Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label awalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label awalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 April 2018

Perubahan Awalan ber-

Perubahan Awalan ber-

Baca sebelumnya!

Selain awalan meng- dan peng-, awalan ber- juga dapat berubah sesuai dengan lingkungan bunyi yang dimasukinya. Dalam hal ini, awalan ber- dapat berubah menjadi be- dan bel- atau tetap menjadi ber-. Awalan ber- berubah menjadi be- jika digabungkan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /r/ atau kata dasar yang suku kata pertamanya mengandung bunyi [er]. Awalan ber- berubah menjadi bel- jika digabungkan dengan kata dasar ajar, dan awalan ber- tetap menjadi ber- jika digabungkan dengan kata dasar selain yang telah disebutkan itu.

Misalnya:

ber- berubah menjadi be-
ber- + roda ==> beroda
ber- + rasa ==> berasa
ber- + kerja ==> bekerja
ber- + ternak ==> beternak

ber- berubah menjadi bel-
ber- + ajar ==> belajar

ber- tetap menjadi ber-
ber- + kabung ==> berkabung
ber- + tanya ==> bertanya


Baca selanjutnya!

Sabtu, 24 Maret 2018

Pembentukan Kata dengan Awalan

disalin dari Drs. Mustakim, M.Hum. Bentuk dan Pilihan Kata. Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta: 2014

Baca artikel sebelumnya

Pembentukan Kata dengan Awalan
Di antara beberapa awalan yang dapat digunakan sebagai pembentuk kata dalam bahasa Indonesia, meng- dan peng- merupakan awalan yang paling banyak menimbulkan masalah. Dikatakan demikian karena awalan itu dapat mengalami perubahan bentuk jika digabungkan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem tertentu. Awalan meng-, misalnya, dapat berubah bentuknya menjadi me-, meny-, men-, mem-, dan menge-. Begitu pula halnya dengan awalah peng-. Seperti awalan meng-, awalan peng- juga dapat berubah menjadi pe-, peny-, pen-, pem-, dan penge-.

Perubahan Awalan Meng- dan Peng-
Secara ringkas, perubahan awalan meng- dan peng- tersebut, baik disertai akhiran maupun tidak, dapat dirangkum dalam ketentuan sebagai berikut.

(1) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi me- dan pe- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal fonem /r, l, m, n, w, y, ng, ny/.

Misalnya:

meng-/peng- + rawat ==> merawat, perawat
meng-/peng- + lamar
==> melamar, pelamar
meng-/peng- + minum
==> meminum, peminum
meng-…-i + nama
==> menamai
peng-…-an + nama
==> penamaan
meng-…-i + waris
==> mewarisi
peng- + waris
==> pewaris
meng-…-kan + yakin
==> meyakinkan
peng-…-an + yakin
==> peyakinan
meng- + nganga
==> menganga
meng-/peng - + nyanyi
==> menyanyi, penyanyi

(2) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi mem- dan pem- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /p, b, f, v/.

Misalnya:
meng-/peng - + pandu ==> memandu, pemandu
meng-/peng - + bawa
==> membawa, pembawa
meng-/peng - + fitnah
==> memfitnah, pemfitnah
meng-/peng - + vonis
==> memvonis, pemvonis

(3) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi men- dan pen- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /t, d, c, j, z, sy/.

Misalnya:
meng-/peng - + tuduh ==> menuduh, penuduh
meng-/peng - + dakwah
==> mendakwah, pendakwah
meng-/peng - + curi
==> mencuri, pencuri
meN-/peN- + jual
==> menjual, penjual
meng-…-i + ziarah
==> menziarahi
peng- + ziarah
==> penziarah
meng-…-i + syukur
==> mensyukuri
peng-…-an + syukur
==> pensyukuran

(4) Awalan meng- dan peng- tetap menjadi meng- dan peng- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /k, g, h, kh, dan vokal/.

Misalnya:
meng-/peng- + karang ==> mengarang, pengarang
meng-/peng- + ganggu
==> mengganggu, penggangu
meng-/peng- + hasut
==> menghasut, penghasut
meng-/peng- + khitan
==> mengkhitan, pengkhitan
meng-/peng- + atur
==> mengatur, pengatur
meng-/peng- + ekor ==> mengekor, pengekor
meng-/peng- + inap
==> menginap, penginap
meng-…-i + obat
==> mengobati
peng-…-an + obat
==> pengobatan
meng-/peng - + ukur
==> mengukur, pengukur

(5) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi meny- dan peny- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /s/.

Misalnya:
meng-/peng- + sayang ==> menyayang,penyayang
meng-/peng- + sapa
==> menyapa, penyapa
meng-/peng- + sulap
==> menyulap, penyulap
meng-/peng- + sikat
==> menyikat, penyikat

(6) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi menge- dan penge- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang hanya terdiri atas satu suku kata.

Misalnya:
meng-/peng- + cat ==> mengecat, pengecat
meng-/peng- + bom
==> mengebom, pengebom
meng-/peng- + las
==> mengelas, pengelas
meng-/peng- + pel
==> mengepel, pengepel
meng-/peng - + cek
==> mengecek, pengecek
meng-/peng- + tes
==> mengetes, pengetes

(7) Fonem /k, p, t, s/ pada awal kata dasar luluh jika mendapat awalan meng- dan peng-.

Misalnya:
meng-/peng- + kikis ==> mengikis, pengikis
meng-/peng- + pukul
==> memukul, pemukul
meng-/peng- + tukar
==> menukar, penukar
meng-/peng- + suntik
==> menyuntik, penyuntik

Perubahan dan peluluhan dalam proses pembentukan kata tersebut terjadi karena fonem-fonem yang bersangkutan, baik fonem nasal maupun fonem lain pada awal kata dasar, mengalami proses nasalisasi, yaitu proses penyesuaian fonem (bunyi) dengan fonem-fonem yang homorgan atau sebunyi. Jadi, proses nasalisasi dan asimilasi bunyi itulah yang menyebabkan timbulnya perubahan dan peluluhan.

Meskipun kaidahnya sudah jelas seperti itu, dalam kenyataan berbahasa masih ditemukan kata-kata bentukan yang bentuknya menyimpang dari kaidah. Beberapa kata bentukan dengan awalan meng- (-kan) dan peng- (-an) yang pembentukannya tidak sesuai dengan kaidah, antara lain, adalah mengetrapkan, mentrapkan, menterapkan, pengetrapan, pentrapan, penglepasan, dan pengrusakan. Bentukan kata tersebut dikatakan tidak tepat karena proses pembentukannya tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Agar dapat membentuk kata dengan benar dan mampu mengecek kebenaran bentukan kata, selain harus memahami proses pengimbuhan, kita juga dituntut untuk lebih “akrab” dengan kamus. Dengan menggunakan sebuah kamus, kita dapat mengecek kata dasar dari bentukan kata itu yang benar. Jika dilihat di dalam kamus, khususnya kamus bahasa Indonesia, kata dasar trap dirujuksilangkan (crossed reference) pada terap. Hal itu berarti bahwa kata dasar yang baku adalah terap, bukan trap. Oleh karena itu, jika ditambah dengan gabungan imbuhan meng-…-kan, bentukannya yang
benar menjadi menerapkan, bukan mengetrapkan, mentrapkan, atau menterapkan karena fonem /t/ pada awal kata dasar itu luluh jika mendapat imbuhan meng-, baik diikuti akhiran maupun tidak.
Begitu juga, jika ditambah dengan gabungan imbuhan peng-…-an, bentukannya yang benar adalah penerapan, bukan pengetrapan, pentrapan, atau penterapan. Dengan demikian, secara singkat, bentukan kata itu dapat dirangkum sebagai berikut.

BakuTidak Baku
menerapkanmengetrapkan,
mentrapkan, menterapkan
penerapanpengetrapan, pentrapan,
penterapan


Kata penglepasan oleh pemakai bahasa sering pula digunakan di samping kata pelepasan, tetapi keduanya diberi arti yang berbeda. Kata penglepasan umumnya diberi makna ‘proses, tindakan, atau hal melepaskan’, sedangkan pelepasan diberi makna ’anus’.

Kalau ditinjau dari segi kata dasarnya, kedua kata tersebut sebenarnya dibentuk dengan imbuhan dan dasar yang sama, yaitu peng-..-an + lepas. Sejalan dengan kaidah, imbuhan peng- berubah menjadi pe- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan /l/. Oleh karena itu, bentukannya yang tepat adalah pelepasan, bukan penglepasan. Masalah kata itu mempunyai dua makna yang berbeda sebenarnya tidak perlu dipersoalkan karena konteks pemakaiannya akan menentukan makna mana yang dimaksud. Jadi, untuk membedakan makna itu, pemakai bahasa tidak perlu membentuk kata itu dengan menyimpangkannya dari kaidah.

Berbeda dengan hal tersebut, kata perusakan dan pengrusakan tidak digunakan untuk menyatakan makna yang berbeda, demikian pula halnya dengan kata perajin dan pengrajin. Kata dasar dari kedua pasang kata tersebut, kita tahu, berawal dengan fonem /r/. Dalam kaitan itu, jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan /r/, awalan peng- berubah menjadi menjadi pe-. Atas dasar itu, bentukan kata-kata tersebut yang tepat adalah perusakan dan perajin, bukan pengrusakan dan pengrajin. Bandingkan dengan kata-kata lain, seperti perawat, perawatan, perumus, dan perumusan. Jadi, bentukan kata-kata tersebut, yang baku dan yang tidak baku, dapat dirangkum seperti berikut.


BakuTidak Baku
pelepasanpenglepasan
perusakpengrusak
perusakanpengrusakan
perajinpengrajin


Masalah berikutnya, kata menterjemahkan, mengkaitkan, menyolok, dan memroduksi bentukannya juga tidak tepat. Kata menterjemahkan, termasuk di dalamnya kata mentaati, dan mengkaitkan bentuk dasarnya masing-masing adalah terjemah, taat, dan kait. Menurut kaidah, fonem /t/ dan /k/, seperti halnya /p/ dan /s/, pada awal kata dasar mengalami peluluhan jika dirangkaikan dengan imbuhan meng- (dan peng), baik disertai akhiran maupun tidak. Oleh karena itu, bentukan kata-kata itu yang tepat adalah menerjemahkan, menaati, dan mengaitkan, bukan, menterjemahkan, mentaati, dan mengkaitkan.

Bandingkan dengan contoh lain di bawah ini.

meN- + tatap ==> menatap 
meN- + tulis ==> menulis
meng- + kupas ==> mengupas
meng- + potong ==> memotong
meng- + silang ==> menyilang
meng- + suluh ==> menyuluh

Bentukan kata menyolok, juga menyontoh, dan menyubit, dalam hal ini juga tidak tepat karena bentuk dasar kata-kata itu adalah colok, contoh, dan cubit, yang masing-masing berawal dengan fonem /c/. Dalam bahasa Indonesia, fonem /c/ pada awal kata dasar tidak luluh jika dirangkaikan dengan awalan meng-. Dengan demikian, bentuk kata-kata tersebut yang tepat adalah mencolok, mencontoh, dan mencubit, bukan menyolok, menyontoh, dan menyubit. Beberapa contoh lain dapat diperhatikan di bawah ini.

meng- + cuci ==> mencuci
meng-…-i + campur ==> mencampuri
meng-…-i + cinta ==> mencintai
meng- + cemooh ==> mencemooh

Gugus konsonan /pr/, /st/, /sk/, /tr/, /sp/, /kr/, dan /kl/pada awal kata dasar juga tidak luluh jika dirangkaikan dengan awalan meng-. Beberapa contohnya dapat diperhatikan di bawah ini.

meng- + produksi ==> memproduksi
meng- + protes ==> memprotes
meng- + proses ==> memproses
meng-…-kan + stabil ==> menstabilkan
meng-…-kan + skema  ==> menskemakan
meng- + tradisi ==> mentradisi
meng-…-i + sponsor ==> mensponsori
meng-... + kritik ==> mengkritik
meng- + klasifikasi ==> mengklasifikasi

Fonem /k/, /p/, /t/, dan /s/ pada gugus konsonan tersebut tidak luluh apabila mendapat imbuhan, baik meng- maupun peng-, kecuali fonem awal /p/ jika mendapat imbuhan peng-. Dalam hal ini, jika mendapat imbuhan meng-, fonem /p/ pada gugus konsonan /pr/ tidak luluh, tetapi jika mendapat imbuhan peng- fonem /p/ itu luluh.

Misalnya:
meng- + proses ==> memproses
meng- + produksi ==> memproduksi
peng- + proses ==> pemroses
peng- + produksi ==> pemroduksi

Peluluhan fonem /p/ pada awal kata yang berupa gugus konsonan didasarkan pada pertimbangan kemudahan dalam pelafalan. Dalam hal ini, kata pemroduksi dan pemroses, misalnya, dipandang lebih mudah dilafalkan daripada pemproduksi dan pemproses. Atas dasar itu, peluluhan fonem /p/ pada gugus konsonan /pr/ yang mendapat imbuhan peng- menjadi pengecualian dari kaidah.

Baca selanajutnya!

Jumat, 23 Maret 2018

Pengimbuhan

disalin dari Drs. Mustakim, M.Hum. Bentuk dan Pilihan Kata. Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta: 2014

Baca artikel sebelumnya


Pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan imbuhan pada kata dasar. Sehubungan dengan itu, imbuhan yang lazim digunakan sebagai unsur pembentuk kata dalam bahasa Indonesia, paling tidak, terdiri atas empat macam, dan masing-masing diberi nama sesuai dengan posisinya pada suatu kata.

Pertama, imbuhan yang terletak pada awal kata lazim disebut awalan (prefiks).
Kedua, imbuhan yang terletak pada akhir kata lazim disebut akhiran (sufiks).
Ketiga, imbuhan yang terletak pada tengah kata lazim disebut sisipan (infiks).
Keempat, imbuhan yang terletak pada awal kata dan akhir kata sekaligus lazim disebut gabungan imbuhan (konfiks).

Beberapa contoh imbuhan itu dapat diperhatikan di bawah ini.

a. Awalan
meng- ==> menulis, melamar, memantau
di- ==> ditulis, dilamar, dipantau
peng- ==> penulis, penyanyi, peramal
ber- ==> berkebun, bermain, bermimpi
ter- ==> terpaksa, terpadu, tersenyum
se- ==> serupa, senada, seiring

b. Akhiran
-an ==> tulisan, tatapan, tantangan
-i ==> temui, sukai, pandangi
-kan ==> tumbuhkan, sampaikan, umumkan

c. Sisipan
-el- ==> geletar, geligi, gelantung
-em- ==> gemuruh, gemetar
-er- ==> gerigi

d. Gabungan Imbuhan
meng-...-kan ==> menemukan, meratakan
meng-...-i ==> memandangi, mengunjungi
peng-...-an ==> pendidikan, pemandian
ke-...-an ==> kehujanan, kemajuan
se-...-nya ==> seandainya, sebaiknya
per-...-an ==> peraturan, persimpangan

Baca artikel berikutnya!

Rabu, 22 Februari 2017

Kapan "di" dan "ke" ditulis terpisah dan kapan digabung?

Sebagai kata depan, "di" dan "ke" ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Sedangkan sebagai awalan, "di" dan "ke" ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Contohnya adalah:

kata depanawalan
di sinidisimpan
di atasdiantar
di pinggirdipinjam
di pantaidipantau
di bawahdibawa

ke depanketua
ke depankekasih
ke ataskedua (tingkat/urutan)
ke rumahketiga (tinmgkat/urutan)
ke belakangkeempat (kumpulan)
ke kampungkelima (kelompok)
Kapan "di" dan "ke" ditulis terpisah dan kapan digabung?


Bagaimana membedakan kapan "di" digunakan sebagai kata depan, dan kapan "di" digunakan sebagai awalan?

Kadang-kadang orang merasa bingung saat membedakan kata depan dan awalan. Misalnya, bentuk di pada di atas termasuk kata depan atau awalan? Sekurang-kurangnya ada dua cara untuk mentukan apakah bentuk di tersebut masuk kata depan atau awalan. Pertama, kata depan di mempunyai pasangan ke dan dari. Kedua, kata depan di tidak dapat dilawankan dengan meng-. Ambillah contoh kata di atas tadi! Selain di atas, ada pula ke atas, dan dari atas. Bentuk di atas juga tidak dapat dilawankan dengan mengatas. Hal itu berarti bahwa di pada di atas termasuk kata depan. Oleh karena itu, kata di atas ditulis terpisah. Di bawah ini diberikan beberapa contoh lain.

di lantaidi negara lain
ke lantaike negara lain
dari lantaidari negara lain
di tengahdi persimpangan jalan
ke tengahke persimpangan jalan
dari tengahdari persimpangan jalan
di ujung jalandi sejumlah daerah
ke ujung jalanke sejumlah daerah
dari ujung jalandari sejumlah daerah

Bagaimana dengan kata keluar? Kata keluar ditulis terpisah atau serangkai? Kata keluar dibedakan menjadi dua macam. Selain ke luar, kita temukan pula di luar dan dari luar. Hal itu berarti bahwa kata ke luar itu merupakan kata depan sehingga harus ditulis terpisah.
Namun, ada juga keluar yang ditulis serangkai. Kata keluar yang kedua ini merupakan lawan masuk. Jadi, kata keluar yang kedua ini merupakan kata kerja, bukan kata depan atau kelompok kata kata-depan. Oleh karena itu, penulisannya diserangkaikan. Perhatikan kalimat di bawah ini secara saksama!

1) Presiden RI akan berkunjung ke luar negeri.
2) Hati-hati keluar masuk kendaraan proyek.


Kata ke luar pada kalimat (1) merupakan kata depan. Kelompok kata ke luar negeri itu dapat disandingkan dengan di luar negeri dan dari luar negeri.

Bandingkan kalimat di bawah ini!

1) Presiden RI akan berkunjung ke luar negeri.
1a) Presiden RI akan berada di luar negeri selama satu minggu.
1b) Presiden RI akan kembali dari luar negeri minggu depan.


Namun, kata keluar pada kalimat (2) bukan merupakan kata depan karena lawannya masuk. Kalimat (2) tidak dapat dibuat variasinya seperti kalimat (1). Perhatikan baik-baik kalimat berikut.\

2) Hati-hati ke luar masuk* kendaraan proyek.
2a) Hati-hati di luar masuk* kendaraan proyek. (tidak bisa)
2b) Hati-hati dari luar masuk* kendaraan proyek. (tidak bisa)

Jika kalimat (2a) dan (2b) dirasa mungkin, artinya sudah berbeda jauh atau bukan merupakan pasangannya. Oleh karena itu, kata keluar seperti pada kalimat (2) ditulis serangkai.

Kata ke samping termasuk kata depan karena kita temukan pula di samping dan dari samping. Namun, kata ke samping dapat berubah menjadi kata kerja setelah diberi imbuhan meng-…-kan. Oleh karena itu, mengesampingkan ditulis serangkai. Begitu pula kata ke tengah dan ke depan. Kedua kata itu juga tegolong kata depan sehingga ditulis terpisah. Akan tetapi, setelah mendapat imbuhan meng-…-kan, kedua kata itu ditulis serangkan karena statusnya berubah menjadi kata kerja, bukan lagi sebagai kata depan. Perhatikan kalimat berikut.

1) Dia membawa sepedanya ke samping rumah.
2) Sekarang mereka pergi ke samping gedung tingkat itu.
3) Kita tidak dapat mengesampingkan dari dari mereka.
4) Banyak orang sering mengesampingkan nasihat orang tuanya.


Baca juga:
... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)
Kata Depan di, ke, dan dari
Di mana, yang mana
Bagaimanakah pemakaian ini, itu dan begini, begitu?


Senin, 11 Juli 2016

Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat

Imbuhan pada sebuah verba memberikan makna tertentu pada verba itu. Oleh sebab itu, pemakalannya pun harus dilakukan secara cerrnat. Berikut ini beberapa contoh pemakaian imbuhan, dalam hal ini akhiran, yang perlu diperhatikan.

(1) Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan iman.

Akhiran -kan pada kata diberikan seharusnya tidak muncul. Kalimat itu seharusnya berbunyi:

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan iman.

atau

Semoga kekuatan iman diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Bandingkan dengan kalimat-kalimat berikut.

(2) Saliman memberi adiknya buku baru.
(3) Adiknya diberi (Saliman) buku baru. 
(4) Saliman memberikan buku baru kepada adiknya. 
(5) Buku baru diberikan (Saliman) kepada adiknya. 

Perhatikan pula penggunaan akhiran -kan pada contoh berikut.

(6) Gubernur menugaskan walikota untuk menyelesaikan masalah itu. 

Bentuk menugaskan tidak tepat digunakan dalam kalimat di atas. Bentuk yang seharusnya digunakan ialah menugasi sehingga kalimat perbaikannya menjadi seperti berikut.

(6a) Gubernur menugasi walikota untuk rnenyelesaikan masalah itu. 

Agar lebih jelas perhatikan kalimat-kalimat berikut.

(7) la menugaskan penyusunan buku itu kepada saya.
(8) Penyusunan buku itu ditugaskan kepada saya.
(9) la menugasi saya (untuk) menyusun buku.
(10) Saya ditugasi (untuk) menyusun buku.

Dari contoh-contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa menugaskan berarti 'menjadikan tugas', sedangkan menugasi berarti 'memberi tugas kepada'.



Baca juga:
Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?
Singkatan dan Akronim
Di mana, yang mana
... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)
Izin atau Ijin - Kata yang Sering Salah Eja

Kamis, 15 Januari 2015

... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)





Awalan di- di dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai pembentuk kata kerja (verba) pasif dan berkaitan dengan bentuk aktifnya yang dibentuk dengan awalan me-, misalnya "dipukul" dan "memukul". Awalan di- tidak pernah mengalami perubahan bentuk.

Kesalahan yang sering terjadi adalah kekeliruan penulisan di- sebagai awalan yang harus ditulis serangkai dan penulisan di sebagai kata depan (preposisi) penunjuk tempat yang harus ditulis terpisah. Contohnya "dijual" bukan "di jual" dan "di mana" bukan "dimana". Cara mudah untuk memisahkan fungsi keduanya adalah dengan melihat jenis kata yang terbentuk: Jika menjadi kata kerja pasif, itu berarti harus ditulis serangkai dan jika menjadi penunjuk tempat atau lokasi, itu berarti harus ditulis terpisah.

Sebagai kata depan kata "di" harus ditulis terpisah:
di antara
di akhir
di atas
di awal
di bagian
di bawah
di belakang
di dalam
di dekat
di depan
di hadapan
di jalan
di kanan
di kiri
di luar
di mana
di muka
di pusat
di rumah
di samping
di saat
di sana
di sebelah
di seberang
di sekeliling
di sekitar
di seluruh
di sini
di sisi
di situ
di tanah
di tempat
di tengah
di tengah-tengah
di tepi
di tiap
di tiap-tiap
Beberapa kata yang memiliki arti beda jika ditulis terpisah. Kata-kata ini khusus untuk kata dasar yang dapat berfungsi sebagai kata benda (penunjuk tempat) sekaligus kata kerja. Beberapa contohnya
  • Dibalik = bentuk pasif dari membalik
  • Di balik = di bagian sebaliknya
  • Dipenjara = bentuk pasif dari memenjarakan (dikarantina, dibui, disel, dll.)
  • Di penjara = di (dalam) penjara (di karantina, di bui, di sel, dll.)
  • Disalib = bentuk pasif dari menyalib
  • Di salib = di (atas) salib
  • Digambar = bentuk pasif dari menggambar (disketsa, dipigura, difoto, dll.)
  • Di gambar = pada gambar (di sketsa, di pigura, di foto, dll.)
  • dan lain-lain,
Beberapa kata dapat diberi konfiks "di-kan", misalnya "diseberangkan", atau konfiks "di-i", misalnya "diawali"

Sebagai awalan, harus menyatu dengan kata kerjanya:
diakui, dikenai, dipukuli, ditampar, diberi, dicuri, dikerjakan, dll