Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Minggu, 17 Juli 2016

Pemakaian Kata Sebentar, Sejenak, Sekejap, Sekilas, Sepintas, dan Sejurus




Pemakaian Kata Sebentar, Sejenak, Sekejap, Sekilas, Sepintas, dan Sejurus
Keenam kata ini, sebentar, sejenak, sekejap, sekilas, sepintas, dan sejurus, memiliki makna yang hampir sama, yaitu menggambarkan waktu yang amat singkat atau amat pendek. Akan tetapi, jika diamati lebih teliti, terlihat bahwa kata-kata itu berbeda pemakaiannya.
Perhatikanlah contoh-contoh berikut.


(1) Coba perhatikan     sebentar   lukisan itu.
sejenak
sepintas
sekilas
*sekejap
*sejurus

(2) Ia memandangku     sebentar
sejenak
sepintas
sekilas
sekejap
sejurus

(3) Bacalah     sebentar   halaman tujuh belas ini!
sejenak
sepintas
sekilas
*sekejap
*sejurus

(4) Budi    [ berhenti ]   
   [ berpikir ]
   [ tertegun ]
sebentar
sejenak
*sepintas
*sekilas
*sekejap
sejurus

(5)
(a)  Sebentar,  ya!
*Sejenak,
*Sepintas,
*Sekilas,
*Sekejap,
Sejurus,

(b)  Sebentar  saja.
Sejenak
Sepintas
Sekilas
Sekejap
Sejurus

(c) Coba saja ke sini     sebentar!
*sejenak!
*sepintas!
*sekilas!
*sekejap!
*sejurus!

Contoh-contoh di atas memperlihatkan bahwa keenam kata itu tidak selalu dapat dipakai pada setiap bentukan kalimat. Tanda asteris (*) menunjukkan pemakaian kata yang tidak berterima. Mengapa demikian? Bagaimana cara membedakan pemakaian kata-kata itu?

Sekurang-kurangnya ada empat cara yang dapat digunakan untuk melihat perbedaan pemakaian keenam kata itu, yaitu:
  1. dengan mengamati jenis verba (kata kerja) yang didampingkan dengan setiap kata di antara keenam kata itu, misalnya verba yang menyatakan tindakan yang dilakukan mata (melihat, memandang, dan menyaksikan) atau verba yang berkaitan dengan aktivitas tubuh (berhenti, tertegun, dan diam);
  2. dengan mengamati jenis-jenis bangun kalimat yang menggunakan setiap kata di antara keenam kata itu, misalnya bangun kalimat deklaratif (kalimat berita) atau bangun kalimat imperatif (kalimat perintah);
  3. dengan mengamati makna semantis kata-kata itu;
  4. dengan mengamati ragam bahasa yang menggunakan kata itu, misalnya ragam tulis atau ragam lisan, ragam resmi atau ragam tak resmi.

Sebentar dan Sejenak 
Dari contoh-contoh yang disajikan di atas, ternyata kata sebentar dan sejenak hadir dalam contoh 1-4. Akan tetapi, di antara kedua kata itu, kata sebentar memiliki peluang paling besar dalam pemakaiannya, apalagi dalam ragam lisan atau ragam tak resmi, lihat contoh (5). Kata sebentar kecil kemungkinannya dapat diganti dengan kata sejenak.

Sejenak
Kata sejenak lebih luas kemungkinan perangkaiannya daripada kata sekejap, sekilas, dan sepintas. Kata sejenak menggambarkan ketenangan, ketaktergesaan atau ketaktegangan. Oleh karena itu, kata sejenak dapat dirangkaikan dengan verba seperti bergembiralah, nikmatilah, duduklah, bacalah, lihat contoh (6) atau verba seperti renungkan, pandanglah, amatilah, dengarkan, pikirkan, lihat contoh (7) yang menggambarkan suasana tenang, tanpa ketegangan.

(6)     a) Bergembiralah sejenak bersama kelompok lawak itu!
b) Nikmatilah sejenak sajian musik itu!
c) Duduklah sejenak sambil menikmati hidangan sekadarnya!
d) Bacalah sejenak cerpen ini!

(7)    Coba    renungkan  sejenak/sebentar!
pandanglah
amatilah
dengarkan
pikirkan

Akan tetapi, terasa janggal jika kata sejenak dirangkaikan dengan verba yang membayangkan kata ketergesaan atau "usaha yang keras", seperti terlihat pada contoh (8) berikut:


(8)    Tuliskan   sebentar!
  *sejenak!
Selesaikan
Bersihkan
Bantulah
Ajarilah
Bekerjalah

Sekejap dan Sekilas
Kedua kata ini, sekejap dan sekilas, cenderung hanya dapat disambungkan dengan verba yang berkaitan dengan indera penglihatan, seperti memandang, melihat, dan tampak, misalnya:


(9)     a) Orang itu memandang sekejap/sekilas.
b) Orang tua itu menghilang dalam sekejap mata.
c) Sekilas tampak bayangan wajahnya.

Sepintas
Kate sepintas tampaknya dapat didampingkan dengan verba yang berkaitan dengan indera penglihatan (memandang), verba kesadaran (merenung),dan verba komunikasi (berbicara), serta verba yang berkaitan dengan indera pendengaran, misalnya:

(10)     a) "Mungkin saja hal itu terjadi," pikirnya sepintas lalu.
b) la terlibat dalam percakapan sepintas.
c) Sepintas (lalu) saya pernah melihat tontonan sulap itu.
d) Saya mendengar siaran berita sepintas (lalu).

Dalam bangun kalimat imperatif, kata sepintas tampak janggal digunakan jika didampingkan dengan verba kesadaran dan verba yang berkaitan dengan indera pendengaran. Perhatikan contoh berikut.

(11)     a) *Dengarkanlah nyanyian itu sepintas!
b) *Pikirkanlah masalah itu sepintas!


Kejanggalan itu timbul karena, secara semantik, kata sepintas itu bermakna 'sepenggal' atau 'sepotong'. Oleh karena itu, kata sepintas sangat mungkin didampingkan dengan verba yang menyangkut indera penglihatan (bacalah, amatilah) dalam bangun kalimat imperatif misalnya:

(12)     a) Bacalah halaman 17 itu sepintas!
b) Amatilah lukisan itu sepintas!

Sejurus 
Pemakaian kata sejurus terbatas perangkaiannya dengan jenis verba tertentu yang tidak menggunakan gerakan badan, tetapi pemunculannya hanya mungkin pada bangun kalimat deklaratif, seperti terungkap pada contoh berikut.


(13)      a) Dipandangnya aku sejurus.
b) "...", katanya setelah berpikir sejurus.
c) Dia diam sejurus.
d) Makannya terhenti sejurus.
e) Kuukur ketulusan ucapan gadis itu sejurus.
f) *la berlari sejurus.
g) *la makan sejurus.


Jika ditinjau lebih jauh lagi, kata sejurus berjangka waktu yang pendek. Bandingkanlah ukuran waktu yang tentu pada contoh (14) dan ukuran waktu yang tak tentu pada contoh (15) berikut ini.

(14)    tiga jamkemudian
dua menit    lagi
satu detik lamanya

(9)     a) sebentar/sejurus kemudian
b) sebentar/sejurus lagi
c) sejurus lamanya.



Baca juga:
Makna Kata Hijrah dan Hijriah
Makna Kata Kilah dan Tukas
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan
Kata Bahasa Indonesia
Penulisan Kata yang Benar
Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat
Kata Si dan Sang
Pemenggalan Kata

 

Kamis, 14 Juli 2016

Makna Kata Hijrah dan Hijriah


Kata hijrah yang digunakan dalam kalimat seperti

Tahun baru Hijrah jatuh pada tanggal 14 Agustus 1988 

dan

Tahun 1408 Hijrah akan kita tinggalkan.

tidaklah tepat.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kita tidak menemukan kata hijrah dengan makna 'nama tarikh Islam', tetapi yang kita temukan makna (1) pemutusan pertalian Nabi Muhammad saw. dengan suku bangsa di Mekah (Nabi Muhammad saw. meninggalkan Mekah, berpindah ke Medinah)' dan (2) 'mengungsi dan berpindah'. Di dalam bahasa Arab cara yang digunakan untuk membentuk adjektiva yang bermakna berhubungan, berkaitan, bertalian dengan kata dasarnya, adalah dengan menambahkan akhiran --iy (ya nisbah) dan --iyah pada nomina.

Jika kata dasarnya berupa nomina yang tergolong maskulin (muzakkar), akhiran yang digunakan umumnya akhiran i. Kata Masih, Malik, dan Iraq, jika diberi akhiran yang menyatakan nisbah, masing-masing menjadi Masihi (Masehi) yang berarti (1) 'yang mengikuti Isa Almasih' dan (2) 'perhitungan tanggal yang berdasarkan kelahiran Almasih'; Maliki yang berarti 'pengikut atau mazhab yang didasarkan atas Imam Malik', Iraqi yang berarti 'orang yang berbangsa Irak'.

Kata dasar feminin (muannas) dijadikan adjektiva dengan pengimbuhan akhiran -iah. Kata hijrah, misalnya, menjadi hijriah, yakni nama tarikh Islam yang didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw.; fitrah menjadi fitriah 'yang berkaitan dengan fitrah'.

Di samping itu, terdapat pula kata bentukan dengan akhiran -iah, yang dibentuk dari kata dasar maskulin. Misalnya, Muhammad, Islam, khilaf, dan imsak menjadi Muhammadi(y)ah 'yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw.; Islamiah 'yang berhubungan dengan agama Islam'; khilafiah 'yang berkaitan dengan khilaf (perbedaan pendapat)'; imsakiah 'yang berkaitan dengan imsak.'

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa penggunaan kata hijrah yang mengacu ke penanggalan yang didasarkan pada berpindahnya Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Madinah tidak tepat. Bentuk yang tepat untuk itu adalah hijriah. Jadi, kalimat contoh di atas seharusnya

Tahun baru Hijriah jatuh pada tanggal 14 Agustus 1988 Masehi 

dan

Tahun 1408 Hijriah akan kita tinggalkan.



Baca juga:
Makna Kata Acuh dan Tayang
Makna Kata Kilah dan Tukas
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan

Makna Kata Acuh dan Tayang

Kata acuh, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), berarti 'peduli, mengindahkan'. Kata acuh lebih sering muncul dalam bentuk tidak acuh, acuh tak acuh, dan tidak mengacuhkan. Dalam percakapan tidak resmi, pemakaian kata acuh dengan nada tertentu sering kali justru sama maknanya dengan tidak acuh. Demikian pula kata peduli dan tahu, jika diucapkan dengan intonasi tertentu, maknanya sama dengan tidak peduli dan tidak tahu. Dalam bahasa tulis pemakaian seperti itu hendaklah dihindari, apalagi jika diingat bahwa tanda-tanda yang melambangkan intonasi yang dimaksud tidak tersedia. Wacana (1) berikut ini memuat pemakaian kata mengacuhkan yang tidak tepat, sedangkan wacana (2) memuat pemakaiannya yang tepat.

(1) Didi diperingatkan oleh gurunya agar tidak berisik. Dia mengacuhkan saja peringatan itu dan terus bercakap dengan temannya.
(2) Di tikungan itu sering terjadi kecelakaan. Hal itu seharusnya dapat dihindari jika para pengemudi mau mengacuhkan rambu-rambu yang ada.

Kata lain yang menjadi sinonim mengacuhkan adalah menghiraukan, memperhatikan, memedulikan, dan mengindahkan.

Akhir-akhir ini dipakai kata tayang, menayangkan. Sebetulnya bukanlah kata yang baru sebab sudah lama tercatat dalarn KUBI. 'Menayangkan' artinya (1) 'membawa sesuatu di telapak tangan' dan (2) 'mempersembahkan (dalam arti mempertunjukkan film dan sebagainya)'. Dalam beberapa bahasa daerah pun ada kata tayang, misalnya, dalam bahasa Alas di Daerah Istimewa Aceh dengan arti 'melemparkan benda dengan sekuat-kuatnya sehingga benda itu melayang-layang'. Tampaklah di sini adanya perkaitan arti. Dengan adanya kata itu, di samping memutar film, menyajikan film, mempersembahkan film, kita dapat juga mengatakan menayangkan film. Keuntungan lain, kita dapat mengatakan menayangkan salindia (slide) dan ini lebih tepat daripada memutar salindia.



Baca juga:
Makna Kata Kilah dan Tukas
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan

 

 



Rabu, 13 Juli 2016

Makna Kata Kilah dan Tukas



Jika sebuah kata tidak dipahami maknanya, pemakaiannya pun mungkin tidak akan tepat. Hal itu akan menimbulkan keganjilan, kekaburan, dan salah tafsir. Berikut ini akan dibahas kata kilah dan tukas yang sering dipakai secara tidak tepat.

Kata kilah disamakan dengan kata kata atau ujar sehingga berkilah dianggap sama dengan berkata atau berujar dan kilahnya dianggap sama dengan katanya atau ujarnya. Hal ini terlihat dalam wacana berikut.

(1) Kemarin Tuti dibelikan baju baru oleh Doni, kakaknya. Dengan senang hati dia menerimanya. "Terima kasih," kilahnya kepada Doni.

Kalau kita membuka Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), akan kita temukan kata kilah dengan makna 'tipu daya' atau 'dalih'. Jadi, pemakaiannya seperti pada wacana (1) tidaklah tepat. Berkilah artinya 'alasan untuk membantah pendapat orang'.
Perhatikan contoh berikut.

(2) Dalam pertandingan semalam, penampilannya begitu buruk sehingga dia mengalami kekalahan telak. Atas kekalahannya itu dia berkilah bahwa suhu udara sangat rendah sehingga gerakan tubuhnya terhambat. 
(3) Banyak soal ujian yang tidak dapat dikerjakannya. Kali ini tampaknya persiapannya kurang. "Saya tidak dapat belajar. Rumah saya terlalu bising," kilahnya. 

Dalam contoh (2) suhu udara dijadikan alasan kekalahan untuk menolak adanya pendapat yang lain. Demikian juga dalam contoh (3), kebisingan di rumah dijadikan alasan kurangnya persiapan untuk menutupi kekurangan lain yang sebenarnya.

Kata berdalih merupakan sinonim berkilah. Berdalih artinya 'mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatan'. Berikut ini contoh pemakaiannya.

(4) Ucok ingin menjual sepedanya untuk membayar utang. Kepada ibunya dia berdalih bahwa sepedanya itu sudah tidak baik lagi jalannya. 

Kata tukas juga sering digunakan dengan pengertian keliru. Kata tukas sering diartikan 'menjawab atau menanggapi perkataan orang dengan cepat' seperti contoh berikut:

(5) Edi bertanya kepada Pak Amir, "Pak, apakah persoalan ini perlu dibicarakan dengan Pak Hasan atau,.." 
"Tidak perlu lagi," tukas Pak Amir. 


Arti kata tukas yang benar, seperti tercantum dalam KUBI, adalah 'menuduh tidak dengan alasan yang cukup'. Berikut ini contoh pemakaiannya.

(6) Retno mendapatkan tasnya telah terbuka dan dompet berisi uang serta surat-surat penting telah lenyap dari sana. Dengan pikiran kalut dia menengok ke kiri ke kanan dan melihat orang yang rasa-rasanya selalu mengikutinya. "Pasti engkaulah yang mengambil dompetku," tukasnya kepada orang itu. 

Selain itu, ada pula kata tukas yang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti 'mengulangi lagi' (permintaan, jawaban, panggilan, dan sebagainya). Berikut ini contoh pemakaiannya.

(7) "Jangan berhujan-hujan. Nanti Ibu marah," kata Titi kepada adiknya. "Tidak peduli," jawab adiknya. "Nanti kau dihukum," kata Titi lagi. "Tidak peduli," tukas adiknya.



Baca juga:
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan
Kata Bahasa Indonesia
Penulisan Kata yang Benar
Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat
Kata Si dan Sang
Pemenggalan Kata

Nuansa Makna dalam Kata

Dalam membuat kalimat, terutama jika kita menulis, diperlukan kecermatan dalam memilih kata (diksi). Untuk kecermatan pemilihan kata, selayaknyalah kita memperhatikan adanya kata-kata yang mengandung makna yang hampir sama. Berikut ini adalah senarai kata yang bernuansa makna, yang untuk perbandingan dipasangkan dengan padanan bahasa Inggris.

IndonesiaInggris
laik, layak worthy
pantas proper
patut fitting; fair; decent
sesuai suitable
wajar natural
adi- super-
istimewa extraordinary
prima prime
ultra- ultra-
unggul superior; excellent
utama prominent
abadi perpetual
amerta immortal
awet durable
baka everlasting
kekal eternal
magun; permanen permanent
tetap constant
melompat to jump
meloncat to hop
melonjak to Ieap
menanjak, melandai to slope
mendaki to climb, to scale
perencanaan planning
rencana plan
jadwal schedule
program program
agenda; acara agenda
rancangan; desain design
hampa; vakum vacuum
lompong void
kosong empty
blanko; kosong blank
luang free
lowong; lowongan vacant; vacancy
nihil nil; nought
undang-undang dasar constitution
undang-undang legislation
tata; orde order
hukum law
kaidah rule
dalil proposition; thesis; theorem
aturan regulation
norma norm
patokan; kriteria criterion
sistem system
pelengkap; aksesori accessory
aparat; radas apparatus
peranti appliance
perkakas; alat implement; tool
perabot utensil
perlengkapan equipment
instrumen instrument
gawai device
sarana means
prasarana infrastructure
suku part
acang gadget





Baca juga:
Kata Ranking dan Langganan
Kata Bahasa Indonesia
Penulisan Kata yang Benar
Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat
Kata Si dan Sang
Pemenggalan Kata

Kata Ranking dan Langganan


Kata ranking sering digunakan pada kalimat seperti berikut.

(1) Di kelasnya dia menduduki ranking kedua.

Kata ranking di sini diartikan 'peringkat'. Pengertian ini tidak tepat. Dalam bahasa Inggris kata ranking sesungguhnya berarti 'pemeringkatan'. Perneringkatan adalah proses menyusun urutan berdasarkan tolok ukur tertentu. Kedudukan dalam urutan itu disebut peringkat atau rank.
Dalam kalimat (1) di atas kita seharusnya tidak menggunakan kata ranking, tetapi peringkat. (Kata rank yang sepadan dengan peringkat tidak kita serap).

Kalimat itu perlu diubah menjadi:

(1a) Di kelasnya dia menduduki peringkat kedua.

Kata langganan sering digunakan dalam katimat seperti berikut.

(2) Saya ingin langganan majalah itu. 

Kata langganan bukanlah verba, melainkan nomina. Verbanya adalah melanggani atau berlangganan. Kalimat (2) itu dapat diperbaiki menjadi (a) ataupun (b).

(2a) Saya ingin melanggani majalah itu. 
(2b) Saya ingin berlangganan majalah itu. 

Kata langganan dapat digunakan seperti dalam kalimat

(3) Uang langganan dapat dibayarkan sebulan sekali. 



Baca juga:
Kata Bahasa Indonesia
Penulisan Kata yang Benar
Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat
Kata Si dan Sang
Pemenggalan Kata

 

 

 

 

 

Senin, 11 Juli 2016

Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat

Imbuhan pada sebuah verba memberikan makna tertentu pada verba itu. Oleh sebab itu, pemakalannya pun harus dilakukan secara cerrnat. Berikut ini beberapa contoh pemakaian imbuhan, dalam hal ini akhiran, yang perlu diperhatikan.

(1) Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan iman.

Akhiran -kan pada kata diberikan seharusnya tidak muncul. Kalimat itu seharusnya berbunyi:

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan iman.

atau

Semoga kekuatan iman diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Bandingkan dengan kalimat-kalimat berikut.

(2) Saliman memberi adiknya buku baru.
(3) Adiknya diberi (Saliman) buku baru. 
(4) Saliman memberikan buku baru kepada adiknya. 
(5) Buku baru diberikan (Saliman) kepada adiknya. 

Perhatikan pula penggunaan akhiran -kan pada contoh berikut.

(6) Gubernur menugaskan walikota untuk menyelesaikan masalah itu. 

Bentuk menugaskan tidak tepat digunakan dalam kalimat di atas. Bentuk yang seharusnya digunakan ialah menugasi sehingga kalimat perbaikannya menjadi seperti berikut.

(6a) Gubernur menugasi walikota untuk rnenyelesaikan masalah itu. 

Agar lebih jelas perhatikan kalimat-kalimat berikut.

(7) la menugaskan penyusunan buku itu kepada saya.
(8) Penyusunan buku itu ditugaskan kepada saya.
(9) la menugasi saya (untuk) menyusun buku.
(10) Saya ditugasi (untuk) menyusun buku.

Dari contoh-contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa menugaskan berarti 'menjadikan tugas', sedangkan menugasi berarti 'memberi tugas kepada'.



Baca juga:
Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?
Singkatan dan Akronim
Di mana, yang mana
... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)
Izin atau Ijin - Kata yang Sering Salah Eja

Kata Bahasa Indonesia


adikara: (1) (yang) berkuasa; (2) dengan kekuasaan (secara diktator); (3) diktator; (4) kekuasaan, kewibawaan

adikodrat: yang melebihi atau di luar kodrat alam anjangkarya: berkunjung atau perkunjungan ke suatu tempat sambil menjalankan tugas (biasanya dilakukan oleh pejabat pemerintah)

awa: unsur terikat untuk menyatakan hilang; misalnya awahama, mengawahamakan, membersihkan diri dari hama penyakit

ayom, mengayomi: melindungi; pengayoman; perlindungan, lindungan

bagur: (1) lekas menjadi besar (gemuk) dan tinggi; (2) besar dan tingginya luar biasa

bahang: hawa panas (karena nyala api atau dari panas tubuh)

bernas: (1) berisi penuh (tentang susu, butir padi, bisul, dsb.); misalnya bernas susunya; bisulnya telah bemas; hampir memecah; (2) akan banyak hasilnya (tentang tanaman padi, dsb.); misalnya tanaman padi yang bernas; (3) banyak isinya (tentang perkataan, pidato, dsb.); misalnya ceramah yang bernas dan bermutu tinggi

bonsai: tumbuhan atau perdu yang tumbuh menjadi sangat kerdil, yang diperoleh dengan menanamnya dalam pot melalui cara tertentu

cabar: (1) tawar hati; hilang keberanian; takut; penakut; mencabarkan (hati); ketawaran hati; ketakutan; (2) kurang ingat-ingat; kurang hemat; lalai

cagar: (1) barang dsb. yang dipakai sebagai tanggungan utang; barang yang digadaikan; (2) panjar; mencagarkan; memberikan barang dsb. untuk tanggungan ulang; menggadaikan; misalnya mencagarkan sawah

cangkang: (1) kulit telur; (2) rumah siput atau kerang

dedah, mendedahkan: membuka (kain dsb.); menyingkap; memajankan, terdedah; terbuka; tersingkap; terpajan

ejawantah, mengejawantah: penjelmaan; pernyataan; manifestasi; perwujudan atau malerialisasi dari suatu posisi, kondisi, situasi, semangat, pendirian, sikap, kekuatan, kekuasaan, dsb.; misalnya politik nonblok RI terjelma dari kecintaannya terhadap kemerdekaan dan sebagai pengejawantahan dari kekuatan Indonesia; demonstrasi pelajar dan mahasiswa itu merupakan pengejawantahan sikap angkatan muda yang menentang tindakan sewenang-wenang dari pihak penguasa

fatwa: (1) jawab (keputusan) yang diberikan oleh ahli hukum Islam, terutama oleh mufti tentang suatu masalah; (2) nasihat orang alim; pelajaran (nasihat) baik; berfatwa: memberikan petuah, menasihatkan

langgam: (1) cara; ragam; model; gaya; misalnya Ianggam baju Jawa; langgam bahasanya mendekati cerita baru; gaya bahasanya; (2) adat kebiasaan; misalnya negeri yang sama langgamnya; (3) irama lagu (nyanyian); misalnya mana yang kausukai,  hinggam atau keroncong

lir: seperti; misalnya lir sari, yang seperti bunga (perempuan yang elok)

niskala: (1) tidak berwujud; tidak berbenda; (2) mujarad; abstrak

pakar: (orang) ahli; (orang) pandai-pandai

ranah: domain

senarai: daftar, misalnya senarai nama pengarang

telingkah, bertelingkah: (1) tidak bersatu hati; berselisih; bercekcok; (2) tidak dapat dipersatukan

warakawuri: wanita yang menjanda karena kematian suami



Baca juga:
Penulisan Kata yang Benar
Proses Pembentukan Istilah Bahasa Indonesia
ingkatan dan Akronim
Di mana, yang mana
... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)
Izin atau Ijin - Kata yang Sering Salah Eja

 

Penulisan Kata yang Benar

Penulisan Kata yang Benar

BenarSalah
Amir S.H.Amir SH. (sarjana hukum)
Angkatan IVAngkatan Ke-1V
antarnegaraantar negara
daripadadari pada
KBRIK.B.R.1.
kuitansikwitansi
saya punsayapun
saptakridasapta krida
semifinalsemi final
si pengirimsipengirim
subsistemsub sistem
tunasosialtuna sosial
ultramodernultra modern
uang 500-anuang 500an
300 barel (tong)300 barrel
5 g5 gr.
10 km10 Km.
6 l6 Lt.


Baca juga:
Singkatan dan Akronim
Di mana, yang mana
... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)
Izin atau Ijin - Kata yang Sering Salah Eja

Minggu, 10 Juli 2016

Proses Pembentukan Istilah Bahasa Indonesia

1. Konsep Ilmu Pengetahuan dan Peristilahannya
Upaya kecendikiaan ilmuan (scientist) dan pandit (scholar) telah dan terus menghasilkan konsep ilmiah, yang pengungkapannya dituangkan dalam perangkat peristilahan. Ada istilah yang sudah mapan dan ada pula istilah yang masih perlu diciptakan. Konsep ilmiah yang sudah dihasilkan ilmuwan dan pandit Indonesia dengan sendirinya mempunyai istilah yang mapan. Akan tetapi, sebagian besar konsep ilmu pengetahuan modern yang dipelajari, digunakan, dan dikembangkan oleh pelaku ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia datang dari luar negeri dan sudah dilambangkan dengan istilah bahasa asing. Di samping itu, ada kemungkinan bahwa kegiatan ilmuwan dan pandit Indonesia akan mencetuskan konsep ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang sama sekali baru sehingga akan diperlukan penciptaan istilah baru.

2. Bahan Baku Istilah Indonesia
Tidak ada satu bahasa pun yang sudah memiliki kosakata yang lengkap dan tidak memerlukan ungkapan untuk gagasan, temuan, atau rekacipya yang baru. Bahasa Inggris yang kini dianggap bahasa internasional utama, misalnya, pernah menyerap kata dan ungkapan dari bahasa Yunani, Latin, Prancis, dan bahasa lain, yang jumlahnya hampir tiga perlima dari seluruh kosakatanya. Sejalan dengan itu, bahan istilah Indonesia diambil dari berbagai sumber, terutama dari tiga golongan bahasa yang penting, yakni
(1) bahasa Indonesia, termasuk unsur serapannya, dan bahasa Melayu,
(2) bahasa Nusantara yang serumpun, termasuk bahasa Jawa Kuno, dan
(3) bahasa asing, seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab.

3. Pemantapan Istilah Nusantara
Istilah yang mengungkapkan konsep hasil galian ilmuwan dan pandit Indonesia, seperti bhinneka tunggal ika, batik, banjar, sawer, gunungan, dan pamor, telah lama diterima secara luas sehingga dapat dimantapkan dan hasilnya dikodifikasi.

4. Pemadanan Istilah
Pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia, dan jika perlu ke salah satu bahasa serumpun, dilakukan lewat penerjemahan, penyerapan, atau gabungan penerjemahan dan penyerapan. Demi keseragaman, sumber rujukan yang diutamakan ialah istilah Inggris yang pemakaiannya bersifat internasional karena sudah dilazimkan oleh para ahli dalam bidangnya. Penulisan istilah serapan itu dilakukan dengan atau tanpa penyesuaian ejaannya berdasarkan kaidah fonotaktik, yakni hubungan urutan bunyi yang diizinkan dalam bahasa Indonesia.

4.1. Penerjemahan
4.1.1 Penerjemahan Langsung
Istilah Indonesia dapat dibentuk lewat penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna tetapi bentuknya tidak sepadan.

Misalnya:
supermarket ==> pasar swalayan
merger ==> gabungan usaha

Penerjemahan dapat pula dilakukan berdasarkan kesesuaian bentuk dan makna.

Misalnya:
bonded zone ==> kawasan berikat
skyscraper ==> pencakar langit

Penerjemahan istilah asing memiliki beberapa keuntungan. Selain memperkaya kosakata Indonesia dengan sinonim, istilah terjemahan juga meningkatkan daya ungkap bahasa Indonesia. Jika timbul kesulitan dalam penyerapan istilah asing yang bercorak Anglo-Sakson karena perbedaan antara lafal dan ejaannya, penerjemahan merupakan jalan keluar terbaik. Dalam pembentukan istilah lewat penerjemahan perlu diperhatikan pedoman berikut.

a. Penerjemahan tidak harus berasas satu kata diterjemahkan dengan satu kata.

Misalnya :
psychologist ==> ahli psikologi
medical practitioner ==> dokter

b. Istilah asing dalam bentuk positif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk positif, sedangkan istilah dalam bentuk negatif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk negatif pula.

Misalnya :
bound form ==> bentuk terikat (bukan bentuk takbebas)
illiterate ==> niraksara
inorganic ==> takorganik

c. Kelas kata istilah asing dalam penerjemahan sedapat-dapatnya dipertahankan pada istilah terjemahannya.

Misalnya :
merger (nomina) ==> gabung usaha (nomina)
transparent (adjektiva) ==> bening (adjektiva)
(to) filter (verba) ==> menapis (verba)

d. Dalam penerjemahan istilah asing dengan bentuk plural, pemarkah kejamakannya ditanggalkan pada istilah Indonesia.

Misalnya :
alumni ==> lulusan
master of ceremonies ==> pengatur acara
charge d’affaires ==> kuasa usaha

4.1.2 Penerjemahan dengan Perekaan
Adakalanya upaya pemadanan istilah asing perlu dilakukan dengan menciptakan istilah baru. Istilah factoring, misalnya, sulit diterjemahkan atau diserap secara utuh. Dalam khazanah kosakata bahasa Indonesia/Melayu terdapat bentuk anjak dan piutang yang menggambarkan pengalihan hak menagih utang. Lalu, direka istilah anjak piutang sebagaipadanan istilah factoring. Begitu pula pemadanan catering menjadi jasa boga dan invention menjadi rekacipta diperoleh lewat perekaan.

4.2 Penyerapan
4.2.1 Penyerapan Istilah

Ketentuan Umum Pembentukan Istilah

1. Istilah dan Tata Istilah
Ketentuan Umum Pembentukan Istilah bahasa indonesia

Istilah adalah kata atau frasa yang dipakai sebagai nama atau lambang dan yang dengan cermat
mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni. Tata istilah (terminologi) adalah perangkat asas dan ketentuan
pembentukan istilah serta kumpulan istilah yang dihasilkannya.

Misalnya:
anabolisme, pasar modal, demokrasi, pemerataan, laik terbang, perangkap electron

2 Istilah Umum dan Istilah Khusus

Istilah umum adalah istilah yang berasal dari bidang tertentu, yang karena dipakai secara luas, menjadi unsur kosakata umum.

Misalnya:
anggaran belanja, penilaian, daya, radio, nikah, takwa

Istilah khusus adalah istilah yang maknanya terbatas pada bidang tertentu saja.

Misalnya:
apendektomi, kurtosis, bipatride, pleistosen

3 Persyaratan Istilah yang Baik
Dalam pembentukan istilah perlu diperhatikan persyaratan dalam pemanfaatan kosakata bahasa Indonesia yang berikut.
a. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang paling tepat untuk mengungkapkan konsep termaksud dan yang tidak menyimpang dari makna itu,
b. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang paling singkat di antara pilihan yang tersedia yang mempunyai rujukan sama.
c. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang bernilai rasa (konotasi) baik.
d. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang sedap didengar (eufonik).
e. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang bentuknya seturut kaidah bahasa Indonesia.

4 Nama dan Tata Nama
Nama adalah kata atau frasa yang berdasarkan kesepakatan menjadi tanda pengenal benda, orang, hewan, tumbuhan, tempat, atau hal. Tata nama (nomenklatur) adalah perangkat peraturan penamaan dalam bidang ilmu tertentu, seperti kimia dan biologi, beserta kumpulan nama yang dihasilkannya.

Misalnya:
aldehida, primat, natrium klorida, oryza sativa



Baca juga:
Kata Ulang dan Gabungan Kata
Apakah padanan untuk go public dan go international?
Singkatan dan Akronim
Penulisan judul: huruf kecil dan besar

 

 

 

Kata Si dan Sang


Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.

Akhirnya si Buta berhasil menolong kekasihnya. 
Ia mematuhi nasihat sang kakak.
Kita berserah diri kepada Sang Pencipta.




Baca juga:
Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per
Pemenggalan Kata
Ki-lo-gram ataukah ki-log-ram?
Apa pula yang dimaksud dengan kata jihad?



Jumat, 08 Juli 2016

Pemenggalan Kata



1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.

Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah

Huruf diftong ai, au, oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan
diantara kedua huruf itu.


Misalnya:
au-la bukan a-u-la
sau-dara bukan sa-u-da-ra
am-boi bukan am-bo-i

b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.

Misalnya:
ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir

c. Jikan di tengah ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan (kh, ng, ny, sy) tidak pernah diceraikan.

Misalnya:
man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok Ap-ril, bang-sa, makh-luk

d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.

Misalnya:
in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok ikh-las

Beberapa pengecualian (trans-, eks-, gram, dll) bisa dilihat di sini: http://catatanpenyunting.blogspot.co.id/2016/07/ki-lo-gram-ataukah-ki-log-ram.html

2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.

Misalnya:
makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah

Catatan:
a. Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
b. Akhiran -i tidak dipenggal. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung)

c. Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut.

Misalnya: te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi

3. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan 
(1) di antara unsur-unsur itu atau
(2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a, 1b, 1c dan 1d di atas.

Misalnya:
Bio-grafi, bi-o-gra-fi
Foto-grafi, fo-to-gra-fi
Intro-speksi, in-tro-spek-si
Kilo-gram, ki-lo-gram
Pasca-panen, pas-ca-pa-nen


Keterangan:
Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan khusus.



Baca juga:
Ki-lo-gram ataukah ki-log-ram?
Angka dan Lambang
Penulisan Artikel "pun"
Bentuk terikat

Tanda Penyingkat atau Apostrof

pemakaian tanda penyingkat atau tanda apostrof ejaan bahasa Indonesia

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.

Misalnya:
Ali ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
1 Januari ’88. (’88 = 1988)
Mereka sudah datang, ‘kan? (‘kan = bukan)


Kaidah tanda penyingkat atau apostrof hanya satu, yaitu bahwa tanda apostrof digunakan untuk menunjukkan bagian kata atau bagian angka tahun yang dihilangkan.

Contohnya sebagai berikut.
1) „Lah lama kulayangkan surat itu.
2) Jadwal mengajarnya Senin, 24-11-‟14.


Perlu dicatat bahwa penggunaan tanda apostrof seperti pada kalimat (1) dan (2) hanya ada dalam bahasa seni atau dalam tulisan yang lebih bersifat internal. Contoh seperti pada kalimat (1) biasa ada dalam pusisi atau syair lagu. Dalam bahasa tulis resmi seperti dalam laporan atau surat dinas tidak akan digunakan kata ‘lah atau ‘kan yang merupakan bentuk pendek dari telah dan akan. Dalam surat resmi pada bagian tanggal surat angka tahun juga tidak boleh ditulis dengan bentuk singkatnya. Namun, untuk penulisan jadwal kegiatan internal kantor penulisan angka tahun dapat digunakan bentuk pendeknya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada kata baku bahasa Indonesia yang ditulis dengan tanda apostrof. Kata-kata seperti doa, maaf, Jumat, atau Quran ditulis tanpa tanda apostrof. Penulisan kata-kata seperti do’a, ma’af, Jum’at, atau Qur’an dengan apostrof memang pernah berlaku, yaitu pada zaman Ejaan van Ophuijsen yang berlaku tahun 1901—1947. Bahkan, kata-kata seperti ‘amal, ‘ilmu, atau ‘akal juga ditulis dengan tanda apostrof. Lalu, bagaimana dengan tulisan salam dalam Islam yang ditulis dengan huruf Latin? Tulisan Assalamu ‘alaikum warrahmatullahi wabarakatuh harus pakai tanda apostrof atau tidak? Jawabnya pakai karena salam itu bukan bahasa Indonesia, melainkan bahasa Arab yang ditulis dengan huruf Latin.

Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Garis Miring (/)

pemakaian tanda garis miring ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Misalnya:
No. 7/PK/1973
Jalan Kramat III/10
tahun anggaran 1985/1986


2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau dan setiap.

Misalnya:
mahasiswa/mahasiswi (maksudnya 'mahasiswa dan mahasiswi’
dikirimkan lewat darat/laut (maksudnya 'dikirim lewat darat atau lewat laut')
buku dan/atau majalah (maksudnya ‘buku dan majalah atau buku atau majalah’
harganya Rp25,00/lembar (maksudnya ‘harganya Rp25,00 tiap lembar’)

3. Tanda garis miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.

Misalnya:
Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa kali.
Asmara/n/dana merupakan salah satu tembang macapat budaya Jawa.

Catatan:
Penggunaan tanda garis miring pada nomor surat hampir tidak ada masalah. Begitu pula pada tahun takwim. Yang kadang-kadang menimbulkan masalah adalah penggunaan tanda garis miring pada nomor alamat. Kadang-kadang penggunaan tanda garis miring pada nomor alamat dianggap tidak lazim atau dianggap salah. Padahal, penggunaan tanda garis miring dalam penomoran alamat tidak
salah. Perhatikan contoh di bawah ini!

1) Alamat terakhirnya adalah Jalan Rawamangun Muka II/21, Jakarta Timur.
2) Alamat Jalan Purnawarman IV/99, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Penulisan nomor alamat seperti di atas benar. Cara lain yang juga benar adalah sebagai berikut.

1a) Alamat terakhirnya adalah Jalan Rawamangun Muka II Nomor 21, Jakarta Timur.
2a) Alamat Jalan Purnawarman IV Nomor 99, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kaidah tanda garis miring lain yang perlu diingat adalah bahwa tanda garis miring digunakan sebagai kata dan, atau, serta setiap. Masing-masing contohnya adalah sebagai berikut.

3) Bapak/Ibu/Saudara yang saya hormati.
4) Paket itu dapat dikirim lewat darat/laut.
5) Rumah itu dipasarkan Rp950 juta/unit.

Pada kalimat (3) garis miring sama dengan dan, pada kalimat (4) garis miring sama dengan atau, dan pada kalimat (4) garis miring sama dengan setiap. Tidak tepat kalau tanda garis miring pada kalimat (3) dimaknai sama dengan atau karena yang disapa semua, bukan Bapak saja, Ibu saja, atau Saudara saja.


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Petik Tunggal (‘…’)

tanda baca ejaan bahasa Indonesia Tanda Petik Tunggal (‘…’)

1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.


Misalnya:
Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
“Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.

“Kita bangga karena lagu ‘Indonesia Raya’ berkumandang di arena olimpiade itu,” kata Ketua KONI.

2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. 

Misalnya: 
feed-back ‘balikan’
policy ‘kebijakan’
wisdom ‘kebijaksanaan’
money politics ‘politik uang’

tergugat ‘yang digugat’
retina ‘dinding mata sebelah dalam’
noken ‘tas khas Papua’
tadulako ‘panglima’
marsiadap ari ‘saling bantu’
tuah sakato ‘sepakat demi manfaat bersama’


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Petik (“…”)

pemakaian tanda petik ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Misalnya:
(1) “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
(2) Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”

(3) “Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.
(4) “Kerjakan tugas ini sekarang!” perintah atasannya. “Besok akan dibahas dalam rapat.”
(5) Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan.”


2. Tanda petik mengapit judul sajak, syair, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:
(6) Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat.
(7) Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
(8) Perhatikan “Pemakaian Tanda Baca” dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
(9) Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” dimuat dalam majalah Tempo.

(10) Makalah “Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif” menarikperhatian peserta seminar.
(11) Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
(12) Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.
(13) Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!
(14) Film “Ainun dan Habibie” merupakan kisah nyata yang diangkat dari sebuah novel.


3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:
(15) Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
(16) Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.

(17) “Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.
(18) Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!


4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya:
(19) Kata Tono, “Saya juga minta satu.”

5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Misalnya:
(20) Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.
(21) Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.


Catatan:
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

Kesalahan yang sering ditemukan di lapangan adalah penggunaan tanda petik untuk mengapit kata bahasa asing atau bahasa daerah seperti pada kalimat berikut.

(22) Istilah “deadline”* dan “ballroom”* dipadankan dengan tenggat* dan balai riung.*
(23) Dalam menyikapi masalah itu diperlukan sikap “legawa”.*


Penggunaan tanda petik seperti pada kalimat (22) dan (23) tidak benar. Kata bahasa asing atau kata bahasa daerah tidak diapit dengan tanda petik, tetapi ditulis dengan huruf miring. Di samping itu, untuk menuliskan terjemahan tidak digunakan huruf tebal, tetapi diapit dengan tanda petik tunggal. Dengan demikian, penulisan kalimat (22) dan (23) dapat diperbaiki menjadi seperti berikut.

22a) Istilah deadline dan ballroom dipadankan dengan 'tenggat' dan 'balai riung'.
23a) Dalam menyikapi masalah itu diperlukan sikap legawa.


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Tanda Kurung Siku ([…])




pemakaian tanda kurung siku ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di naskah asli.

Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah bahasa Indonesia.
Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia dirayakan secara khidmat.


2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.


Misalnya:
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35-38]) perlu dibentangkan.



Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Minggu, 03 Juli 2016

Apakah padanan untuk go public dan go international?


Apakah padanan untuk go public dan go international?

Beberapa tahun yang lalu dunia usaha lndonesia diramaikan oleh adanya beberapa bursa efek, antara lain, Bursa Efek Jakarta (BEJ). Di bursa efek ini beberapa perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu dari pemerintah dapat menjual sahamnya kepada masyarakat. Perusahaan yang telah mendapat izin menjual sahamnya di bursa efek disebut perusahaan yang telah go public. Berikut ini contoh sebuah kalimat yang menggunakan kata go public.

Ia juga skeptis atas rencana PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa untuk go public di BEJ. (Kompas, 17 Juni 1993).

Perusahaan yang go public ialah perusahaan yang telah masuk ke bursa untuk menjual saham-sahamnya kepada masyarakat. Untuk itu, kita berikan padanan kata go public dengan 'masuk bursa'.

Setelah kata go public muncul, akhir-akhir ini kita sering mendengar ataupun membaca istilah go international. Berikut contoh wacana yang menggunakan kata tersebut.

Harapan agar badan usaha milik negara (BUMN) go international tampaknya tidak bisa direalisasikan segera karena tak satu pun BUMN dinilai layak melakukan hal itu. Bahkan, perusahaan swasta sekalipun tidak mampu menembus pasar modal internasional. Tambahan pula, daripada harus merepotkan diri mengurusi rencana BUMN go international, pemerintah lebih baik membenahi Bursa Efek Jakarta (BEJ) terlebih dahulu, karena lebih mudah dilakukan. (Kompas, 17 Juni 1993).

Dari contoh di atas kita dapat mengambil simpulan bahwa konsep go international ialah masuknya perusahaan, misalnya BUMN, ke dalam pasar modal internasional atau pasar modal dunia.

Jika kata go public kita padankan dengan masuk bursa, mengapa go international tidak kita padankan dengan masuk bursa internasional atau masuk bursa dunia?



Baca juga:
Ki-lo-gram ataukah ki-log-ram?
Apa pula yang dimaksud dengan kata jihad?
Apa yang dimaksud dengan kata aktivis?
Manakah yang benar kotip atau kotif?
Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?
Bagaimanakah penggunaan kata siang, malam, pagi, dan sore dalam sapaan?
Bagaimanakah pemakaian ini, itu dan begini, begitu?
Penulisan Artikel "pun"
Angka dan Lambang
Singkatan dan Akronim
Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Kata Ulang dan Gabungan Kata
Penulisan Kata Turunan