Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Kamis, 07 April 2016

Tanda Titik Koma (;)

pemakaian tanda titik koma ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Misalnya:
Malam semakin larut; pekerjaan belum juga selesai.


2. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk.

Misalnya:
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghafal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran “Pilihan Pendengar”.
Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca cerita pendek.  

2. Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.

Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.


3. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.


Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.
Agenda rapat ini meliputi
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; dan
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.


Sumber: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia,Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016
 
Tambahan catatan Sriyanto dalam Ejaan Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 2014 halaman 92—93:

Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan kaidah pemakaian tanda titik koma, yaitu (1) untuk menggantikan kata penghubung yang memisahkan kalimat satu dengan kalimat lain dalam kalimat majemuk setara dan (2) untuk memisahkan bagain-bagian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma. Perhatikan contoh di bawah ini!

1) Sore itu cuaca di pinggir Pantai Losari sangat cerah; sejumlah keluarga tampak sedang bersantai; para pedagang kaki lima baru saja menggelar dagangannya.
2) Untuk kegiatan perkemahan itu semua peserta harus membawa peralatan mandi seperti sabun, sikat gigi, dan odol; peralatan makan dan masak-memasak seperti kompor, panci, piring, dan cangkir; dan peralatan pemasangan tenda seperti tenda, tali-temali, paku pancang, pisau, atau gunting.


Pada kalimat (1) tanda titik koma digunakan untuk memisahkan kalimat satu dengan kalimat yang lain dalam kalimat mejemuk setara. Kalimat (1) terdiri atas tiga kalimat tunggal. Antarkalimat itu dipisahkan dengan tanda titik koma yang sebenarnya tanda titik koma itu dapat digantikan dengan kata penghubung seperti kalimat berikut.


1a) Sore itu cuaca di pinggir Pantai Losari sangat cerah dan sejumlah keluarga tampak sedang bersantai serta para pedagang kaki lima baru saja menggelar dagangannya.


Kalimat (1) merupakan kalimat majemuk setara, sedangkan kalimat (2) merupakan kalimat tunggal. Tanda titik koma pada kalimat (1) digunakan antarkalimat tunggal yang menjadi bagian dari kalimat majemuk setara tersebut. Namun, tanda titik koma pada kalimat (2) tidak digunakan antarkalimat tunggal, tetapi untuk memisahkan antarperincian yang dalam setiap perinciannya sudah menggunakan tanda koma. Sebenarnya untuk memisahkan bagian-bagian dalam perincian digunakan tanda koma. Jika itu yang diikuti, tidak jelas perbedaan antarperincian dan antarbagian dalam perincian. Bandingkan kalimat (2) dengan (2a) berikut!


2a) Untuk kegiatan perkemahan itu semua peserta harus membawa peralatan mandi seperti sabun, sikat gigi, dan odol, peralatan makan dan masak-memasak seperti kompor, panci, piring, dan cangkir, dan peralatan pemasangan tenda seperti tenda, tali-temali, paku pancang, pisau, atau gunting.


Ada satu hal lagi sehubungan dengan penggunaan tanda koma di atas, yaitu penggunaan tanda titik koma untuk akhir perincian yang biasanya ditulis menurun. Ketentuan itu hanya berlaku dalam rumusan peraturan perundang-undangan. Dalam hubungan itu, penggunaan tanda titik koma tidak mempertimbangkan apakah perincian tersebut berupa kalimat-kalimat tunggal atau bukan. Penggunaan tanda titik koma dalam undang-undang itu juga tidak mempertimbangkan apakah dalam setiap perincian itu sudah digunakan tanda koma atau belum. Ketentuan itu merupakan ketentuan khusus yang hanya berlaku dalam ragam bahasa peraturan perundangan-undangan seperti yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Berikut adalah contohnya.


(1) Administrasi Umum Pemerintahan yang Baik dalam undang-undang ini meliputi asas:
a. kepastian hukum;
b. kemanfaatan;
c. ketidakberpihakan;
d. kecermatan;
e. tidak menyalahgunakan kewenangan;
f. keterbukaan;
g. kepentingan umum; dan
h. pelayanan yang baik.


(2) Penggunaan Diskresi dikategorikan sebagai tindakan yang melampaui Wewenang apabila:
a. bertindak melampaui batas waktu berlakunya Wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan;
b. bertindak melampaui batas wilayah berlakunya Wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan; dan/atau
c. menggunakan prosedur yang tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 26 sampai dengan Pasal 28. 


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Senin, 28 Maret 2016

Pemakaian Tanda Koma (,)

pemakaian tanda koma ejaan bahasa Indonesia


1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

Misalnya:
Saya membeli kertas, pena, dan tinta. [Catatan: dengan koma sebelum "dan"]
Surat biasa, surat kilat, maupun surat khusus memerlukan prangko.

Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing lagi.
Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
Satu, dua, ... tiga!

Contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan. [Catatan: tanpa koma sebelum "dan"]

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan atau sedangkan

Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).

Misalnya:
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama. 

Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.

2a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. 

Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Misalnya:
Kalau hari hujan, saya tidak datang.
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

Kalau diundang, saya akan datang.
Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.

2b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak kalimat.
Misalnya:
Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
Dia tahu bahwa soal itu penting.

Saya akan datang kalau diundang.
Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.
Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.


3. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.

Misalnya:
…. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
…. Jadi, soalnya tidak semudah itu.

Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya berhasil menjadi sarjana. 

Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.
Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi bintang pelajar

4. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, hai, kasihan dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.

Misalnya:
O, begitu?
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, jalannya licin!

Nak, kapan selesai kuliahmu?
Siapa namamu, Dik?
Dia baik sekali, Bu.


5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Misalnya:
Kata ibu, “Saya gembira sekali.”
“Saya gembira sekali,” kata ibu, “karena kamu lulus.”

Kata nenek saya, "Kita harus berbagi dalam hidup ini."
"Kita harus berbagi dalam hidup ini," kata nenek saya, "karena manusia adalah makhluk sosial."


Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.


Misalnya:
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Pak Lurah.
“Masuk ke dalam kelas sekarang!” perintahnya.
“Wow, indahnya pantai ini!” seru wisatawan itu.
 

6. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Matraman, Jakarta 13130
Kuala Lumpur, Malaysia.

Medan, 18 Juni 1984
Medan, Indonesia.
Tokyo, Jepang


7. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: Pustaka Rakjat.
Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.
Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.
Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.
Tulalessy, D. dkk. 2005. Pengembangan Potensi Wisata Bahari di Wilayah Indonesia Timur. Ambon: Mutiara Beta.


8. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

Misalnya:
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm. 22.
Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.


9. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
Bambang Irawan, M.Hum.
Siti Aminah, S.H., M.H.


Catatan:
Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A. (Siti Khadijah Mas Agung).


10. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:
12,5 m
27,3 kg
Rp12,50


11. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi (keterangan aposisi). 

Misalnya:
Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.
Semua siswa, baik yang laki-laki maupun perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Soekarno, Presiden I RI, merupakan salah seorang pendiri Gerakan Nonblok.
Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib menindaklanjuti laporan dalam waktu paling lama tujuh hari.


Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:
Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
Siswa yang lulus dengan nilai tinggi akan diterima di perguruan tinggi itu tanpa melalui tes.


12.Tanda koma dapat dipakai―untuk menghindari salah baca―di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:
Dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang sungguh-sungguh.
Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.


Bandingkan dengan:
Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam upaya pembinaan dan pengembanagan bahasa.
Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.
Dalam pengembangan bahasa kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih.



Dalam praktik berbahasa sering ditemukan kesalahan pemakaian tanda koma. Kesalahan yang cukup mencolok adalah pemakaian tanda koma untuk memisahkan induk kalimat dan anak kalimat dalam kalimat majemuk yang anak kalimatnya mengiringi induk kalimat.

Perhatikan contoh berikut.
1) Masyarakat yang datang ke tempat pembagian sembako itu terlalu banyak,* sehingga panitian
kewalahan.
2) Era teknologi seperti sekarang ini akses informasi sangat bebas,* sehingga diperlukan bimbingan
orang tua bagi anak-anaknya.


Salah satu kaidah tanda koma menyatakan bahwa tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan induk kalimat dengan anak kalimat jika induk kalimat mendahului anak kalimat atau anak kalimat mengiringi induk kalimat. Kalimat (1) di atas merupakan kalimat majemuk bertingkat. Begitu pula kalaimat (2). Kalimat (1) terdiri atas 1 induk kalimat dan 1 anak kalimat. Bagian yang pertama, yaitu masyarakat yang datang ke tempat pembagian sembako itu terlalu banyak, merupakan induk kalimat, sedangkan bagian kedua, yaitu sehingga panitia kewalahan, merupakan anak kalimat. Kalimat (2) juga terdiri atas 1 induk kalimat dan 1 anak kalimat. Bagian yang pertama, yaitu era teknologi seperti sekarang ini akses informasi sangat bebas, merupakan induk kalimat, sedangkan bagian kedua, yaitu sehingga diperlukan bimbingan orang tua bagi anak-anknya, merupakan anak kalimat. Hal itu berarti bahwa pada kalimat (1) dan (2) induk kalimat mendahului anak kalimat atau anak kalimat mengiringi induk kalimat. Oleh karena itu, di antara induk dan anak kalimat (1) dan (2) tidak digunakan tanda koma seperti perbaikannya berikut.

1a) Masyarakat yang datang ke tempat pembagian sembako itu terlalu banyak sehingga panitian
kewalahan.
2a) Era teknologi seperti sekarang ini akses informasi sangat bebas sehingga diperlukan bimbingan
orang tua bagi anak-anaknya.


Banyak orang yang menggunakan tanda koma yang tampaknya atas dasar atau pertimbangan jeda dalam pembacaannya. Padahal, aturan yang benar tidak seperti itu. Jika penggunaan tanda koma atas pertimbangan jeda, contoh kalimat berikut sama-sama menggunakan tanda koma.

3) Mereka ditegur pimpinan,* karena laporan kegiatannya terlambat.
4) Karena laporan kegiatannya terlambat, mereka ditegur pimpinan.

Jika hanya dirasa-rasa, penggunaan tanda koma seperti pada kalimat (3) dan (4) sama-sama benar. Seharusnya, penggunaan tanda koma dalam kedua kalimat tersebut harus dilihat anak dan induk kalimatnya. Kaidahnya mengatur bahwa anak kalimat yang mendahului induk kalimat dipisahkan dengan tanda koma. Jika kita cermati, kalimat (3) terdiri atas induk kalimat dan anak kalimat. Bagian kalimat mereka ditegur pimpinan merupakan induk kalimat, sedangkan bagian kalaimat karena laporan kegiatannya terlambat merupakan anak kalimat. Oleh karena itu, tidak koma digunakan. Sebaliknya, kalimat (4) sudah benar. Kalimat (4) anak kalimat mendahului induk kalimat. Oleh karena itu, setelah anak kalimat digunakan tanda koma.

Barangkali pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menentukan anak kalimat dan induk kalimat. Yang harus diingat lebih dahulu adalah bahwa anak kalimat hanya ada dalam kalimat majemuk bertingkat. Lalu, kalimat majemuk bertingkat sekurang-kurang terdiri atas 2 subjek dan 2 predikat. Namun, jika subjeknya sama, yang muncul hanya satu subjek.Adapun anak kalimat dapat dikenali lewat (1) kata penghubung yang mengawalinya, (2) ketidakmandiriannya sebagai sebuah kalimat, dan (3) keberadaan unsur predikat sekurang-kurangnya. Perhatikan baik-baik contoh berikut!

a) Karena tidak punya uang yang cukup, dia mengurungkan niatnya untuk membeli mobil.
b) Mereka terlambat sehingga tidak dapat mengikuti acara yang pertama.


Bagian kalimat yang dicetak miring pada kalimat (a) dan (b) di atas merupakan anak kalimat, sedangkan bagian yang lainnya merupakan induk kalimat. Anak kalimat pada kalimat (a) diawali kata penghubung karena, sedang kan anak kalimat (b) diawali kata penghubung sehingga. Setiap anak kalimat itu tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat lengkap. Jadi, bagian kalimat karena tidak punya uang yang cukup bukan merupakan kalimat lengkap. Begitu juga bagian kalimat sehingga tidak dapat mengikuti acara yang pertama. Di samping itu, dalam setiap anak kalimat di atas terdapat predikat. Predikat pada anak kalimat yang pertama adalah tidak punya, sedangkan predikat pada anak kalimat yang kedua adalah tidak dapat mengikuti. Dengan demikian, kedua bagian kalimat itu termasuk anak kalimat. Anak kalimat pada kalimat (a) ikuti tanda koma karena anak kalimat mendahului induk kalimat. Sebaliknya, anak kalimat pada kalimat (b) tidak diikuti koma karena anak kalimat mengiringi induk kalimat.

Di atas sudah dibahas kaidah pemakaian tanda koma untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat. Itu baru salah satu kaidah tanda koma. Namun, penerapan kaidah itu memang sangat sering salah. Masih ada sejumlah kaidah tanda koma yang juga masih sering salah dalam penerapannya seperti dalam kalimat berikut.

5) Mereka membeli kertas, buku, dan laptop.
6) Dia tidak ingin memiliki lukisan itu, tetapi hanya ingin melihatnya.
7) Oleh karena itu, persoalan itu kita anggap selesai.
8) Kantornya beralamat di Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur.
9) Sekarang nama lengkapnya adalah Dr. Siti Nur Azizah, S.H.
10) Semua karyawan, baik laki-laki maupun perempuan, besok pagi harus ikut kerja bakti di halaman kantor.

Seperti pada kalimat (5) tanda koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian dalam perincian. Namun, dalam praktiknya banyak orang yang tidak menggunakan tanda koma sebelum perincian terakhir. Tentu saja hal itu tidak sesuai dengan kaidah. Pada kalimat (6) terlihat bahwa tanda koma digunakan sebelum kata seperti tetapi, sedangkan, dan melainkan dalam sebuah kalimat. Akan tetapi, banyak juga ditemukan kalimat yang tidak menggunakan tanda koma seperti pada kalimat (6). Tanda koma juga digunakan setelah kata penghubung antarkalimat seperti pada kalimat (7). Dalam sebuah kalimat kata penghubung seperti jadi, oleh karena itu, dengan demikian, atau meskipun begitu harus diikuti tanda koma. Contoh kalimat (8) memperlihatkan penggunaan tanda koma untuk memisahkan bagian-bagian alamat yang ditulis menyamping. Sayangnya, masih banyak tulisan yang mencantumkan bagian-bagian alamat yang tidak dipisahkan dengan tanda koma. Selanjutnya, tanda koma digunakan untuk memisahkan antara nama dan singkatan gelar akademik seperti pada kalimat (9). Pada Kenyataannya cara penulisan seperti itu masih banyak salah. Kaidah tanda koma selanjutnya adalah tanda koma yang digunakan untuk mengapit keterangan tambahan seperti pada kalimat (10). Cara penulisan seperti itu juga sering salah.



Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')
Huruf Kapital atau Huruf Besar

Di mana, yang mana
... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)  

Selasa, 23 Februari 2016

Pemakaian Tanda Titik (.)

pemakaian tanda titik ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.

Misalnya:
Ayahku tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang akan datang.
Hari ini tanggal 6 April 1973.


2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Misalnya:
III. Departemen Dalam Negeri
       A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
       B. Direktorat Jenderal Agraria
            1. …


Catatan:
(1) Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.

Misalnya:
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai
1) bahasa nasional yang berfungsi, antara lain,
a) lambang kebanggaan nasional,
b) identitas nasional, dan
c) alat pemersatu bangsa;
2) bahasa negara ….


(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir penomoran digital yang lebih dari satu angka

Misalnya
1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik

(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.

Misalnya:
Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia
Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia
Bagan 2 Struktur Organisasi
Bagan 2.1 Bagian Umum
Grafik 4 Sikap Masyarakat Perkotaan terhadap Bahasa Indonesia
Grafik 4.1 Sikap Masyarakat Berdasarkan Usia
Gambar 1 Gedung Cakrawala
Gambar 1.1 Ruang Rapat


3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Misalnya:
Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

Misalnya:
1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)

5. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.

Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.
Moeliono, Anton M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.

6a. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.
Anggaran lembaga itu mencapai Rp225.000.000.000,00.

6b. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.


Misalnya:
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 seterusnya.
Nomor gironya 5645678.
Nomor rekening panitia seminar adalah
0015645678.


7. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya:
Acara Kunjungan Adam Malik
Bentuk dan Kedaulatan (Bab 1 UUD ’45)
Salah Asuhan

8. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat surat.

Misalnya:
Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik)
Jakarta (tanpa titik)
1 April 1985 (tanpa titik)
Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)
Jalan Arif 43 (tanpa titik)
Palembang (tanpa titik)

Atau:
Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)
Jalan Cikini 71 (tanpa titik)
Jakarta (tanpa titik)
21 April 2013
Jakarta, 15 Mei 2013


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

Huruf Kapital atau Huruf Besar

Di mana, yang mana
... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi) 

Minggu, 14 Februari 2016

Angka dan Lambang




1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor.
Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1000), V (5.000), M (1.000.000)

Pemakaiannya diatur leih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.

2. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.

Misalnya:
0,5 sentimeter1 jam 20 menit
5 kilogrampukul 15.00
4 meter persegitahun 1928
10 liter17 Agustus 1945
Rp5.000,0050 dolar Amerika
US$3.50*10 paun Inggris
$5.10*100 yen
Y10010 persen
2.000 rupiah27 orang


* Tanda titik di sini merupakan tanda decimal.

3. Angka lazim dipakai untuk melambangka nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.

Misalnya:
Jalan Tanah Abang I No. 15
Hotel Indonesia, Kamar 169

4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.

Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surah Yasin: 9

5. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.

a. Bilangan utuh

Misalnya:
Dua belas12
Dua puluh dua22
Dua ratus dua puluh dua222

b. Bilangan pecahan

Misalnya:
Setengah½
Tiga perempat¾
Seperenam belas1/16
Tiga dua pertiga3 2/3
Seperseratus1/100
Satu persen1 %
Satu permil1‰
Satu dua persepuluh1,2


6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.

Misalnya:
Paku Buwono X
pada awal abad XX
dalam kehidupan abad ke-20 ini
lihat Bab II
Pasal 5
dalam bab ke-2 buku itu
di daerah tingkat II itu
di tingkat kedua gedung itu
di tingkat ke-2 itu
kantor di tingkat II itu

7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti cara yang berikut.

Misalnya:
tahun ’50-anatautahun lima puluhan
uang 5000-anatauuang lima ribuan
lima uang 1.000-anataulima uang seribuan


8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.

Misalnya:
Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5
orang memberikan suara blangko.
Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100
helicak, 100 bemo.


9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.

Bukan:
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.

10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh secara besar dapat dieja

Misalnya:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 200 juta orang.

11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks, kecuali di dalam
dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.

Misalnya:
Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.

Bukan:
Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pgawai.
Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.

12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.

Misalnya:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan
puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).

Bukan:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh
sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.


Baca pula:
Singkatan dan Akronim
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Penulisan Kata Turunan
Pemakaian Huruf Miring

Jumat, 12 Februari 2016

Singkatan dan Akronim

1. Singkatan
Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:
A.S Kramawijaya
Muh. Yamin
Suman Hs.
Sukanto S.A.
M.B.A master of business administration
M.Sc. master of science
S.E. sarjana ekonomi
S.Kar. sarjana karawitan
S.K.M sarjana kesehatan masyarakat
Bpk. Bapak
Sdr. saudara
Kol. kolonel

b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumentasi resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara
SMTP sekolah menengah tingkat pertama
PT perseroan terbatas
KTP kartu tanda penduduk

c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

Misalnya:
dll. dan lain-lain
dsb. dan sebagainya
dst. dan seterusnya
hlm. halaman
sda. sama dengan atas
Yth. (Sdr. Moh. Hasan) Yang terhormat (Sdr. Moh. Hasan)

Tetapi:
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian

d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Misalnya:
Cu cuprum
TNT trinitrotulen
cm sentimeter
kVA kilovolt-ampere
l liter
kg kilogram
Rp5.000,00 (lima ribu) rupiah

2. Akronim
Akronim kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis selurhnya dengan huruf capital.

Misalnya:
ABRI: Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN: Lembaga Administrasi Negara
PASI: Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
IKIP: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
SIM: surat izin mengemudi

b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kaptal.

Misalnya:
Akabri: Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Bappenas: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Iwapi: Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia
Kowani: Kongres Wanita Indonesia
Sespa: Sekolah Staf Pimpinan Administrasi

c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya:
pemilu: pemilihan umum
radar: radio detecting and ranging
rapim: rapat pimpinan
rudal: peluru kendali
tilang: bukti pelanggaran

catatan:
jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut.
(1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia.
(2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

Baca juga:
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Penulisan Kata Turunan
Pemakaian Huruf Miring

Kamis, 11 Februari 2016

Partikel -lah, -kah, -tah, pun, per

penulisan partikel lah dan kata seru lah
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik.
Apakah yang tersirat dalam dalam surat itu?
Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia.
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?


Catatan:
"Lah" sebagai kata seru untuk penekanan ditulis terpisah.

Misalnya:
Lah, itu dia!
Bukan saya, lah!


2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.

(1) Mereka pun turut mendukung pembangunan pasar tradisinal itu.
(2) Parkir kendaraan pun sulit karena banyaknya mobil yang dibawa para tamu.


Catatan:
Partikel pun yang ditulis serangkai adalah partikel pun yang merupakan kata penghubung. Jadi, kata-kata seperti meskipun, walaupun, sunggguhpun, biarpun, kendatipun, dan bagaimanapun ditulis serangkai. Contoh pemakaiannya adalah sebagai berikut.

(3) Walaupun hari masih pagi, para pegawai kantor itu sudah banyak yang datang.
(4) Kendaraan di jalan bebas hambatan itu selalu macet walaupun hari sudah malam.


Bagaimana dengan kata sekalipun? Apakah kata itu tetap ditulis serangkai atau terpisah? Kata sekalipun dibedakan menjadi dua. Ada yang ditulis serangkai dan ada pula yang ditulis terpisah. Kata sekalipun yang ditulis serangkai adalah kata penghubung, sedangkan yang ditulis terpisah bukan merupakan kata penghubung. Bagaimana cara membedakannya? Perhatikan kalimat di bawah ini!

(5) Sekalipun dengan susah payah, mereka berhasil mendaki gunung itu.
(6) Jangankan dua kali sekali pun dia belum pernah datang ke rumahku.


Kata sekalipun pada kalimat (5) merupakan kata penghubung, sedangkan pada kalimat (6) bukan kata penghubung. Kata sekalipun yang merupakan kata penghubung dapat diganti dengan kata penghubung yang lain, sedangkan kata sekali pun yang bukan merupakan kata penghubung tidak dapat diganti dengan kata penghubung yang lain. Perhatikan kalimat di bawah ini!

(7) Sekalipun permintaan beras terus meningkat saat menjelang Lebaran, sediaannya masih tetap aman.
(7a) Meskipun permintaan beras terus meningkat saat menjelang Lebaran, sediaannya masih tetap aman.
(7b) Walaupun permintaan beras terus meningkat saat menjelang Lebaran, sediaannya masih tetap aman.


Kata sekalipun pada kalimat (7) dapat diganti dengan meskipun atau walaupun. Hal itu berarti bahwa kata sekalipun seperti pada kalimat (7) adalah kata penghubung. Oleh karena itu, penulisannya diserangkaikan.

Namun, kata sekali pun pada kalimat di bawah ini tidak dapat diganti dengan kata meskipun atau walaupun.

(8) Jangankan dua kali, sekali pun dia belum pernah berkunjung ke rumahku.
(8a) Jangankan daua kali, meskipun dia belum pernah berkunjung ke rumahku.
(tidak bisa)
(8b) Jangankan daua kali, walaupun dia belum pernah berkunjung ke rumahku. (tidak bisa)


Partikel "per"

Kesalahan penulisan partikel per sering muncul karena tidak semua per ditulis terpisah. Per yang ditulis terpisah adalah per yang mempunyai arti (1) tiap-tiap atau setiap, (2) demi, dan (3) mulai.

Berikut contoh pemakaiannya dalam kalimat.
 
(1) Harga kain itu Rp200.000,00 per meter.
(2) Mahasiswa diminta keluar ruang kuliah satu per satu secara tertib.
(3) Surat keputusan itu berlaku per Januari 2015.
 

Selain per yang mengandung arti di atas, ada juga per yang mempunyai arti (1) dibagi dan (2) dengan (menggunakan). Per yang mengandung dua arti itu ditulis serangkai.

Berikut contoh pemakaiannya dalam kalimat.

(4) Dua pertiga penduduk kampung itu masih tergolong miskin.
(5) Dia menghubungi saudaranya yang di kota pertelepon.

Ada pula per- yang bukan partikel, melainkan awalan. Karena merupakan awalan, per- ini ditulis serangkai. Contohnya adalah sebagai berikut.

(6) Perlebar gelaran tikarnya agar dapat memuat banyak tamu!
(7) Sudah sepantasnya kalau kita pertuan kepada orang asing itu.


Imbuhan per- pada kalimat (6) berarti membuat jadi lebih lebar dan pada kalimat (7) berarti memanggil.



Baca juga:
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Penulisan Kata Turunan
Pemakaian Huruf Miring
Huruf Kapital atau Huruf Besar

Kata Depan di, ke, dan dari


Kata Depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam
gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.

Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam sajalah di sini.
Di mana Siti sekarang?
Mereka ada di rumah.
Ia ikut terjun di tengah kancah perjuangan.
Ke mana saja ia selama ini?
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
Mari kita berangkat ke pasar.
Saya pergi ke sana-sini mencarinya.
Ia datang dari Surabaya kemarin.

Catatan:
Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini dtulis serangkai.

Si Amin lebih tua daripada si Ahmad.
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.
Bawa kemari gambar itu.
Kemarikan buku itu.
Semua orang terkemuka di desa hadir dalam kenduri itu.

Baca juga:
Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Penulisan Kata Turunan
Pemakaian Huruf Miring
Huruf Kapital atau Huruf Besar
Pemakaian Tanda Koma (,)