka surat dinas sebagai berikut:

Kalimat yang diizinkan:
1. Sesuai dengan surat Saudara Nomor ... tentang ..., dengan ini kami sampaikan hal sebagai berikut
2. Sehubungan dengan surat Saudara Nomor ... tentang ..., kami menyampaikan jawaban sebagai berikut
3. Melalui surat ini kami beritahukan ...

Kalimat yang tidak diizinkan:
1. Menunjuk hal pada pokok surat tersebut di atas, dengan ini kami sampaikan hal sebagai berikut:
2. Menjawab surat Saudara Nomor ...


Pasal 96 Perka ANRI 7/2018 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan ANRI mengatur paragraf penutup surat dinas sebagai berikut:
1. Atas perhatian Bapak/Ibu/Saudara, kami ucapkan terima kasih.
2. Atas perhatian dan kesediaan Bapak/Ibu/Saudara, kami ucapkan terima kasih.
3. Atas perhatian dan kerja sama Bapak/Ibu/Saudara, kami sampaikan terima kasih.

Kalimat yang tidak diizinkan:
1. Atas perhatiannya, diucapkan terimia kasih.
2. Demikian atas bantuan Saudara, kami ucapkan terima kasih.
3. Demikian yang dapat kami sampaikan. Atas perhatian dan kerja samanya, diucapkan terima kasih.
4. Demikian harap maklum adanya.

Ivan Lanin @ivanlanin Mar 22
Bagian yang diawali "menunjuk", "menjawab", "menindaklanjuti", dsb. adalah anak kalimat yang mestinya diawali kata hubung seperti "untuk" atau "dengan". Tanpa kata hubung, kalimat semacam itu menjadi tidak gramatikal. Perbaikan: Untuk menjawab surat ..., kami sampaikan ...

Klitik "-nya" pada "atas perhatiannya" tidak jelas merujuk kepada siapa dan mesti diganti dengan acuan spesifik seperti "Bapak/Ibu/Saudara". Perbaikan: Atas perhatian Bapak/Ibu/Saudara ....

Konstruksi pasif "diucapkan terima kasih" mestinya "terima kasih diucapkan (oleh ...)". Perbaikan (konstruksi aktif): Kami (meng)ucapkan terima kasih. "Mengucapkan" tidak hanya "melafalkan", tetapi juga "menyatakan". Kata ini bisa dipakai untuk pernyataan tertulis.

Kata "demikian" pada "demikian atas ..." nirfaedah karena tidak memberikan informasi tambahan apa pun. Kalimat "Demikian yang dapat kami sampaikan" itu pun nirguna karena semua surat dibuat untuk disampaikan. Buang saja.