Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Minggu, 17 Juli 2016

Pemakaian Kata Sebentar, Sejenak, Sekejap, Sekilas, Sepintas, dan Sejurus




Pemakaian Kata Sebentar, Sejenak, Sekejap, Sekilas, Sepintas, dan Sejurus
Keenam kata ini, sebentar, sejenak, sekejap, sekilas, sepintas, dan sejurus, memiliki makna yang hampir sama, yaitu menggambarkan waktu yang amat singkat atau amat pendek. Akan tetapi, jika diamati lebih teliti, terlihat bahwa kata-kata itu berbeda pemakaiannya.
Perhatikanlah contoh-contoh berikut.


(1) Coba perhatikan     sebentar   lukisan itu.
sejenak
sepintas
sekilas
*sekejap
*sejurus

(2) Ia memandangku     sebentar
sejenak
sepintas
sekilas
sekejap
sejurus

(3) Bacalah     sebentar   halaman tujuh belas ini!
sejenak
sepintas
sekilas
*sekejap
*sejurus

(4) Budi    [ berhenti ]   
   [ berpikir ]
   [ tertegun ]
sebentar
sejenak
*sepintas
*sekilas
*sekejap
sejurus

(5)
(a)  Sebentar,  ya!
*Sejenak,
*Sepintas,
*Sekilas,
*Sekejap,
Sejurus,

(b)  Sebentar  saja.
Sejenak
Sepintas
Sekilas
Sekejap
Sejurus

(c) Coba saja ke sini     sebentar!
*sejenak!
*sepintas!
*sekilas!
*sekejap!
*sejurus!

Contoh-contoh di atas memperlihatkan bahwa keenam kata itu tidak selalu dapat dipakai pada setiap bentukan kalimat. Tanda asteris (*) menunjukkan pemakaian kata yang tidak berterima. Mengapa demikian? Bagaimana cara membedakan pemakaian kata-kata itu?

Sekurang-kurangnya ada empat cara yang dapat digunakan untuk melihat perbedaan pemakaian keenam kata itu, yaitu:
  1. dengan mengamati jenis verba (kata kerja) yang didampingkan dengan setiap kata di antara keenam kata itu, misalnya verba yang menyatakan tindakan yang dilakukan mata (melihat, memandang, dan menyaksikan) atau verba yang berkaitan dengan aktivitas tubuh (berhenti, tertegun, dan diam);
  2. dengan mengamati jenis-jenis bangun kalimat yang menggunakan setiap kata di antara keenam kata itu, misalnya bangun kalimat deklaratif (kalimat berita) atau bangun kalimat imperatif (kalimat perintah);
  3. dengan mengamati makna semantis kata-kata itu;
  4. dengan mengamati ragam bahasa yang menggunakan kata itu, misalnya ragam tulis atau ragam lisan, ragam resmi atau ragam tak resmi.

Sebentar dan Sejenak 
Dari contoh-contoh yang disajikan di atas, ternyata kata sebentar dan sejenak hadir dalam contoh 1-4. Akan tetapi, di antara kedua kata itu, kata sebentar memiliki peluang paling besar dalam pemakaiannya, apalagi dalam ragam lisan atau ragam tak resmi, lihat contoh (5). Kata sebentar kecil kemungkinannya dapat diganti dengan kata sejenak.

Sejenak
Kata sejenak lebih luas kemungkinan perangkaiannya daripada kata sekejap, sekilas, dan sepintas. Kata sejenak menggambarkan ketenangan, ketaktergesaan atau ketaktegangan. Oleh karena itu, kata sejenak dapat dirangkaikan dengan verba seperti bergembiralah, nikmatilah, duduklah, bacalah, lihat contoh (6) atau verba seperti renungkan, pandanglah, amatilah, dengarkan, pikirkan, lihat contoh (7) yang menggambarkan suasana tenang, tanpa ketegangan.

(6)     a) Bergembiralah sejenak bersama kelompok lawak itu!
b) Nikmatilah sejenak sajian musik itu!
c) Duduklah sejenak sambil menikmati hidangan sekadarnya!
d) Bacalah sejenak cerpen ini!

(7)    Coba    renungkan  sejenak/sebentar!
pandanglah
amatilah
dengarkan
pikirkan

Akan tetapi, terasa janggal jika kata sejenak dirangkaikan dengan verba yang membayangkan kata ketergesaan atau "usaha yang keras", seperti terlihat pada contoh (8) berikut:


(8)    Tuliskan   sebentar!
  *sejenak!
Selesaikan
Bersihkan
Bantulah
Ajarilah
Bekerjalah

Sekejap dan Sekilas
Kedua kata ini, sekejap dan sekilas, cenderung hanya dapat disambungkan dengan verba yang berkaitan dengan indera penglihatan, seperti memandang, melihat, dan tampak, misalnya:


(9)     a) Orang itu memandang sekejap/sekilas.
b) Orang tua itu menghilang dalam sekejap mata.
c) Sekilas tampak bayangan wajahnya.

Sepintas
Kate sepintas tampaknya dapat didampingkan dengan verba yang berkaitan dengan indera penglihatan (memandang), verba kesadaran (merenung),dan verba komunikasi (berbicara), serta verba yang berkaitan dengan indera pendengaran, misalnya:

(10)     a) "Mungkin saja hal itu terjadi," pikirnya sepintas lalu.
b) la terlibat dalam percakapan sepintas.
c) Sepintas (lalu) saya pernah melihat tontonan sulap itu.
d) Saya mendengar siaran berita sepintas (lalu).

Dalam bangun kalimat imperatif, kata sepintas tampak janggal digunakan jika didampingkan dengan verba kesadaran dan verba yang berkaitan dengan indera pendengaran. Perhatikan contoh berikut.

(11)     a) *Dengarkanlah nyanyian itu sepintas!
b) *Pikirkanlah masalah itu sepintas!


Kejanggalan itu timbul karena, secara semantik, kata sepintas itu bermakna 'sepenggal' atau 'sepotong'. Oleh karena itu, kata sepintas sangat mungkin didampingkan dengan verba yang menyangkut indera penglihatan (bacalah, amatilah) dalam bangun kalimat imperatif misalnya:

(12)     a) Bacalah halaman 17 itu sepintas!
b) Amatilah lukisan itu sepintas!

Sejurus 
Pemakaian kata sejurus terbatas perangkaiannya dengan jenis verba tertentu yang tidak menggunakan gerakan badan, tetapi pemunculannya hanya mungkin pada bangun kalimat deklaratif, seperti terungkap pada contoh berikut.


(13)      a) Dipandangnya aku sejurus.
b) "...", katanya setelah berpikir sejurus.
c) Dia diam sejurus.
d) Makannya terhenti sejurus.
e) Kuukur ketulusan ucapan gadis itu sejurus.
f) *la berlari sejurus.
g) *la makan sejurus.


Jika ditinjau lebih jauh lagi, kata sejurus berjangka waktu yang pendek. Bandingkanlah ukuran waktu yang tentu pada contoh (14) dan ukuran waktu yang tak tentu pada contoh (15) berikut ini.

(14)    tiga jamkemudian
dua menit    lagi
satu detik lamanya

(9)     a) sebentar/sejurus kemudian
b) sebentar/sejurus lagi
c) sejurus lamanya.



Baca juga:
Makna Kata Hijrah dan Hijriah
Makna Kata Kilah dan Tukas
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan
Kata Bahasa Indonesia
Penulisan Kata yang Benar
Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat
Kata Si dan Sang
Pemenggalan Kata

 

Kamis, 14 Juli 2016

Makna Kata Hijrah dan Hijriah


Kata hijrah yang digunakan dalam kalimat seperti

Tahun baru Hijrah jatuh pada tanggal 14 Agustus 1988 

dan

Tahun 1408 Hijrah akan kita tinggalkan.

tidaklah tepat.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kita tidak menemukan kata hijrah dengan makna 'nama tarikh Islam', tetapi yang kita temukan makna (1) pemutusan pertalian Nabi Muhammad saw. dengan suku bangsa di Mekah (Nabi Muhammad saw. meninggalkan Mekah, berpindah ke Medinah)' dan (2) 'mengungsi dan berpindah'. Di dalam bahasa Arab cara yang digunakan untuk membentuk adjektiva yang bermakna berhubungan, berkaitan, bertalian dengan kata dasarnya, adalah dengan menambahkan akhiran --iy (ya nisbah) dan --iyah pada nomina.

Jika kata dasarnya berupa nomina yang tergolong maskulin (muzakkar), akhiran yang digunakan umumnya akhiran i. Kata Masih, Malik, dan Iraq, jika diberi akhiran yang menyatakan nisbah, masing-masing menjadi Masihi (Masehi) yang berarti (1) 'yang mengikuti Isa Almasih' dan (2) 'perhitungan tanggal yang berdasarkan kelahiran Almasih'; Maliki yang berarti 'pengikut atau mazhab yang didasarkan atas Imam Malik', Iraqi yang berarti 'orang yang berbangsa Irak'.

Kata dasar feminin (muannas) dijadikan adjektiva dengan pengimbuhan akhiran -iah. Kata hijrah, misalnya, menjadi hijriah, yakni nama tarikh Islam yang didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw.; fitrah menjadi fitriah 'yang berkaitan dengan fitrah'.

Di samping itu, terdapat pula kata bentukan dengan akhiran -iah, yang dibentuk dari kata dasar maskulin. Misalnya, Muhammad, Islam, khilaf, dan imsak menjadi Muhammadi(y)ah 'yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw.; Islamiah 'yang berhubungan dengan agama Islam'; khilafiah 'yang berkaitan dengan khilaf (perbedaan pendapat)'; imsakiah 'yang berkaitan dengan imsak.'

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa penggunaan kata hijrah yang mengacu ke penanggalan yang didasarkan pada berpindahnya Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Madinah tidak tepat. Bentuk yang tepat untuk itu adalah hijriah. Jadi, kalimat contoh di atas seharusnya

Tahun baru Hijriah jatuh pada tanggal 14 Agustus 1988 Masehi 

dan

Tahun 1408 Hijriah akan kita tinggalkan.



Baca juga:
Makna Kata Acuh dan Tayang
Makna Kata Kilah dan Tukas
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan

Makna Kata Acuh dan Tayang

Kata acuh, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), berarti 'peduli, mengindahkan'. Kata acuh lebih sering muncul dalam bentuk tidak acuh, acuh tak acuh, dan tidak mengacuhkan. Dalam percakapan tidak resmi, pemakaian kata acuh dengan nada tertentu sering kali justru sama maknanya dengan tidak acuh. Demikian pula kata peduli dan tahu, jika diucapkan dengan intonasi tertentu, maknanya sama dengan tidak peduli dan tidak tahu. Dalam bahasa tulis pemakaian seperti itu hendaklah dihindari, apalagi jika diingat bahwa tanda-tanda yang melambangkan intonasi yang dimaksud tidak tersedia. Wacana (1) berikut ini memuat pemakaian kata mengacuhkan yang tidak tepat, sedangkan wacana (2) memuat pemakaiannya yang tepat.

(1) Didi diperingatkan oleh gurunya agar tidak berisik. Dia mengacuhkan saja peringatan itu dan terus bercakap dengan temannya.
(2) Di tikungan itu sering terjadi kecelakaan. Hal itu seharusnya dapat dihindari jika para pengemudi mau mengacuhkan rambu-rambu yang ada.

Kata lain yang menjadi sinonim mengacuhkan adalah menghiraukan, memperhatikan, memedulikan, dan mengindahkan.

Akhir-akhir ini dipakai kata tayang, menayangkan. Sebetulnya bukanlah kata yang baru sebab sudah lama tercatat dalarn KUBI. 'Menayangkan' artinya (1) 'membawa sesuatu di telapak tangan' dan (2) 'mempersembahkan (dalam arti mempertunjukkan film dan sebagainya)'. Dalam beberapa bahasa daerah pun ada kata tayang, misalnya, dalam bahasa Alas di Daerah Istimewa Aceh dengan arti 'melemparkan benda dengan sekuat-kuatnya sehingga benda itu melayang-layang'. Tampaklah di sini adanya perkaitan arti. Dengan adanya kata itu, di samping memutar film, menyajikan film, mempersembahkan film, kita dapat juga mengatakan menayangkan film. Keuntungan lain, kita dapat mengatakan menayangkan salindia (slide) dan ini lebih tepat daripada memutar salindia.



Baca juga:
Makna Kata Kilah dan Tukas
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan

 

 



Rabu, 13 Juli 2016

Makna Kata Kilah dan Tukas



Jika sebuah kata tidak dipahami maknanya, pemakaiannya pun mungkin tidak akan tepat. Hal itu akan menimbulkan keganjilan, kekaburan, dan salah tafsir. Berikut ini akan dibahas kata kilah dan tukas yang sering dipakai secara tidak tepat.

Kata kilah disamakan dengan kata kata atau ujar sehingga berkilah dianggap sama dengan berkata atau berujar dan kilahnya dianggap sama dengan katanya atau ujarnya. Hal ini terlihat dalam wacana berikut.

(1) Kemarin Tuti dibelikan baju baru oleh Doni, kakaknya. Dengan senang hati dia menerimanya. "Terima kasih," kilahnya kepada Doni.

Kalau kita membuka Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), akan kita temukan kata kilah dengan makna 'tipu daya' atau 'dalih'. Jadi, pemakaiannya seperti pada wacana (1) tidaklah tepat. Berkilah artinya 'alasan untuk membantah pendapat orang'.
Perhatikan contoh berikut.

(2) Dalam pertandingan semalam, penampilannya begitu buruk sehingga dia mengalami kekalahan telak. Atas kekalahannya itu dia berkilah bahwa suhu udara sangat rendah sehingga gerakan tubuhnya terhambat. 
(3) Banyak soal ujian yang tidak dapat dikerjakannya. Kali ini tampaknya persiapannya kurang. "Saya tidak dapat belajar. Rumah saya terlalu bising," kilahnya. 

Dalam contoh (2) suhu udara dijadikan alasan kekalahan untuk menolak adanya pendapat yang lain. Demikian juga dalam contoh (3), kebisingan di rumah dijadikan alasan kurangnya persiapan untuk menutupi kekurangan lain yang sebenarnya.

Kata berdalih merupakan sinonim berkilah. Berdalih artinya 'mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatan'. Berikut ini contoh pemakaiannya.

(4) Ucok ingin menjual sepedanya untuk membayar utang. Kepada ibunya dia berdalih bahwa sepedanya itu sudah tidak baik lagi jalannya. 

Kata tukas juga sering digunakan dengan pengertian keliru. Kata tukas sering diartikan 'menjawab atau menanggapi perkataan orang dengan cepat' seperti contoh berikut:

(5) Edi bertanya kepada Pak Amir, "Pak, apakah persoalan ini perlu dibicarakan dengan Pak Hasan atau,.." 
"Tidak perlu lagi," tukas Pak Amir. 


Arti kata tukas yang benar, seperti tercantum dalam KUBI, adalah 'menuduh tidak dengan alasan yang cukup'. Berikut ini contoh pemakaiannya.

(6) Retno mendapatkan tasnya telah terbuka dan dompet berisi uang serta surat-surat penting telah lenyap dari sana. Dengan pikiran kalut dia menengok ke kiri ke kanan dan melihat orang yang rasa-rasanya selalu mengikutinya. "Pasti engkaulah yang mengambil dompetku," tukasnya kepada orang itu. 

Selain itu, ada pula kata tukas yang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti 'mengulangi lagi' (permintaan, jawaban, panggilan, dan sebagainya). Berikut ini contoh pemakaiannya.

(7) "Jangan berhujan-hujan. Nanti Ibu marah," kata Titi kepada adiknya. "Tidak peduli," jawab adiknya. "Nanti kau dihukum," kata Titi lagi. "Tidak peduli," tukas adiknya.



Baca juga:
Nuansa Makna dalam Kata
Kata Ranking dan Langganan
Kata Bahasa Indonesia
Penulisan Kata yang Benar
Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat
Kata Si dan Sang
Pemenggalan Kata

Nuansa Makna dalam Kata

Dalam membuat kalimat, terutama jika kita menulis, diperlukan kecermatan dalam memilih kata (diksi). Untuk kecermatan pemilihan kata, selayaknyalah kita memperhatikan adanya kata-kata yang mengandung makna yang hampir sama. Berikut ini adalah senarai kata yang bernuansa makna, yang untuk perbandingan dipasangkan dengan padanan bahasa Inggris.

IndonesiaInggris
laik, layak worthy
pantas proper
patut fitting; fair; decent
sesuai suitable
wajar natural
adi- super-
istimewa extraordinary
prima prime
ultra- ultra-
unggul superior; excellent
utama prominent
abadi perpetual
amerta immortal
awet durable
baka everlasting
kekal eternal
magun; permanen permanent
tetap constant
melompat to jump
meloncat to hop
melonjak to Ieap
menanjak, melandai to slope
mendaki to climb, to scale
perencanaan planning
rencana plan
jadwal schedule
program program
agenda; acara agenda
rancangan; desain design
hampa; vakum vacuum
lompong void
kosong empty
blanko; kosong blank
luang free
lowong; lowongan vacant; vacancy
nihil nil; nought
undang-undang dasar constitution
undang-undang legislation
tata; orde order
hukum law
kaidah rule
dalil proposition; thesis; theorem
aturan regulation
norma norm
patokan; kriteria criterion
sistem system
pelengkap; aksesori accessory
aparat; radas apparatus
peranti appliance
perkakas; alat implement; tool
perabot utensil
perlengkapan equipment
instrumen instrument
gawai device
sarana means
prasarana infrastructure
suku part
acang gadget





Baca juga:
Kata Ranking dan Langganan
Kata Bahasa Indonesia
Penulisan Kata yang Benar
Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat
Kata Si dan Sang
Pemenggalan Kata

Kata Ranking dan Langganan


Kata ranking sering digunakan pada kalimat seperti berikut.

(1) Di kelasnya dia menduduki ranking kedua.

Kata ranking di sini diartikan 'peringkat'. Pengertian ini tidak tepat. Dalam bahasa Inggris kata ranking sesungguhnya berarti 'pemeringkatan'. Perneringkatan adalah proses menyusun urutan berdasarkan tolok ukur tertentu. Kedudukan dalam urutan itu disebut peringkat atau rank.
Dalam kalimat (1) di atas kita seharusnya tidak menggunakan kata ranking, tetapi peringkat. (Kata rank yang sepadan dengan peringkat tidak kita serap).

Kalimat itu perlu diubah menjadi:

(1a) Di kelasnya dia menduduki peringkat kedua.

Kata langganan sering digunakan dalam katimat seperti berikut.

(2) Saya ingin langganan majalah itu. 

Kata langganan bukanlah verba, melainkan nomina. Verbanya adalah melanggani atau berlangganan. Kalimat (2) itu dapat diperbaiki menjadi (a) ataupun (b).

(2a) Saya ingin melanggani majalah itu. 
(2b) Saya ingin berlangganan majalah itu. 

Kata langganan dapat digunakan seperti dalam kalimat

(3) Uang langganan dapat dibayarkan sebulan sekali. 



Baca juga:
Kata Bahasa Indonesia
Penulisan Kata yang Benar
Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat
Kata Si dan Sang
Pemenggalan Kata

 

 

 

 

 

Senin, 11 Juli 2016

Pemakaian Bentuk Kata yang Tepat

Imbuhan pada sebuah verba memberikan makna tertentu pada verba itu. Oleh sebab itu, pemakalannya pun harus dilakukan secara cerrnat. Berikut ini beberapa contoh pemakaian imbuhan, dalam hal ini akhiran, yang perlu diperhatikan.

(1) Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan iman.

Akhiran -kan pada kata diberikan seharusnya tidak muncul. Kalimat itu seharusnya berbunyi:

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan iman.

atau

Semoga kekuatan iman diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Bandingkan dengan kalimat-kalimat berikut.

(2) Saliman memberi adiknya buku baru.
(3) Adiknya diberi (Saliman) buku baru. 
(4) Saliman memberikan buku baru kepada adiknya. 
(5) Buku baru diberikan (Saliman) kepada adiknya. 

Perhatikan pula penggunaan akhiran -kan pada contoh berikut.

(6) Gubernur menugaskan walikota untuk menyelesaikan masalah itu. 

Bentuk menugaskan tidak tepat digunakan dalam kalimat di atas. Bentuk yang seharusnya digunakan ialah menugasi sehingga kalimat perbaikannya menjadi seperti berikut.

(6a) Gubernur menugasi walikota untuk rnenyelesaikan masalah itu. 

Agar lebih jelas perhatikan kalimat-kalimat berikut.

(7) la menugaskan penyusunan buku itu kepada saya.
(8) Penyusunan buku itu ditugaskan kepada saya.
(9) la menugasi saya (untuk) menyusun buku.
(10) Saya ditugasi (untuk) menyusun buku.

Dari contoh-contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa menugaskan berarti 'menjadikan tugas', sedangkan menugasi berarti 'memberi tugas kepada'.



Baca juga:
Manakah yang benar: mempercayai atau memercayai?
Singkatan dan Akronim
Di mana, yang mana
... di ... sebagai Awalan atau Kata Depan (Preposisi)
Izin atau Ijin - Kata yang Sering Salah Eja