Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label makna kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makna kata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Januari 2017

Pilihan Kata

pilihan kata yang tepat

Biasanya orang membuka kamus untuk mengetahui arti sebuah kata, cara menuliskannya, atau cara-cara melafalkannya. Akan tetapi, banyak juga orang yang menginginkan lebih dari itu. Mereka ingin menemukan kata tertentu untuk mengetahui pemakaiannya secara tepat.

Sudah barang tentu seorang pembicara atau seorang penulis akan memilih kata yang "terbaik" untuk mengungkapkan pesan yang akan disampaikannya. Pilihan kata yang "terbaik" adalah yang memenuhi syarat (1) tepat (mengungkapkan gagasan secara cermat), (2) benar (sesuai dengan kaidah kebahasaan), dan (3) lazim pemakaiannya.

Berikut ini adalah contoh pemilihan kata yang tidak tepat.

(1) Sidik tidak mau lagi mendengarkan kata-kata temannya yang sudah terbukti suka membual. la mengacuhkan janji-janji yang diobral temannya itu dan menganggapnya angin lalu. 
(2) Pingkan sangat senang mendengar kabar itu dan ia berkilah kepada teman-temannya dengan bangga "Ternyata saya lulus". 



Jika dilihat konteksnya, dalam kalimat (1) itu kata mengabaikan lebih tepat daripada mengacuhkan yang berarti ‘memperhatikan' dan pada kalimat (2) kata berkata lebih tepat daripada berkilah yang bermakna 'berdalih'. 

Pilihan kata yang tidak benar dapat dicontohkan seperti yang berikut ini. 

(3) Polisi telah berhasil menangkap pelaku pengrusakan gedung sekolah itu.

(4) Kedua remaja itu telah lama saling menyinta

Kata pengrusakan dan menyinta bukanlah kata yang terbentuk secara benar. Bentuk yang benar adalah perusakan dan mencinta.

Kata meninggal adalah kata yang baku di samping kata mati dan wafat. Akan tetapi, ketiganya memiliki kelaziman pemakaian masing-masing. Perhatikan pemakaiannya berikut ini. 

(5) Petugas rumah sakit menyerahkan surat kematian yang menerangkan bahwa ayah saya telah meninggal setelah operasi yang gagal itu. 

Dalam hal itu tentu tidak lazim digunakan istilah surat kemeninggalan atau surat kewafatan, padahal kalimat Ayah saya meninggal atau Ayah saya wafat lebih lazim dan takzim daripada Ayah saya mati.


Contoh yang lain berkenaan dengan kata agung, akbar, dan raya yang semuanya bermakna 'besar'. Makna 'besar' pada kata agung tidak berkenaan dengan fisik, melainkan dengan harkat, misalnya jaksa agung. Kata akbar bermakna besar luar biasa (mahabesar). Kata raya yang juga bermakna besar, hanya dipakai dalam hal-hal tertentu saja. Ada istilah jalan raya dan hari raya di samping jalan besar dan hari besar, tetapi tidak lazim dikatakan jalan agung, jalan akbar atau hari agung, hari akbar

Berkenan dengan kelaziman itu, pemakai bahasa memang perlu juga memperhatikan nilai rasa atau konotasi sebuah kata. Yang dimaksud dengan konotasi ialah tautan pikiran yang menerbitkan nilai rasa. Konotasi itu dapat bersifat pribadi dan bergantung pada pengalaman orang-seorang sehubungan dengan kata atau dengan gagasan yang diacu oleh kata itu. 

Salah satu contoh telah disinggung di atas. Di samping kata mati, ada kata meninggal, gugur, wafat, mangkat, dan tewas. Kata mati digunakan dengan pengertian yang netral dan tidak bernilai rasa hormat. Kata meninggal bernilai rasa hormat. Oleh sebab itu, hanya digunakan untuk manusia. Untuk para pahlawan atau orang-orang yang berjasa bagi negara yang meninggal sewaktu menjalankan tugas digunakan kata gugur. Kata wafat digunakan untuk orang yang kita hormati. Kata mangkat dianggap lebih takzim daripada wafat. Kata tewas digunakan secara netral untuk orang yang meninggal dalam suatu musibah. 

Ada orang yang menggunakan kata yang tidak lazim, misalnya kata yang berasal dari bahasa daerah, untuk menggantikan kata yang justru sudah lazim dalam bahasa Indonesia. Sekalipun dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa hormat, tindakan itu berlebihan dan tidaklah bijaksana. Marilah kita perhatikan kalimat pada paragraf penutup surat kabar berikut ini. 

(6) Atas segala bantuan itu, saya ucapkan terima kasih.

(7) Atas kemudahan yang telah saya terima, saya sampaikan terima kasih. 

Pada dasarnya kedua kalimat di atas itu cukup takzim sehingga kita tidak perlu menggunakan kata haturkan, misalnya, untuk menggantikan ucapkan dan sampaikan

Selain ketiga hal di atas, keadaan kawan bicara juga perlu diperhatikan sehingga pesan yang akan disampaikan terpahami. Marilah kita perhatikan sebuah contoh pemilihan kata dalam sebuah sambutan pada suatu peresmian. 

(8) Saudara-saudara, atas nama Pemerintah, saya menyampaikan salut setinggi-tingginya atas partisipasi aktif yang Anda berikan dengan penuh dedikasi dan penuh antusias dalam menyelesaikan proyek irigasi ini sebagai salah satu kegiatan dari pilot proyek modernisasi dalam semua aspek kehidupan kita, baik mental maupun spiritual." 

Sekalipun pemilihan katanya sudah memenuhi syarat seperti yang diuraikan di atas, jika khalayak pendengarnya bukan golongan terpelajar dan tidak biasa dengan kata-kata yang digunakan itu, ada kemungkinan pesan tidak terpahami dengan baik. Penggunaan kata yang digali dari khazanah bahasa Indonesia lebih memungkinkan pemahamannya.
Jika hal itu akan dilakukan, berikut ini padanannya dalam bahasa Indonesia. 

salut : hormat, penghormatan
partisipasi : peran serta
dedikasi: pengabdian (pengorbanan tenaga dan waktu untuk keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia)
antusias : bersemangat
irigasi : pengairan (cara pengaturan pembagian air untuk sawah)
pilot proyek : proyek perintis, percontohan

Pada hakikatnya, memilih kata secara baik merupakan upaya agar pesan yang hendak disampaikan dapat diterima secara tepat.


Baca juga:
Melihat, memandang, menatap, mengamati, menonton, menyaksikan, mengawasi, meninjau
Pemakaian Kata Dadah dan Berdadah
Penggunaan Kata Dengan
Makna Kata Pekerjaan, Profesi, dan Jabatan
Makna Kata Pemandangan Umum dan Pandangan Umum
Kata Sekarang dan Kini
Pemakaian Kata Sebentar, Sejenak, Sekejap, Sekilas, Sepintas, dan Sejurus
Makna Kata Hijrah dan Hijriah
Makna Kata Acuh dan Tayang
Makna Kata Kilah dan Tukas
Kata Ranking dan Langganan

Minggu, 15 Januari 2017

Penggunaan Kata Dengan


Kata dengan digunakan untuk menandai beberapa makna.

Yang pertama ialah makna 'kealatan'. 
Makna itu terdapat pada ujaran yang menyatakan adanya alat yang digunakan untuk melakukan sesuatu. Contohnya terlihat pada kalimat yang berikut.

(1) Pohon itu ditebang dengan gergaji mesin. 
(2) Mereka memadamkan api itu dengan air seadanya. 
(3) Dengan surat itu mereka melaporkan kejadian sebenarnya. 

Alat yang digunakan itu tidak selalu berupa benda konkret, tetapi juga benda abstrak seperti yang terlihat pada dua kalimat yang berikut.

(4) Pemindahan penduduk tidak akan dilakukan dengan kekerasan. 
(5) Peraturan itu ternyata dapat dilaksanakan hanya dengan pengawasan ketat.

Yang kedua ialah makna 'kebersamaan'.
Makna itu terdapat pada ujaran yang menyatakan adanya beberapa pelaku yang mengambil bagian pada peristiwa yang sama. Perhatikan contoh berikut.

(6) Ayah sedang bercakap-cakap dengan tamunya.

Pada kalimat itu, baik ayah maupun tamunya sama-sama aktif mengambil bagian pada peristiwa percakapan. Contoh yang lain ialah

(7) Adikku pergi berenang dengan teman-temannya. 
(8) Para pemberontak bersedia berunding dengan pemerintah. 
(9) Ayahnya melarang dia berteman dengan pemabuk. 
(10) Kemarin saya bertemu dengan teman lamaku.

Yang ketiga, makna 'kesertaan'.
Makna yang mirip dengan 'kebersamaan' itu terdapat pada tuturan yang menyatakan adanya benda yang menyertai pelaku. Penyerta itu umumnya benda yang tak bernyawa. Oleh karena itu, penyerta itu tidak ikut aktif mengambil bagian dalam peristiwa yang dinyatakan. Berikut ini adalah contohnya.

(11) Perampok itu pergi dengan barang-barang rampasannya. 
(12) Peserta pertemuan itu pulang dengan kenangan manis.


Yang keempat ialah makna 'kecaraan
yang terdapat pada ujaran yang menyatakan cara peristiwa terjadi atau cara tindakan dilakukan. Berikut ini contohnya.

(13) Pertandingan itu berjalan dengan aman.

Yang kelima adalah kesesuaian atau ketaksesuaian
Selain itu, ada beberapa kata yang harus diikuti oleh pelengkap yang diawali dengan kata dengan. Makna yang terdapat pada konstruksi seperti itu adalah 'kesesuaian' atau 'ketaksesuaian'. Contohnya seperti berikut.

(14) Penebaran benih dilakukan bertepatan dengan saat mulai musim hujan.

Kata bertepatan memerlukan pelengkap yang diawali dengan kata dengan. Kita tidak dapat membuat kalimat berikut.

(14) *Penaburan benih dilakukan bertepatan. 

Contoh yang lain disajikan berikut ini.

(15) Peraturan itu bertentangan dengan asas keadilan. 
(16) Pemberian amnesti itu berkenaan dengan ulang tahun raja. 
(17) Mereka tidak setuju dengan usul itu.
(18) Jangan membuat baju yang berbeda dengan pesanan. 
(19) Orang tuanya sekampung dengan orang tua kami.

Banyak ditemukan contoh kalimat yang salah karena tidak menggunakan kata dengan, seperti berikut,

(20) Buatlah gambar yang sesuai contoh. 
(21) Kini mereka dapat bertemu anaknya. 

Kalimat itu seharusnya berbunyi seperti berikut.
(20a) Buatlah gambar yang sesuai dengan contoh.
(21b) Kini mereka dapat bertemu dengan anaknya. 

Jika kita tidak akan menggunakan kata dengan pada kalimat (21) itu, kata menemui dapat digunakan alih-alih bertemu.

(21b) Kini mereka dapat menemui anaknya.

Ada juga pemakaian kata dengan yang tidak pada tempatnya pada ragam resrni. Berikut ini contohnya.

(22) Kami berikan surat ini dengan staf Saudara. 
(23) Dengan kemenangan itu mengantarkan Graf ke final.

Kalimat (22) salah jika mengungkapkan informasi bahwa surat itu diberikan kepada staf Saudara, tetapi benar jika mengungkapkan informasi bahwa kami dan staf Saudara bersama-sama memberikan surat itu. Kalimat (23) tidak bersubjek karena kata dengan tidak pernah mendahului subjek. Berikut ini perbaikannya.

(22a) Kami berikan surat itu kepada staf Saudara. 
(23b) Kemenangan itu mengantar Graf ke final.


Baca juga:
Makna Kata Pekerjaan, Profesi, dan Jabatan
Makna Kata Pemandangan Umum dan Pandangan Umum
Kata Sekarang dan Kini
Pemakaian Kata Sebentar, Sejenak, Sekejap, Sekilas, Sepintas, dan Sejurus
Makna Kata Hijrah dan Hijriah
Makna Kata Acuh dan Tayang
Makna Kata Kilah dan Tukas
Kata Ranking dan Langganan

Makna Kata Pekerjaan, Profesi, dan Jabatan

Apa saja yang dikerjakan atau dilakukan seseorang merupakan pekerjaan. Yang dimaksudkan dengan pekerjaan di sini ialah jenis perbuatan atau kegiatan untuk memperoleh imbalan atau upah. Dengan ciri makna yang demikian, pekerjaan dapat juga disebut mata pencarian atau pokok penghidupan. Dalam konteks itu, secara khusus kita mengenal pula jenis pekerjaan yang lazim disebut profesi dan jabatan.

Jenis pekerjaan yang menuntut pendidikan dan keahlian khusus disebut profesi. Yang dapat digolongkan ke dalam kategori itu, antara lain, ialah pekerjaan seorang dokter, guru, pengacara, dan peneliti. Pekerjaan pengemudi, mandor, pembantu rumah tangga tidak termasuk profesi.

Jabatan merupakan jenis pekerjaan yang berhubungan dengan struktur suatu organisasi. Direktur, kepala bidang, dan sekretaris, misalnya, merupakan jabatan. Dalam pengertian itu, dikenal pula istilah seperti jabatan fungsional, jabatan struktural, dan jabatan rangkap.


Baca juga:
Makna Kata Pemandangan Umum dan Pandangan Umum
Kata Sekarang dan Kini
Pemakaian Kata Sebentar, Sejenak, Sekejap, Sekilas, Sepintas, dan Sejurus
Makna Kata Hijrah dan Hijriah
Makna Kata Acuh dan Tayang
Makna Kata Kilah dan Tukas
Kata Ranking dan Langganan

Makna Kata Pemandangan Umum dan Pandangan Umum


Sehubungan dengan liputan atau laporan kegiatan sidang DPR yang tengah membahas persoalan tertentu, kita sering mendengar atau membaca, misalnya, bahwa semua fraksi telah mendapat giliran dalam menyampaikan pemandangan umumnya. Yang disampaikan oleh fraksi dalam sidang DPR itu sebenarnya bukan pemandangan umum, melainkan pandangan umum.

Bentuk pemandangan mengandung makna 'cara atau proses memandang sesuatu' dan hasilnya disebut pandangan. (Kata pemandangan dapat juga bersinonim dengan panorama). Dengan demikian, yang disampaikan oleh fraksi di DPR itu bukanlah 'cara atau proses memandang; melainkan 'hasil yang diperoleh dari cara atau proses memandang'. Berikut ini dicontohkan pemakaian pemandangan umum dan pandangan umum yang benar.

(1) Acara sidang DPR hari ini masih berupa pemandangan umum terhadap Rencana Undang-Undang Pendidikan. 
(2) Pandangan umum terhadap Rencana Undang-Undang Pendidikan telah disampaikan oleh semua fraksi.



Baca juga:
Kata Sekarang dan Kini
Pemakaian Kata Sebentar, Sejenak, Sekejap, Sekilas, Sepintas, dan Sejurus
Makna Kata Hijrah dan Hijriah
Makna Kata Acuh dan Tayang
Makna Kata Kilah dan Tukas
Kata Ranking dan Langganan

Minggu, 17 Juli 2016

Pemakaian Kata Sebentar, Sejenak, Sekejap, Sekilas, Sepintas, dan Sejurus




Pemakaian Kata Sebentar, Sejenak, Sekejap, Sekilas, Sepintas, dan Sejurus
Keenam kata ini, sebentar, sejenak, sekejap, sekilas, sepintas, dan sejurus, memiliki makna yang hampir sama, yaitu menggambarkan waktu yang amat singkat atau amat pendek. Akan tetapi, jika diamati lebih teliti, terlihat bahwa kata-kata itu berbeda pemakaiannya.
Perhatikanlah contoh-contoh berikut.


(1) Coba perhatikan     sebentar   lukisan itu.
sejenak
sepintas
sekilas
*sekejap
*sejurus

(2) Ia memandangku     sebentar
sejenak
sepintas
sekilas
sekejap
sejurus

(3) Bacalah     sebentar   halaman tujuh belas ini!
sejenak
sepintas
sekilas
*sekejap
*sejurus

(4) Budi    [ berhenti ]   
   [ berpikir ]
   [ tertegun ]
sebentar
sejenak
*sepintas
*sekilas
*sekejap
sejurus

(5)
(a)  Sebentar,  ya!
*Sejenak,
*Sepintas,
*Sekilas,
*Sekejap,
Sejurus,

(b)  Sebentar  saja.
Sejenak
Sepintas
Sekilas
Sekejap
Sejurus

(c) Coba saja ke sini     sebentar!
*sejenak!
*sepintas!
*sekilas!
*sekejap!
*sejurus!

Contoh-contoh di atas memperlihatkan bahwa keenam kata itu tidak selalu dapat dipakai pada setiap bentukan kalimat. Tanda asteris (*) menunjukkan pemakaian kata yang tidak berterima. Mengapa demikian? Bagaimana cara membedakan pemakaian kata-kata itu?

Sekurang-kurangnya ada empat cara yang dapat digunakan untuk melihat perbedaan pemakaian keenam kata itu, yaitu:
  1. dengan mengamati jenis verba (kata kerja) yang didampingkan dengan setiap kata di antara keenam kata itu, misalnya verba yang menyatakan tindakan yang dilakukan mata (melihat, memandang, dan menyaksikan) atau verba yang berkaitan dengan aktivitas tubuh (berhenti, tertegun, dan diam);
  2. dengan mengamati jenis-jenis bangun kalimat yang menggunakan setiap kata di antara keenam kata itu, misalnya bangun kalimat deklaratif (kalimat berita) atau bangun kalimat imperatif (kalimat perintah);
  3. dengan mengamati makna semantis kata-kata itu;
  4. dengan mengamati ragam bahasa yang menggunakan kata itu, misalnya ragam tulis atau ragam lisan, ragam resmi atau ragam tak resmi.

Sebentar dan Sejenak 
Dari contoh-contoh yang disajikan di atas, ternyata kata sebentar dan sejenak hadir dalam contoh 1-4. Akan tetapi, di antara kedua kata itu, kata sebentar memiliki peluang paling besar dalam pemakaiannya, apalagi dalam ragam lisan atau ragam tak resmi, lihat contoh (5). Kata sebentar kecil kemungkinannya dapat diganti dengan kata sejenak.

Sejenak
Kata sejenak lebih luas kemungkinan perangkaiannya daripada kata sekejap, sekilas, dan sepintas. Kata sejenak menggambarkan ketenangan, ketaktergesaan atau ketaktegangan. Oleh karena itu, kata sejenak dapat dirangkaikan dengan verba seperti bergembiralah, nikmatilah, duduklah, bacalah, lihat contoh (6) atau verba seperti renungkan, pandanglah, amatilah, dengarkan, pikirkan, lihat contoh (7) yang menggambarkan suasana tenang, tanpa ketegangan.

(6)     a) Bergembiralah sejenak bersama kelompok lawak itu!
b) Nikmatilah sejenak sajian musik itu!
c) Duduklah sejenak sambil menikmati hidangan sekadarnya!
d) Bacalah sejenak cerpen ini!

(7)    Coba    renungkan  sejenak/sebentar!
pandanglah
amatilah
dengarkan
pikirkan

Akan tetapi, terasa janggal jika kata sejenak dirangkaikan dengan verba yang membayangkan kata ketergesaan atau "usaha yang keras", seperti terlihat pada contoh (8) berikut:


(8)    Tuliskan   sebentar!
  *sejenak!
Selesaikan
Bersihkan
Bantulah
Ajarilah
Bekerjalah

Sekejap dan Sekilas
Kedua kata ini, sekejap dan sekilas, cenderung hanya dapat disambungkan dengan verba yang berkaitan dengan indera penglihatan, seperti memandang, melihat, dan tampak, misalnya:


(9)     a) Orang itu memandang sekejap/sekilas.
b) Orang tua itu menghilang dalam sekejap mata.
c) Sekilas tampak bayangan wajahnya.

Sepintas
Kate sepintas tampaknya dapat didampingkan dengan verba yang berkaitan dengan indera penglihatan (memandang), verba kesadaran (merenung),dan verba komunikasi (berbicara), serta verba yang berkaitan dengan indera pendengaran, misalnya:

(10)     a) "Mungkin saja hal itu terjadi," pikirnya sepintas lalu.
b) la terlibat dalam percakapan sepintas.
c) Sepintas (lalu) saya pernah melihat tontonan sulap itu.
d) Saya mendengar siaran berita sepintas (lalu).

Dalam bangun kalimat imperatif, kata sepintas tampak janggal digunakan jika didampingkan dengan verba kesadaran dan verba yang berkaitan dengan indera pendengaran. Perhatikan contoh berikut.

(11)     a) *Dengarkanlah nyanyian itu sepintas!
b) *Pikirkanlah masalah itu sepintas!


Kejanggalan itu timbul karena, secara semantik, kata sepintas itu bermakna 'sepenggal' atau 'sepotong'. Oleh karena itu, kata sepintas sangat mungkin didampingkan dengan verba yang menyangkut indera penglihatan (bacalah, amatilah) dalam bangun kalimat imperatif misalnya:

(12)     a) Bacalah halaman 17 itu sepintas!
b) Amatilah lukisan itu sepintas!

Sejurus 
Pemakaian kata sejurus terbatas perangkaiannya dengan jenis verba tertentu yang tidak menggunakan gerakan badan, tetapi pemunculannya hanya mungkin pada bangun kalimat deklaratif, seperti terungkap pada contoh berikut.


(13)      a) Dipandangnya aku sejurus.
b) "...", katanya setelah berpikir sejurus.
c) Dia diam sejurus.
d) Makannya terhenti sejurus.
e) Kuukur ketulusan ucapan gadis itu sejurus.
f) *la berlari sejurus.
g) *la makan sejurus.


Jika ditinjau lebih jauh lagi, kata sejurus berjangka waktu yang pendek. Bandingkanlah ukuran waktu yang tentu pada contoh (14) dan ukuran waktu yang tak tentu pada contoh (15) berikut ini.

(14)    tiga jamkemudian
dua menit    lagi
satu detik lamanya

(9)     a) sebentar/sejurus kemudian
b) sebentar/sejurus lagi
c) sejurus lamanya.



Baca juga:
Makna Kata Hijrah dan Hijriah
Makna Kata Kilah dan Tukas
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan
Kata Bahasa Indonesia
Penulisan Kata yang Benar
Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat
Kata Si dan Sang
Pemenggalan Kata

 

Kamis, 14 Juli 2016

Makna Kata Hijrah dan Hijriah


Kata hijrah yang digunakan dalam kalimat seperti

Tahun baru Hijrah jatuh pada tanggal 14 Agustus 1988 

dan

Tahun 1408 Hijrah akan kita tinggalkan.

tidaklah tepat.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kita tidak menemukan kata hijrah dengan makna 'nama tarikh Islam', tetapi yang kita temukan makna (1) pemutusan pertalian Nabi Muhammad saw. dengan suku bangsa di Mekah (Nabi Muhammad saw. meninggalkan Mekah, berpindah ke Medinah)' dan (2) 'mengungsi dan berpindah'. Di dalam bahasa Arab cara yang digunakan untuk membentuk adjektiva yang bermakna berhubungan, berkaitan, bertalian dengan kata dasarnya, adalah dengan menambahkan akhiran --iy (ya nisbah) dan --iyah pada nomina.

Jika kata dasarnya berupa nomina yang tergolong maskulin (muzakkar), akhiran yang digunakan umumnya akhiran i. Kata Masih, Malik, dan Iraq, jika diberi akhiran yang menyatakan nisbah, masing-masing menjadi Masihi (Masehi) yang berarti (1) 'yang mengikuti Isa Almasih' dan (2) 'perhitungan tanggal yang berdasarkan kelahiran Almasih'; Maliki yang berarti 'pengikut atau mazhab yang didasarkan atas Imam Malik', Iraqi yang berarti 'orang yang berbangsa Irak'.

Kata dasar feminin (muannas) dijadikan adjektiva dengan pengimbuhan akhiran -iah. Kata hijrah, misalnya, menjadi hijriah, yakni nama tarikh Islam yang didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw.; fitrah menjadi fitriah 'yang berkaitan dengan fitrah'.

Di samping itu, terdapat pula kata bentukan dengan akhiran -iah, yang dibentuk dari kata dasar maskulin. Misalnya, Muhammad, Islam, khilaf, dan imsak menjadi Muhammadi(y)ah 'yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw.; Islamiah 'yang berhubungan dengan agama Islam'; khilafiah 'yang berkaitan dengan khilaf (perbedaan pendapat)'; imsakiah 'yang berkaitan dengan imsak.'

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa penggunaan kata hijrah yang mengacu ke penanggalan yang didasarkan pada berpindahnya Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Madinah tidak tepat. Bentuk yang tepat untuk itu adalah hijriah. Jadi, kalimat contoh di atas seharusnya

Tahun baru Hijriah jatuh pada tanggal 14 Agustus 1988 Masehi 

dan

Tahun 1408 Hijriah akan kita tinggalkan.



Baca juga:
Makna Kata Acuh dan Tayang
Makna Kata Kilah dan Tukas
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan

Makna Kata Acuh dan Tayang

Kata acuh, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), berarti 'peduli, mengindahkan'. Kata acuh lebih sering muncul dalam bentuk tidak acuh, acuh tak acuh, dan tidak mengacuhkan. Dalam percakapan tidak resmi, pemakaian kata acuh dengan nada tertentu sering kali justru sama maknanya dengan tidak acuh. Demikian pula kata peduli dan tahu, jika diucapkan dengan intonasi tertentu, maknanya sama dengan tidak peduli dan tidak tahu. Dalam bahasa tulis pemakaian seperti itu hendaklah dihindari, apalagi jika diingat bahwa tanda-tanda yang melambangkan intonasi yang dimaksud tidak tersedia. Wacana (1) berikut ini memuat pemakaian kata mengacuhkan yang tidak tepat, sedangkan wacana (2) memuat pemakaiannya yang tepat.

(1) Didi diperingatkan oleh gurunya agar tidak berisik. Dia mengacuhkan saja peringatan itu dan terus bercakap dengan temannya.
(2) Di tikungan itu sering terjadi kecelakaan. Hal itu seharusnya dapat dihindari jika para pengemudi mau mengacuhkan rambu-rambu yang ada.

Kata lain yang menjadi sinonim mengacuhkan adalah menghiraukan, memperhatikan, memedulikan, dan mengindahkan.

Akhir-akhir ini dipakai kata tayang, menayangkan. Sebetulnya bukanlah kata yang baru sebab sudah lama tercatat dalarn KUBI. 'Menayangkan' artinya (1) 'membawa sesuatu di telapak tangan' dan (2) 'mempersembahkan (dalam arti mempertunjukkan film dan sebagainya)'. Dalam beberapa bahasa daerah pun ada kata tayang, misalnya, dalam bahasa Alas di Daerah Istimewa Aceh dengan arti 'melemparkan benda dengan sekuat-kuatnya sehingga benda itu melayang-layang'. Tampaklah di sini adanya perkaitan arti. Dengan adanya kata itu, di samping memutar film, menyajikan film, mempersembahkan film, kita dapat juga mengatakan menayangkan film. Keuntungan lain, kita dapat mengatakan menayangkan salindia (slide) dan ini lebih tepat daripada memutar salindia.



Baca juga:
Makna Kata Kilah dan Tukas
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan

 

 



Rabu, 13 Juli 2016

Kata Ranking dan Langganan


Kata ranking sering digunakan pada kalimat seperti berikut.

(1) Di kelasnya dia menduduki ranking kedua.

Kata ranking di sini diartikan 'peringkat'. Pengertian ini tidak tepat. Dalam bahasa Inggris kata ranking sesungguhnya berarti 'pemeringkatan'. Perneringkatan adalah proses menyusun urutan berdasarkan tolok ukur tertentu. Kedudukan dalam urutan itu disebut peringkat atau rank.
Dalam kalimat (1) di atas kita seharusnya tidak menggunakan kata ranking, tetapi peringkat. (Kata rank yang sepadan dengan peringkat tidak kita serap).

Kalimat itu perlu diubah menjadi:

(1a) Di kelasnya dia menduduki peringkat kedua.

Kata langganan sering digunakan dalam katimat seperti berikut.

(2) Saya ingin langganan majalah itu. 

Kata langganan bukanlah verba, melainkan nomina. Verbanya adalah melanggani atau berlangganan. Kalimat (2) itu dapat diperbaiki menjadi (a) ataupun (b).

(2a) Saya ingin melanggani majalah itu. 
(2b) Saya ingin berlangganan majalah itu. 

Kata langganan dapat digunakan seperti dalam kalimat

(3) Uang langganan dapat dibayarkan sebulan sekali. 



Baca juga:
Kata Bahasa Indonesia
Penulisan Kata yang Benar
Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat
Kata Si dan Sang
Pemenggalan Kata