Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Sabtu, 24 Maret 2018

Pembentukan Kata dengan Awalan

disalin dari Drs. Mustakim, M.Hum. Bentuk dan Pilihan Kata. Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta: 2014

Baca artikel sebelumnya

Pembentukan Kata dengan Awalan
Di antara beberapa awalan yang dapat digunakan sebagai pembentuk kata dalam bahasa Indonesia, meng- dan peng- merupakan awalan yang paling banyak menimbulkan masalah. Dikatakan demikian karena awalan itu dapat mengalami perubahan bentuk jika digabungkan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem tertentu. Awalan meng-, misalnya, dapat berubah bentuknya menjadi me-, meny-, men-, mem-, dan menge-. Begitu pula halnya dengan awalah peng-. Seperti awalan meng-, awalan peng- juga dapat berubah menjadi pe-, peny-, pen-, pem-, dan penge-.

Perubahan Awalan Meng- dan Peng-
Secara ringkas, perubahan awalan meng- dan peng- tersebut, baik disertai akhiran maupun tidak, dapat dirangkum dalam ketentuan sebagai berikut.

(1) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi me- dan pe- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal fonem /r, l, m, n, w, y, ng, ny/.

Misalnya:

meng-/peng- + rawat ==> merawat, perawat
meng-/peng- + lamar
==> melamar, pelamar
meng-/peng- + minum
==> meminum, peminum
meng-…-i + nama
==> menamai
peng-…-an + nama
==> penamaan
meng-…-i + waris
==> mewarisi
peng- + waris
==> pewaris
meng-…-kan + yakin
==> meyakinkan
peng-…-an + yakin
==> peyakinan
meng- + nganga
==> menganga
meng-/peng - + nyanyi
==> menyanyi, penyanyi

(2) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi mem- dan pem- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /p, b, f, v/.

Misalnya:
meng-/peng - + pandu ==> memandu, pemandu
meng-/peng - + bawa
==> membawa, pembawa
meng-/peng - + fitnah
==> memfitnah, pemfitnah
meng-/peng - + vonis
==> memvonis, pemvonis

(3) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi men- dan pen- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /t, d, c, j, z, sy/.

Misalnya:
meng-/peng - + tuduh ==> menuduh, penuduh
meng-/peng - + dakwah
==> mendakwah, pendakwah
meng-/peng - + curi
==> mencuri, pencuri
meN-/peN- + jual
==> menjual, penjual
meng-…-i + ziarah
==> menziarahi
peng- + ziarah
==> penziarah
meng-…-i + syukur
==> mensyukuri
peng-…-an + syukur
==> pensyukuran

(4) Awalan meng- dan peng- tetap menjadi meng- dan peng- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /k, g, h, kh, dan vokal/.

Misalnya:
meng-/peng- + karang ==> mengarang, pengarang
meng-/peng- + ganggu
==> mengganggu, penggangu
meng-/peng- + hasut
==> menghasut, penghasut
meng-/peng- + khitan
==> mengkhitan, pengkhitan
meng-/peng- + atur
==> mengatur, pengatur
meng-/peng- + ekor ==> mengekor, pengekor
meng-/peng- + inap
==> menginap, penginap
meng-…-i + obat
==> mengobati
peng-…-an + obat
==> pengobatan
meng-/peng - + ukur
==> mengukur, pengukur

(5) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi meny- dan peny- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan fonem /s/.

Misalnya:
meng-/peng- + sayang ==> menyayang,penyayang
meng-/peng- + sapa
==> menyapa, penyapa
meng-/peng- + sulap
==> menyulap, penyulap
meng-/peng- + sikat
==> menyikat, penyikat

(6) Awalan meng- dan peng- berubah menjadi menge- dan penge- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang hanya terdiri atas satu suku kata.

Misalnya:
meng-/peng- + cat ==> mengecat, pengecat
meng-/peng- + bom
==> mengebom, pengebom
meng-/peng- + las
==> mengelas, pengelas
meng-/peng- + pel
==> mengepel, pengepel
meng-/peng - + cek
==> mengecek, pengecek
meng-/peng- + tes
==> mengetes, pengetes

(7) Fonem /k, p, t, s/ pada awal kata dasar luluh jika mendapat awalan meng- dan peng-.

Misalnya:
meng-/peng- + kikis ==> mengikis, pengikis
meng-/peng- + pukul
==> memukul, pemukul
meng-/peng- + tukar
==> menukar, penukar
meng-/peng- + suntik
==> menyuntik, penyuntik

Perubahan dan peluluhan dalam proses pembentukan kata tersebut terjadi karena fonem-fonem yang bersangkutan, baik fonem nasal maupun fonem lain pada awal kata dasar, mengalami proses nasalisasi, yaitu proses penyesuaian fonem (bunyi) dengan fonem-fonem yang homorgan atau sebunyi. Jadi, proses nasalisasi dan asimilasi bunyi itulah yang menyebabkan timbulnya perubahan dan peluluhan.

Meskipun kaidahnya sudah jelas seperti itu, dalam kenyataan berbahasa masih ditemukan kata-kata bentukan yang bentuknya menyimpang dari kaidah. Beberapa kata bentukan dengan awalan meng- (-kan) dan peng- (-an) yang pembentukannya tidak sesuai dengan kaidah, antara lain, adalah mengetrapkan, mentrapkan, menterapkan, pengetrapan, pentrapan, penglepasan, dan pengrusakan. Bentukan kata tersebut dikatakan tidak tepat karena proses pembentukannya tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Agar dapat membentuk kata dengan benar dan mampu mengecek kebenaran bentukan kata, selain harus memahami proses pengimbuhan, kita juga dituntut untuk lebih “akrab” dengan kamus. Dengan menggunakan sebuah kamus, kita dapat mengecek kata dasar dari bentukan kata itu yang benar. Jika dilihat di dalam kamus, khususnya kamus bahasa Indonesia, kata dasar trap dirujuksilangkan (crossed reference) pada terap. Hal itu berarti bahwa kata dasar yang baku adalah terap, bukan trap. Oleh karena itu, jika ditambah dengan gabungan imbuhan meng-…-kan, bentukannya yang
benar menjadi menerapkan, bukan mengetrapkan, mentrapkan, atau menterapkan karena fonem /t/ pada awal kata dasar itu luluh jika mendapat imbuhan meng-, baik diikuti akhiran maupun tidak.
Begitu juga, jika ditambah dengan gabungan imbuhan peng-…-an, bentukannya yang benar adalah penerapan, bukan pengetrapan, pentrapan, atau penterapan. Dengan demikian, secara singkat, bentukan kata itu dapat dirangkum sebagai berikut.

BakuTidak Baku
menerapkanmengetrapkan,
mentrapkan, menterapkan
penerapanpengetrapan, pentrapan,
penterapan


Kata penglepasan oleh pemakai bahasa sering pula digunakan di samping kata pelepasan, tetapi keduanya diberi arti yang berbeda. Kata penglepasan umumnya diberi makna ‘proses, tindakan, atau hal melepaskan’, sedangkan pelepasan diberi makna ’anus’.

Kalau ditinjau dari segi kata dasarnya, kedua kata tersebut sebenarnya dibentuk dengan imbuhan dan dasar yang sama, yaitu peng-..-an + lepas. Sejalan dengan kaidah, imbuhan peng- berubah menjadi pe- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan /l/. Oleh karena itu, bentukannya yang tepat adalah pelepasan, bukan penglepasan. Masalah kata itu mempunyai dua makna yang berbeda sebenarnya tidak perlu dipersoalkan karena konteks pemakaiannya akan menentukan makna mana yang dimaksud. Jadi, untuk membedakan makna itu, pemakai bahasa tidak perlu membentuk kata itu dengan menyimpangkannya dari kaidah.

Berbeda dengan hal tersebut, kata perusakan dan pengrusakan tidak digunakan untuk menyatakan makna yang berbeda, demikian pula halnya dengan kata perajin dan pengrajin. Kata dasar dari kedua pasang kata tersebut, kita tahu, berawal dengan fonem /r/. Dalam kaitan itu, jika dirangkaikan dengan kata dasar yang berawal dengan /r/, awalan peng- berubah menjadi menjadi pe-. Atas dasar itu, bentukan kata-kata tersebut yang tepat adalah perusakan dan perajin, bukan pengrusakan dan pengrajin. Bandingkan dengan kata-kata lain, seperti perawat, perawatan, perumus, dan perumusan. Jadi, bentukan kata-kata tersebut, yang baku dan yang tidak baku, dapat dirangkum seperti berikut.


BakuTidak Baku
pelepasanpenglepasan
perusakpengrusak
perusakanpengrusakan
perajinpengrajin


Masalah berikutnya, kata menterjemahkan, mengkaitkan, menyolok, dan memroduksi bentukannya juga tidak tepat. Kata menterjemahkan, termasuk di dalamnya kata mentaati, dan mengkaitkan bentuk dasarnya masing-masing adalah terjemah, taat, dan kait. Menurut kaidah, fonem /t/ dan /k/, seperti halnya /p/ dan /s/, pada awal kata dasar mengalami peluluhan jika dirangkaikan dengan imbuhan meng- (dan peng), baik disertai akhiran maupun tidak. Oleh karena itu, bentukan kata-kata itu yang tepat adalah menerjemahkan, menaati, dan mengaitkan, bukan, menterjemahkan, mentaati, dan mengkaitkan.

Bandingkan dengan contoh lain di bawah ini.

meN- + tatap ==> menatap 
meN- + tulis ==> menulis
meng- + kupas ==> mengupas
meng- + potong ==> memotong
meng- + silang ==> menyilang
meng- + suluh ==> menyuluh

Bentukan kata menyolok, juga menyontoh, dan menyubit, dalam hal ini juga tidak tepat karena bentuk dasar kata-kata itu adalah colok, contoh, dan cubit, yang masing-masing berawal dengan fonem /c/. Dalam bahasa Indonesia, fonem /c/ pada awal kata dasar tidak luluh jika dirangkaikan dengan awalan meng-. Dengan demikian, bentuk kata-kata tersebut yang tepat adalah mencolok, mencontoh, dan mencubit, bukan menyolok, menyontoh, dan menyubit. Beberapa contoh lain dapat diperhatikan di bawah ini.

meng- + cuci ==> mencuci
meng-…-i + campur ==> mencampuri
meng-…-i + cinta ==> mencintai
meng- + cemooh ==> mencemooh

Gugus konsonan /pr/, /st/, /sk/, /tr/, /sp/, /kr/, dan /kl/pada awal kata dasar juga tidak luluh jika dirangkaikan dengan awalan meng-. Beberapa contohnya dapat diperhatikan di bawah ini.

meng- + produksi ==> memproduksi
meng- + protes ==> memprotes
meng- + proses ==> memproses
meng-…-kan + stabil ==> menstabilkan
meng-…-kan + skema  ==> menskemakan
meng- + tradisi ==> mentradisi
meng-…-i + sponsor ==> mensponsori
meng-... + kritik ==> mengkritik
meng- + klasifikasi ==> mengklasifikasi

Fonem /k/, /p/, /t/, dan /s/ pada gugus konsonan tersebut tidak luluh apabila mendapat imbuhan, baik meng- maupun peng-, kecuali fonem awal /p/ jika mendapat imbuhan peng-. Dalam hal ini, jika mendapat imbuhan meng-, fonem /p/ pada gugus konsonan /pr/ tidak luluh, tetapi jika mendapat imbuhan peng- fonem /p/ itu luluh.

Misalnya:
meng- + proses ==> memproses
meng- + produksi ==> memproduksi
peng- + proses ==> pemroses
peng- + produksi ==> pemroduksi

Peluluhan fonem /p/ pada awal kata yang berupa gugus konsonan didasarkan pada pertimbangan kemudahan dalam pelafalan. Dalam hal ini, kata pemroduksi dan pemroses, misalnya, dipandang lebih mudah dilafalkan daripada pemproduksi dan pemproses. Atas dasar itu, peluluhan fonem /p/ pada gugus konsonan /pr/ yang mendapat imbuhan peng- menjadi pengecualian dari kaidah.

Baca selanajutnya!

Jumat, 23 Maret 2018

Pengimbuhan

disalin dari Drs. Mustakim, M.Hum. Bentuk dan Pilihan Kata. Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta: 2014

Baca artikel sebelumnya


Pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan imbuhan pada kata dasar. Sehubungan dengan itu, imbuhan yang lazim digunakan sebagai unsur pembentuk kata dalam bahasa Indonesia, paling tidak, terdiri atas empat macam, dan masing-masing diberi nama sesuai dengan posisinya pada suatu kata.

Pertama, imbuhan yang terletak pada awal kata lazim disebut awalan (prefiks).
Kedua, imbuhan yang terletak pada akhir kata lazim disebut akhiran (sufiks).
Ketiga, imbuhan yang terletak pada tengah kata lazim disebut sisipan (infiks).
Keempat, imbuhan yang terletak pada awal kata dan akhir kata sekaligus lazim disebut gabungan imbuhan (konfiks).

Beberapa contoh imbuhan itu dapat diperhatikan di bawah ini.

a. Awalan
meng- ==> menulis, melamar, memantau
di- ==> ditulis, dilamar, dipantau
peng- ==> penulis, penyanyi, peramal
ber- ==> berkebun, bermain, bermimpi
ter- ==> terpaksa, terpadu, tersenyum
se- ==> serupa, senada, seiring

b. Akhiran
-an ==> tulisan, tatapan, tantangan
-i ==> temui, sukai, pandangi
-kan ==> tumbuhkan, sampaikan, umumkan

c. Sisipan
-el- ==> geletar, geligi, gelantung
-em- ==> gemuruh, gemetar
-er- ==> gerigi

d. Gabungan Imbuhan
meng-...-kan ==> menemukan, meratakan
meng-...-i ==> memandangi, mengunjungi
peng-...-an ==> pendidikan, pemandian
ke-...-an ==> kehujanan, kemajuan
se-...-nya ==> seandainya, sebaiknya
per-...-an ==> peraturan, persimpangan

Baca artikel berikutnya!

Bentuk Kata

disalin dari Drs. Mustakim, M.Hum. Bentuk dan Pilihan Kata. Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta: 2014


Dalam bahasa Indonesia secara umum bentuk kata itu terdiri atas dua macam, yaitu kata dasar dan kata bentukan. Kata dasar merupakan suatu kata yang utuh dan belum mendapat imbuhan apa pun. Dalam proses pembentukan kata, kata dasar dapat diartikan sebagai kata yang menjadi dasar bagi bentukan kata lain yang lebih luas. Dalam pengertian ini, kata dasar lazim pula disebut sebagai bentuk dasar, kata asal, dan ada pula yang menyebutnya sebagai dasar kata. Terkait dengan itu, untuk menghindari penyebutan yang berbeda-beda, dalam tulisan ini kata yang menjadi dasar bagi bentukan kata lain yang lebih luas disebut kata dasar.

Berbeda dengan itu, kata bentukan merupakan kata yang sudah dibentuk dari kata dasar dengan menambahkan imbuhan tertentu. Kata bentukan seperti ini lazim pula disebut dengan beberapa istilah yang berbeda-beda, misalnya ada  yang menyebutnya sebagai kata turunan, kata berimbuhan, dan ada pula yang menyebutnya kata jadian. Sehubungan dengan itu, untuk menghindari penggunaan istilah yang berbeda-beda, dalam tulisan ini istilah yang digunakan adalah kata bentukan.

Kedua bentuk kata tersebut, baik kata dasar maupun kata bentukan, akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikut.

Kata Dasar
Kata dasar selain dapat digunakan sebagai dasar bagi bentukan kata lain yang lebih luas, dapat pula digunakan tanpa ditambah dengan imbuhan apa pun. Kalimat berikut, misalnya, dibentuk dengan menggunakan kata dasar seluruhnya.

(1) Nanti siang Ratna akan pergi ke kampus.

Kalimat (1) terdiri atas tujuh kata, yaitu
(a) nanti,
(b) siang,
(c) Ratna,
(d) akan,
(e) pergi,
(f) ke, dan
(g) kampus.

Ketujuh kata yang membentuk kalimat (1) di atas seluruhnya berupa kata dasar. Kata-kata seperti itu dan beberapa kata lain yang tergolong sebagai kata dasar sudah diketahui dan sudah tersimpan di dalam memori para pengguna bahasa. Oleh karena itu, jika akan digunakan, kata-kata seperti itu tinggal dikeluarkan dari memori atau ingatan. Dengan demikian, dalam berbahasa tidak ada masalah jika informasi yang disampaikan seluruhnya dinyatakan dalam bentuk kata dasar.

Oleh karena itu, bentuk kata yang berupa kata dasar tidak akan dibahas lagi dalam tulisan ini. Masalah yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikut adalah kata bentukan karena bentuk kata yang berupa kata bentukan ini relatif kompleks dan banyak masalah.

Kata Bentukan
Seperti yang sudah disinggung pada bagian sebelumnya, kata bentukan dalam penggunaan bahasa relatif banyak masalah. Permasalahan yang sering timbul terkait dengan kata bentukan itu adalah masih banyak kata bentukan tidak benar yang selama ini digunakan oleh masyarakat dalam berbahasa, baik tulis maupun lisan. Atas dasar itu, agar kesalahan serupa tidak terulang secara terus-menerus, kata bentukan perlu dibahas lebih lanjut pada bagian berikut.

Kata bentukan yang selama ini sering digunakan dengan tidak benar, terutama, adalah yang dibentuk dengan pengimbuhan, misalnya kata merubah, merobah, mengetrapkan, mentrapkan, menterapkan, perobahan, pengetrapan, pentrapan, penglepasan, dan pengrusakan. Bentukan kata-kata tersebut dikatakan tidak benar karena proses pembentukannya tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Jika dilihat di dalam kamus, khususnya kamus bahasa Indonesia, kata robah dan rubah tidak akan ada, kecuali rubah yang berarti ‘binatang sejenis anjing’ (Canis vulpes). Kata yang akan kita jumpai di dalam kamus adalah ubah, bukan rubah atau robah. Kata dasar ubah jika ditambah dengan awalan meng- bentukannya menjadi mengubah. Dengan demikian, bentukan kata yang baku adalah mengubah, bukan merubah atau merobah. Atas dasar itu, kata dasar ubah jika diberi imbuhan per-
…-an
, bentukannya menjadi perubahan, bukan perobahan. Kemudian, jika kata dasar ubah itu diberi awalan di-, bentukannya menjadi diubah, bukan dirubah atau dirobah. Sejalan dengan itu, bentukan dari kata dasar ubah, yang baku dan yang tidak baku adalah sebagai berikut.

BakuTidak Baku
mengubahmerubah, merobah
diubahdirubah, dirobah perubahan perobahan


Kata bentukan yang dimaksud dalam hal ini adalah kata yang dibentuk dengan menambahkan imbuhan pada kata dasar. Karena dibentuk dengan menambahkan imbuhan, kata bentukan ini lazim pula disebut sebagai kata berimbuhan.

Pembentukan kata adalah proses membentuk kata dengan menambahkan imbuhan atau unsur lain pada kata dasar. Dalam bahasa Indonesia, pembentukan kata dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai cara. Cara yang dimaksud adalah sebagai berikut.
(1) Pengimbuhan
(2) Penggabungan kata dasar dan kata dasar
(3) Penggabungan unsur terikat dan kata dasar
(4) Pengulangan
(5) Pengakroniman\


Baca artikel berikutnya!

Rabu, 22 Februari 2017

Kapan "di" dan "ke" ditulis terpisah dan kapan digabung?

Sebagai kata depan, "di" dan "ke" ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Sedangkan sebagai awalan, "di" dan "ke" ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Contohnya adalah:

kata depanawalan
di sinidisimpan
di atasdiantar
di pinggirdipinjam
di pantaidipantau
di bawahdibawa

ke depanketua
ke depankekasih
ke ataskedua (tingkat/urutan)
ke rumahketiga (tinmgkat/urutan)
ke belakangkeempat (kumpulan)
ke kampungkelima (kelompok)
Kapan "di" dan "ke" ditulis terpisah dan kapan digabung?


Bagaimana membedakan kapan "di" digunakan sebagai kata depan, dan kapan "di" digunakan sebagai awalan?

Kadang-kadang orang merasa bingung saat membedakan kata depan dan awalan. Misalnya, bentuk di pada di atas termasuk kata depan atau awalan? Sekurang-kurangnya ada dua cara untuk mentukan apakah bentuk di tersebut masuk kata depan atau awalan. Pertama, kata depan di mempunyai pasangan ke dan dari. Kedua, kata depan di tidak dapat dilawankan dengan meng-. Ambillah contoh kata di atas tadi! Selain di atas, ada pula ke atas, dan dari atas. Bentuk di atas juga tidak dapat dilawankan dengan mengatas. Hal itu berarti bahwa di pada di atas termasuk kata depan. Oleh karena itu, kata di atas ditulis terpisah. Di bawah ini diberikan beberapa contoh lain.

di lantaidi negara lain
ke lantaike negara lain
dari lantaidari negara lain
di tengahdi persimpangan jalan
ke tengahke persimpangan jalan
dari tengahdari persimpangan jalan
di ujung jalandi sejumlah daerah
ke ujung jalanke sejumlah daerah
dari ujung jalandari sejumlah daerah

Bagaimana dengan kata keluar? Kata keluar ditulis terpisah atau serangkai? Kata keluar dibedakan menjadi dua macam. Selain ke luar, kita temukan pula di luar dan dari luar. Hal itu berarti bahwa kata ke luar itu merupakan kata depan sehingga harus ditulis terpisah.
Namun, ada juga keluar yang ditulis serangkai. Kata keluar yang kedua ini merupakan lawan masuk. Jadi, kata keluar yang kedua ini merupakan kata kerja, bukan kata depan atau kelompok kata kata-depan. Oleh karena itu, penulisannya diserangkaikan. Perhatikan kalimat di bawah ini secara saksama!

1) Presiden RI akan berkunjung ke luar negeri.
2) Hati-hati keluar masuk kendaraan proyek.


Kata ke luar pada kalimat (1) merupakan kata depan. Kelompok kata ke luar negeri itu dapat disandingkan dengan di luar negeri dan dari luar negeri.

Bandingkan kalimat di bawah ini!

1) Presiden RI akan berkunjung ke luar negeri.
1a) Presiden RI akan berada di luar negeri selama satu minggu.
1b) Presiden RI akan kembali dari luar negeri minggu depan.


Namun, kata keluar pada kalimat (2) bukan merupakan kata depan karena lawannya masuk. Kalimat (2) tidak dapat dibuat variasinya seperti kalimat (1). Perhatikan baik-baik kalimat berikut.\

2) Hati-hati ke luar masuk* kendaraan proyek.
2a) Hati-hati di luar masuk* kendaraan proyek. (tidak bisa)
2b) Hati-hati dari luar masuk* kendaraan proyek. (tidak bisa)

Jika kalimat (2a) dan (2b) dirasa mungkin, artinya sudah berbeda jauh atau bukan merupakan pasangannya. Oleh karena itu, kata keluar seperti pada kalimat (2) ditulis serangkai.

Kata ke samping termasuk kata depan karena kita temukan pula di samping dan dari samping. Namun, kata ke samping dapat berubah menjadi kata kerja setelah diberi imbuhan meng-…-kan. Oleh karena itu, mengesampingkan ditulis serangkai. Begitu pula kata ke tengah dan ke depan. Kedua kata itu juga tegolong kata depan sehingga ditulis terpisah. Akan tetapi, setelah mendapat imbuhan meng-…-kan, kedua kata itu ditulis serangkan karena statusnya berubah menjadi kata kerja, bukan lagi sebagai kata depan. Perhatikan kalimat berikut.

1) Dia membawa sepedanya ke samping rumah.
2) Sekarang mereka pergi ke samping gedung tingkat itu.
3) Kita tidak dapat mengesampingkan dari dari mereka.
4) Banyak orang sering mengesampingkan nasihat orang tuanya.


Baca juga:
... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)
Kata Depan di, ke, dan dari
Di mana, yang mana
Bagaimanakah pemakaian ini, itu dan begini, begitu?


Selasa, 07 Februari 2017

Penulisan Kata Gabungan: Serangkai atau Terpisah

Penulisan Kata Gabungan: serangkai atau dipisah

Perhatikan kalimat berikut!


1) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan bahasa) bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri.
2) Kami beritahukan kepada seluruh pegawai bahwa upacara besok pagi dimulai pukul 07.00.
3) Semua pegawai harus bertanggungjawab terhadap tugas yang diemban.
4) Penandatangan surat resmi sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan.
5) Kita tidak boleh menyama ratakan kemampuan pegawai di kantor kita.
6) Pemerintah tidak boleh menganak tirikan wilayah terpencil dalam pelaksanaan pembangunan.


Penulisan kata bekerjasama seperti pada kalimat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan bahasa) bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri tidak benar. Tulisan seperti itu masih banyak ditemukan dalam berbagai jenis tulisan.

Ada dua hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penulisan kata bekerjasama di atas, yaitu
(1) kaidah penulisan gabungan kata dan
(2) kaidah penulisan gabungan kata berimbuhan.
Di bawah ini penjelasannya satu per satu.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan telah mengatur penulisan gabungan kata. Dalam pedoman itu dinyatakan bahwa unsur terikat atau unsur yang tidak dapat berdiri sendiri ditulis serangkai. Di bawah ini diberikan beberapa contohnya.

BenarSalah
antarkantor antar kantor/antar-kantor
antarpegawai antarpegawai/ antar-pegawai
tunakaryatuna karya
tunawismatuna wisma
subbagiansub bagian
subtemasub tema
nonkolesterolnon kolesterol/ non-kolesterol
nonformalnon formal/ non-formal
mancanegaramanca negara
mancawarnamanca warna
narasumbernara sumber
narapidananara pidana
pascabanjirpasca banjir
pascasarjanapasca sarjana
saptapesonasapta pesona
saptadarmasaptadarma
semipermanensemi permanen
semiresmisemi resmi
multifungsimulti fungsi
multietnikmulti etnik
pramusajipramu saji
pramusiwipramu siwi
dwiwarnadwi warna
dwibahasadwi bahasa

Contoh-contoh di atas merupakan gabungan kata yang terdiri atas unsur terikat dan unsur tidak terikat. Kata-kata yang dicetak miring adalah unsur terikat, sedangkan katakata yang tidak dicetak miring bukan unsur terikat. Di atas juga sudah dinyatakan bahwa unsur terikat ditulis serangkai
dengan kata yang mengikutinya.

Jika masing-masing kata dapat diberi imbuhan maka kedua kata ditulis terpisah.

Bagaimana dengan gabungan kata kerja sama seperti bekerjasama Gabungan kata itu terdiri atas
dua unsur atau dua kata yang tidak terikat. Oleh karena itu, tulisannya dipisah. Contoh lain adalah sebagai berikut.

BenarSalah
tanda tangantandatangan
tanda matatandamata
rumah tanggarumahtangga
rumah sakitrumahsakit
orang tuaorangtua
orang kotaorangkota
mata acaramataacara
mata airmataair
meja tulismejatulis
meja makanmejamakan
kaki tangankakitangan
kaki tangankakitangan
kaki limakakilima

Ada sejumlah gabungan kata yang mungkin dapat menimbulkan keraguan. Apakah gabungan kata itu ditulis terpisah atau harus serangkai? Gabungan kata seperti uji coba, uji petik, uji tera, daya cipta, daya serap, dan daya pikir harus ditulis serangkai atau terpisah?

Untuk menentukan gabungan kata seperti itu ditulis terpisah atau serangkai, dapat ditambahkan imbuhan pada setiap unsur gabungan kata itu. Jika masing-masing dapat diberi imbuhan, gabungan kata itu ditulis terpisah. Untuk kata uji dan coba, masing-masing dapat diberi imbuhan. Dari kata uji dapat dibentuk menjadi diuji, menguji, pengujan, penguji, dan ujian. Dari kata coba dapat dibentuk kata dicoba, mencoba, percobaan, pencoba, dan cobaan.

Contoh lain adalah daya cipta. Dari kata daya dapat dibentuk kata berdaya,memberdayakan, pemberdayaan dan teperdaya. Dari kata cipta dapat dibentuk menjadi diciptakan, menciptakan, penciptaan, tercipta, dan ciptaan.

Oleh karena itu, gabungan kata uji coba dan daya cipta ditulis terpisah.

Dengan cara yang sama, dapat ditentukan bahwa gabungan kata uji petik, uji tera, daya cipta, daya serap, dan daya pikir ditulis terpisah.


Gabungan kata yang sudah dianggap padu.

Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa ada sejumlah gabungan kata yang sudah dianggap padu. Gabungan kata itu harus ditulis serangkai. Berikut ini gabungan kata yang sudah dianggap padu.

acapkaliadakalanya
barangkalibilamana
beasiswabelasungkawa
bumiputradaripada
darmabaktidarmawisata
dukacitahalalbihalal
hulubalangkacamata
manakalamanasuka
matahariolahraga
puspawarnasaptamarga
saputangansegitiga
sukacitasukarela
sukaria


Gabungan Kata Berimbuhan

Gabungan kata yang ditulis terpisah tetap ditulis terpisah jika hanya mendapatkan awalan atau akhiran

Kita kembali pada kata bekerja sama seperti pada kalimat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan bahasa) bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri di atas sekali lagi. Di atas sudah dijelaskan bahwa gabungan kata kerja sama harus ditulis terpisah. Lalu, bagaimana kalau gabungan kata hanya mendapat awalan? Gabungan kata bekerja sama ditulis terpisah atau serangkai?
Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan juga telah diatur pengimbuhan
gabungan. Gabungan kata yang ditulis terpisah tetap terpisah jika hanya mendapat awalan atau akhiran. Di bawah ini diberikan beberapa contohnya.

BenarSalah
berpesta poraberpestapora
bertanda tanganbertandatangan
bekerja baktibekerjabakti
bertepuk tanganbertepuktangan
penanda tanganpenandatangan
penanggung jawabpenanggungjawab
penata busanapenatabusana
kerja samakankerjasamakan
tanda tanganitandatangani
kerja baktikankerjabaktikan
sebar luaskansebarluaskan
kerja baktikankerjabaktikan
bebas tugaskanbebastugaskan
uji cobakanujicobakan

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa gabungan kata berimbuhan bekerja sama harus ditulis terpisah. Dengan demikian, penulisan pada kalimat (1) di atas dapat diperbaiki menjadi seperti berikut.

1a) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri.

Bagaimana dengan penulisan beritahukan pada kalimat Kami beritahukan kepada seluruh pegawai bahwa upacara besok pagi dimulai pukul 07.00 di atas? Gabungan kata beritahukan ditulis terpisah atau disambung?

Sebagaimana penentuan gabungan kata bekerja sama di atas, gabungan kata beritahukan juga dapat ditentukan dengan dua tahap, yaitu
(1) penentuan gabungan kata beri tahu dan
(2) penentuan gabungan kata yang mendapat awalan.

Gabungan kata beri tahu terdiri atas dua unsur: beri dan tahu. Kata beri dapat diberi imbuhan sehingga menjadi diberi, memberi, pemberian, dan berian. Kata tahu juga dapat diberi imbuhan sehingga menjadi diketahui, mengetahui, ketahuan, dan pengetahuan. Oleh karena itu, gabungan kata beri tahu ditulis terpisah. Selanjutnya, kaidah penulisan kata menentukan bahwa gabungan kata yang ditulis terpisah tetap dipisah jika hanya mendapat akhiran. Jadi, gabungan kata beri tahukan ditulis terpisah. Dengan demikian, penulisan gabungan kata beri tahukan pada kalimat (2) dapat diperbaikan menjadi seperti di bawah ini.

2a) Kami beri tahukan kepada seluruh pegawai bahwa upacara besok pagi dimulai pukul 07.00.

Kalimat (3) dan (4) di atas masing-masing berbunyi Semua pegawai harus bertanggungjawab terhadap tugas yang diemban dan Penandatangan surat resmi sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pada kedua kalimat itu terdapat gabungan kata bertanggungjawab dan penandatangan yang ditulis serangkai. Bagaimana menurut Anda? Benar atau salahkah penulisan itu? Penjelasannya sama dengan penjelasan penulisan gabungan kata bekerja sama di atas.

Gabungan kata bertanggung jawab yang bentuk dasarnya tanggung jawab. Baik kata tanggung maupun jawab sama-sama dapat diberi imbuhan. Dari kata tanggung dapat dibentuk kata ditanggung, menanggung, tanggungan, pertanggungan, dan tertanggung. Dari kata jawab dapat dibentuk kata dijawab, menjawab, jawaban, dan terjawab. Dengan demikian, gabungan kata tanggung jawab harus ditulis terpisah.

Gabungan kata penandatangan yang bentuk dasarnya tanda dan tangan. Baik kata tanda maupun tangan tergolong kata bebas atau tidak terikat. Oleh Karena itu, gabungan kata tu harus ditulis terpisah. Selanjutnya, dapat ditentukan bahwa kedua gabungan kata tersebut tetap ditulis terpisah. Jadi yang benar adalah bertanda tangan dan penanda tangan. Dengan demikian, kalimat (3) dan (4) di atas dapat diperbaiki menjadi seperti berikut.

3a) Semua pegawai harus bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban.
4a) Penanda tangan surat resmi sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Gabungan kata yang ditulis terpisah ditulis serangkai jika mendapatkan awalan dan imbuhan.

Persoalan yang terkait dengan penulisan kata berimbuhan adalah penulisan kata berimbuhan menyama ratakan dan menganak tirikan seperti dalam kalimat berikut.

5) Kita tidak boleh menyama ratakan* kemampuan pegawai di kantor kita.
6) Pemerintah tidak boleh menganak tirikan* wilayah terpencil dalam pelaksanaan pembangunan.

Pada kedua kalimat di atas kata menyama ratakan dan menganak tirikan ditulis terpisah. Bagaimana menurut Anda? Betul kalau Anda menjawab salah. Seharusnya, kedua kata itu ditulis serangkai. Kaidahnya menyatakan bahwa gabungan kata yang semua terpisah ditulis serangkai jika gabungan kata itu mendapat awalan dan akhiran sekaligus. Beberapa contoh lainnya adalah sebagai berikut.

sebar luasmenyebarluaskan
serah terimamenyerahterimakan
ambil alihpengambilalihan
kambing hitammengambinghitamkan
nina bobokmeninabobokkan
tidak tahuketidaktahuan
tidak ramahketidakramahan
tidak sempurnaketidaksempurnaan
tidak nyamanketidaknyamanan
salah gunamenyalahgunakan
putus asakeputusasaan

Berdasarkan penjelasan di atas, gabungan kata menyama ratakan dan menganak tirikan yang bentuk dasarnya sama rata dan anak tiri harus ditulis serangkai. Dengan demikian, kalimat (5) dan (6) di atas dapat diperbaiki menjadi seperti berikut.

5a) Kita tidak boleh menyamaratakan kemampuan pegawai di kantor kita.
6a) Pemerintah tidak boleh menganaktirikan wilayah terpencil dalam pelaksanaan pembangunan.



Baca juga:
Kata Ulang dan Gabungan Kata
Penulisan Kata Turunan

 

Senin, 06 Februari 2017

Huruf Kapital dan Kata yang Menyatakan Hubungan Kekerabatan

Di bawah ini dikemukakan beberapa contoh kalimat yang mengandung kesalahan penggunaan huruf kapital.

9) Seorang Ayah mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap ekonomi keluarganya. 
10) Kata Adik,“Besok ayah pulang dari luar kota, Bu.”

Kata yang dicetak miring dalam kalimat tersebut adalah kata yang bermasalah jika dilihat dari segi penggunaan huruf. Berikut penjelasannya satu per satu.

Persoalan yang juga sering muncul yang terkait dengan penggunaan huruf kapital adalah penggunaan huruf kapital untuk kata yang menyatakan hubungan kekerabatan yang dipakai sebagai sapaan dan sebagai pengacuan.
Contoh kesalahannya terlihat pada kalimat (9) dan (10) di atas. Kalimat (9) di atas berbunyi Seorang Ayah mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap ekonomi keluarganya. Kalimat (10) berbunyi Kata Adik,“Besok ayah pulang dari luar kota, Bu.”

Kata ayah memang termasuk kata yang menyatakan hubungan kekerabatan, tetapi tidak semua kata yang menyatakan hubungan kekerabatan ditulis dengan huruf kapital. Kata yang menyatakan hubungan kekerabatan, seperti saudara, adik, kakak, ibu, bapak, nenek, dan kakek, yang ditulis dengan huruf awal kapital adalah yang digunakan sebagai sapaan atau sebagai pengacuan. Kita perhatikan kalimat di bawah ini.

1) Surat Saudara/Bapak sudah saya terima minggu yang lalu.
2) Dalam acara itu rencananya Ibu dimohon memberikan sambutan.
3) Kalau tidak salah, Kakek akan ke Jakarta, ya Dik?
4) Saat memberikan uang itu, Ibu tidak bilang apa-apa, Kak.

5) Dia mempunyai lima orang saudara yang tinggal di kampung.
6) Sudah lama dia berpisah dengan bapak dan ibunya karena belajar di luar negeri.


Kata saudara atau bapak pada kalimat (1) harus ditulis dengan huruf awal kapital karena kedua kata itu termasuk kata yang menyatakan hubungan kekerabatan dan digunakan sebagai sapaan. Begitu pula kata ibu pada kalimat (2). Adapun kata kakek dan ibu pada kalimat (3) dan (4) memang tidak digunakan sebagai sapaan, tetapi digunakan sebagai pengacuan. Istilah pengacuan yang digunakan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kurang dapat disamakan dengan sapaan tidak langsung. Berbeda halnya dengan kata saudara serta bapak dan ibunya pada kalimat (5) dan (6). Dalam kalimat itu kata saudara serta bapak dan ibunya tidak digunakan sebagai sapaan dan tidak pula digunakan sebagai pengacuan. Oleh karena itu, kedua kata tersebut ditulis dengan huruf kecil.

Berdasarkan penjelasan di atas, kalimat contoh kasus (9)—(10) dapat diperbaiki menjadi seperti di bawah ini.

9a) Seorang ayah mempunyi tanggung jawab yang besar terhadap ekonomi keluarganya.
10a) Kata Adik, “Besok Ayah pulang dari luar kota, Bu.”



Huruf Kapital dan Kata yang Menyatakan Hubungan Kekerabatan


Baca juga:
Huruf Kapital atau Huruf Besar
Penggunaan Huruf Kapital untuk Nama Geografi
Huruf Kapital untuk Nama Gelar dan Jabatan
Penulisan judul: huruf kecil dan besar
Pemakaian Huruf Kapital untuk Nama Jenis dan Bedanya dengan Nama Geografi
Pemakaian Huruf Kapital untuk Nama Diri
Huruf Kapital dan Kata yang Menyatakan Hubungan Kekerabatan

Huruf Kapital untuk Nama Gelar dan Jabatan

Gelar dan Jabatan
Huruf Kapital untuk Nama Gelar dan Jabatan

Di bawah ini dikemukakan beberapa contoh kalimat yang mengandung kesalahan penggunaan huruf kapital.

1) Gelar Sarjana Hukum (S.H.) sudah diperoleh dua tahun yang lalu.
2) Dalam rapat nasional itu hadir para Gubernur dan Bupati/Wali Kota seluruh Indonesia.
3) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu yang lalu mengahadiri sidang tahunan PBB itu. Dalam kesempatan itu presiden menekankan pentingnya kedaulatan setiap negara dalam mengatasi persoalan dalam negeri.


Kata atau kelompok kata yang dicetak miring dalam kalimat tersebut adalah kata atau kelompok kata yang bermasalah jika dilihat dari segi penggunaan huruf. Berikut penjelasannya satu per satu.

Penggunaan huruf kapital Sarjana Hukum (S.H.) pada kalimat (1) tidak benar karena gelar akademik tidak didahului nama orang. Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dinyatakan bahwa gelar akademik ditulis dengan huruf awal kapital jika diikuti atau didahului nama orang. Kita perhatikan contoh di bawah ini!

SalahBenar
Sarjana Ekonomi (S.E.)sarjana ekonomi (S.E.)
Sarjana Pendidikan (S.Pd.)sarjana pendidikan (S.Pd.)
Insinyur (Ir.)insinyur (Ir.)
Doktor (Dr.)doktor (Dr.)
Ahmad, sarjana ekonomiAhmad, Sarjana Ekonomi
Yoga, sarjana pendidikanYoga, Sarjana Pendidikan
insinyur Stevanus WanggaInsinyur Stevanus Wangga
doktor KusumastutiDoktor Kusumastuti


Penulisan nama jabatan gubernur, bupati, dan wali kota yang diawali dengan huruf kapital seperti dalam kalimat Dalam rapat nasional itu hadir para Gubernur dan Bupati/Wali Kota seluruh Indonesia tidak benar.

Alasannya ada dua, yaitu
(1) nama jabatan itu tidak diikuti nama orang, instansi, atau tempat dan
(2) nama jabatan itu bukan pengganti nama orang tertentu. hal itu sesuai dengan aturan yang ada dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Kita perhatikan contoh di bawah ini!

SalahBenar
Camatcamat
Lurahlurah
Bupatibupati
Wali Kotawali kota
Direkturdirektur
Sekretaris Jenderalsekretaris jenderal
Menterimenteri
Presidenpresiden
Rektorrektor
camat PulogadungCamat Pulogadung
lurah Lubang BuayaLurah Lubang Buaya
bupati SolokBupati Solok
wali kota SurakartaWali Kota Surakarta
direkur STANDirekur STAN
menteri keuangan RI Menteri Keuangan RI
presiden SoekarnoPresiden Soekarno
rektor UGMRektor UGM


Nama jabatan yang tidak diikuti nama orang, instansi, atau tempat ditulis dengan huruf awal kapital jika nama jabatan itu dapat dipastikan sebagai pengganti nama orang tertentu. Kata presiden yang ditulis dengan huruf tebal pada kalimat berikut ditulis dengan huruf awal kapital.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu yang lalu mengahadiri sidang tahunan PBB. Dalam kesempatan itu Presiden menekankan pentingnya kedaulatan setiap negara dalam mengatasi persoalan dalam negeri. 

Dalam kalimat itu dapat dipastikan bahwa kata presiden yang dicetak tebal tersebut adalah Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono. Oleh karena itu, kata presiden tersebut ditulis dengan huruf awal kapital.



Baca juga kaidah penggunaan huruf kapital dalam artikel yang lain:
Huruf Kapital atau Huruf Besar
Penggunaan Huruf Kapital untuk Nama Geografi
Huruf Kapital untuk Nama Gelar dan Jabatan
Penulisan judul: huruf kecil dan besar
Pemakaian Huruf Kapital untuk Nama Jenis dan Bedanya dengan Nama Geografi
Pemakaian Huruf Kapital untuk Nama Diri
Huruf Kapital dan Kata yang Menyatakan Hubungan Kekerabatan